Sepasang Mata yang Mendamba

CERPEN S. PRASETYO UTOMO

MASIH terlalu pagi. Samar-samar Broto mendengar perbincangan di pendapa padepokan. Ia meninggalkan kamar, mendekati pendapa.

Istrinya, Laksmita, duduk berhadapan dengan gadis bermata seindah bidadari. Orang memanggilnya Wulan, dari nama bidadari yang turun di telaga dan kehilangan selendangnya untuk kembali ke kahyangan: Nawang Wulan.

Sepasang mata Wulan bulat, jeli, bening dan teduh. Broto bimbang memasuki pendapa. Ia tak menduga sama sekali, bila yang bertamu ke rumahnya adalah gadis bermata sejernih bidadari.

Bukankah Wulan sudah menjual rumah warisan orangtuanya? Untuk apa lagi dia datang ke desa lereng Gunung Merapi ini?

Dalam perbincangan itu, sesekali Wulan memandangi perut Laksmita yang hamil empat bulan. Wulan tampak sangat terpikat dengan kandungan Laksmita. Sesekali ia memandangi perut Laksmita yang membuncit.

Broto tak dapat menyembunyikan rasa kaget, melihat Wulan kembali mengunjungi padepokannya. Dua bulan lalu Wulan datang ke padepokan, menjual rumah warisan orangtuanya. Broto yang membeli rumah dan pekarangan itu.

Waktu itu Wulan meneguhkan pendiriannya untuk kembali ke ibu kota, meninggalkan adik perempuannya yang idiot di padepokan. Dia ingin mengembangkan bisnis yang mulai ditekuninya. Lalu, kenapa ia kembali ke padepokan? Apa yang ingin dilakukannya kini?

“Boleh aku tinggal di padepokanmu?” pinta Wulan.

Dengan pandangan bimbang, Broto menukas, “Untuk apa?”

“Belajar menari,” kata Wulan, bersungguh-sungguh. “Aku seorang penari di masa kecil. Tentu bakat itu masih lekat dalam diriku. Kau terima aku belajar menari?”

“Lalu, bagaimana dengan bisnismu?”

“Aku tinggalkan.”

Broto belum bisa memahami keputusan Wulan untuk kembali ke daerah kelahirannya di lereng Gunung Merapi untuk belajar menari. Ia memandangi istrinya, meminta pertimbangan. Laksmita tersenyum-senyum. Memendam rahasia. Wulan tersipu-sipu.

“Dia mau dinikahi sang juragan,” kata Laksmita, pelan, dan meredakan emosi dalam nada suaranya. “Dia bertemu sang juragan dalam perjalanan pesawat ke ibu kota empat bulan silam. Rupanya sang juragan sangat berkesan dengan pertemuan itu, dan sering mengunjungi Wulan. Sampai akhirnya sang juragan melamarnya.”

Broto menahan kekagetan. Ia tak pernah menduga keputusan Wulan untuk menikah dengan sang juragan, seorang duda berumur separuh baya. Apa gadis bermata sebening bidadari itu sudah yakin dengan pernikahannya? Bukankah hanya empat bulan mereka saling kenal?

Tak sanggup Broto menduga perasaan Wulan. Ia hanya paham bila sekarang Wulan suka memandangi perut Laksmita yang membuncit, hamil anak kedua. Tak lama lagi Wulan bakal menjadi seorang istri dan ia tentu segera merindukan kehadiran anak-anak dari rahimnya.

Tetapi di dasar hati Broto tak paham, mengapa gadis secantik bidadari itu mau menikah dengan seorang duda setengah baya tanpa anak? Wulan bisa menikah dengan seorang perjaka dengan karier apa pun yang lebih cemerlang.
***
TIAP pagi Wulan selalu hadir ke padepokan setelah menikah dengan sang juragan. Ia mengendarai mobil mewahnya, meninggalkan rumah, dan menampakkan kegairahan setiap kali berlatih menari.

Ia menjelma Amba, putri yang teraniaya. Sama sekelai ia tak menampakkan sikap yang berbeda meskipun kini sudah menikah dengan sang juragan. Ia tinggal di rumah sang juragan. Tentu rumah yang sangat mewah.

Ia tetap menampakkan diri serupa bidadari, yang cemerlang sepasang matanya, bulat, dan memancarkan ketenangan.

Menjelang pementasan tari “Dewabrata Putra Dewi Gangga” yang dipergelarkan di hotel milik sang juragan, Wulan sudah mencapai puncak keindahan tari yang diinginkan. Tetapi Wulan seperti tidak pernah mencapai rasa puas untuk memerankan Amba.

Ia larut dalam gerak tari sebagai putri yang disia-siakan, dalam kobaran api dendam, dan cinta yang menyala-nyala. Ia masih tetap berlatih hingga larut malam, paling akhir meninggalkan padepokan yang senyap, berkabut, dan wingit lereng Merapi.

Wulan seperti ingin memasuki suasana lengang tengah malam itu, dan mencari pusat keheningan. Ia semakin sering membicarakan kandungan Laksmita yang kian membuncit, dan seperti ingin segera menjadi seorang ibu, yang memiliki anak dari perkawinannya dengan sang juragan.

Sepasang matanya seperti menebarkan rasa cemburu pada Laksmita.

Tengah malam itu Broto dan Wulan hanya berdua. Dari cahaya mata Wulan, Broto seperti menangkap pesan: perempuan itu ingin menyampaikan sesuatu permintaan. Tetapi permintaan itu dipendamnya.
***
LARUT malam, latihan tari pementasan “Dewabrata Putra Dewi Gangga” selesai dipergelarkan di pendapa padepokan. Wulan belum beranjak pulang.

Para penari lain mulai meninggalkan pendapa kembali ke kamar mereka di padepokan. Begitu pula dengan para penabuh gamelan, mereka mohon diri pada Broto, kembali ke rumah mereka di sekitar padepokan.

Dalam wajah mereka tak tergurat kelelahan, rasa kantuk atau bosan. Wulan seperti menanti semua orang meninggalkan pendapa dan dia cuma berdua dengan Broto.

Sepertinya Wulan memendam hasrat untuk berterus terang pada Broto. Di pendapa itu Broto terdiam, merokok, menenggak sisa kopi, menanti Wulan mengatakan sesuatu — mungkin sebuah rahasia kehidupan yang lama dipendamnya.

Broto memandangi Wulan yang tengah bimbang, dan sangat tertekan. “Kau menjadi suami yang bahagia. Istrimu mengandung anak kedua, dan kalian akan memiliki keturunan yang meneruskan kepemilikan padepokan ini.”

“Kau juga akan memiliki keturunan yang akan mewarisi hotel-hotel kalian.”

Lama tertunduk, Wulan mengangkat wajahnya. Memandangi Broto dengan kecemburuan. Menggeleng. “Suamiku mandul. Itulah sebabnya, istrinya terdahulu meninggalkannya.”

Wulan seperti kehilangan tenaga untuk bangkit dari duduk bersila di lantai pendapa. Ia serupa bidadari yang kehilangan selendang di tepi telaga, dan tak bisa kembali ke kahyangan.

Melangkah lambat-lambat ia memasuki mobilnya. Ia akan kembali ke rumahnya yang mewah dengan perasaan hampa. Ia seorang pengantin baru, yang mestinya memiliki kegairahan untuk kembali pulang ke rumah. Tetapi ia seperti digayuti rasa sunyi yang resah.

“Kalian tentu akan menemukan jalan keluarnya,” kata Broto, sebelum mobil mewah Wulan meninggalkan pelataran padepokan.
***
PERGELARAN tari “Dewabrata Putra Dewi Gangga” dipentaskan di hotel sang juragan yang baru selesai dibangun, mengundang begitu banyak tamu pejabat dan pengusaha.

Broto memerankan Dewabrata dan Wulan sebagai Amba. Broto sengaja mengajak Laksmita – yang kian membesar kandungannya – untuk hadir menyaksikan pergelaran tari itu. Laksmita duduk di deretan kursi terdepan. Tenang.

Laksmita merasa takjub dengan peragaan tari Wulan. Dia larut dalam dendam kesumat Amba yang tertampik Salwa dan Dewabrata.

Yang membuat Broto tercengang dan mesti menguasai diri adalah adegan Amba yang bersimpuh di kakinya, saat memohon dinikahi Dewabrata, setelah diusir kekasihnya, Salwa.

Dalam gladi bersih di hotel ini kemarin malam, Wulan sempat meminta pada Broto yang memerankan Dewabrata, dengan suara bergetar, hampir tak terdengar, “Tanamlah benihmu dalam rahimku, agar aku punya keturunan. Suamiku berkenan menerima benihmu, dan akan membesarkan anak kita sebagai ahli warisnya.”

“Tidak, Wulan. Aku tak bisa berkhianat pada Laksmita,” tukas Broto, dalam penolakan yang rapuh. Ia tak bisa mengingkari, daya tarik Wulan berlipat-lipat melampaui pesona istrinya. Tetapi ia tak mau terbakar gelora permohonan itu.

Kali ini, saat bersimpuh di kaki Broto, dalam gerak tari dan ekspresi wajah tanpa suara, Wulan seperti mengucapkan kembali permohonannya untuk memiliki anak dari benih Broto, melalui isyarat yang lembut.

Ia menahan lelehan tipis dari sudut matanya, agar tak menjelma isak tangis tertahan dalam panggung yang disaksikan penonton yang memenuhi ruang pergelaran hotel. Wulan memerankan permohonan hatinya sendiri, dalam busana dan tarian Amba.

Sepasang matanya mendamba. Tajam. Bercahaya. Menjerat lelaki yang dipandanginya.

Di deretan kursi penonton yang terdepan, Laksmita menyaksikan adegan tari yang diperagakan Wulan itu dengan menahan napas.

Ia bisa menangkap sepasang mata yang mendamba dalam isyarat gerak tari Wulan. Bergeletar sekujur tubuhnya. Kandungannya yang membesar bergejolak meronta-ronta.  ***

Pandana Merdeka, Maret 2020

S. Prasetyo Utomo,  menyelesaikan program doktor Ilmu Pendidikan Bahasa di Universitas Negeri Semarang dengan disertasi “Defamiliarisasi Hegemoni Kekuasaan Tokoh Novel Kitab Omong Kosong Karya Seno Gumira Ajidarma”.  Menerima Anugerah Kebudayaan 2007 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk cerpen “Cermin Jiwa” yang dimuat Kompas, 12 Mei 2007. Menerima penghargaan Acarya Sastra 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Naskah yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain.

Lihat juga...