Tingkat Konsumsi Tinggi, Sektor Perikanan Gerakkan Ekonomi di Sikka

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Masyarakat Kabupaten Sikka tergolong gemar mengkonsumsi ikan. Hal ini terlihat dari banyaknya penjual ikan hingga ke desa-desa yang hampir setiap pagi dan sore hari, menjajakan ikan kepada masyarakat menggunakan sepeda motor.

Selain penjualan ikan dalam jumlah besar di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Alok di kota Maumere, kabupaten Sikka, provinsi Nusa Tenggara Timur, ikan pun dijual di berbagai pasar tradisional seperti pasar Alok, Tingkat, Wuring, dan Wairotang.

“Ikan juga dijual pedagang ke desa-desa serta pasar Geliting, Kangae, Nangahure, Magepanda dan Paga di luar kota Maumere.T ingkat konsumsi ikan di kabupaten Sikka sangat besar,” sebut Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, kabupaten Sikka, provinsi NTT, Paulus Bangkur, Senin (23/3/2020).

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) kabupaten Sikka provinsi NTT,  Paulus Bangkur, saat ditemui, Senin (23/3/2020). Foto: Ebed de Rosary

Paul sapaannya menyebutkan, tingkat konsumsi ikan di kabupaten Sikka sebesar 59,19 per kapita per tahun sementara standar nasional hanya 54 per kapita per tahun.

Jika dilihat kata dia, maka tingkat konsumsi masyarakat di Sikka sangat tinggi sehingga tidak heran harga ikan pun menjadi lebih mahal dan banyak ikan dari kabupaten Flores Timur dijual di kabupaten Sikka.

“Tingginya konsumsi ikan tentunya berdampak kepada peningkatan pembelian dan korelasinya terhadap pendapatan nelayan serta pedagang itu sendiri. Di Sikka sendiri permintan investasi dari perusahaan perikanan setiap tahun selalu ada,” sebutnya.

Paul mengatakan, nelayan di kabupaten Sikka sangat potensial untuk menggerakkan perekonomian di daerah ini sehingga Dinas Kelautan dan Perikanan pun membangun fasilitas penunjang berupa dermaga, 3 pabrik es dan 3 cold storage serta kolam labuh bagi perahu-perahu nelayan.

Selama 10 tahun terakhir sebutnya, ada peningkatan produksi ikan yang sangat siginfikan dimana banyak ikan pelagis dan demersal yang lebih banyak dikonsumsi masyarakat lokal.

“Sektor perikanan sangat berpotensi menggerakan perekonomian masyarakat di kabupaten Sikka. Banyak investor pun menanamkan modalnya sehingga bisa menyerap tenaga kerja lokal,” ucapnya.

Untuk tahun 2019 kata Paul, total produksi perikanan sebanyak 19.287,3 ton dengan pendapatan sebesar Rp.351,82 miliar. Sementara bukan ikan sejumlah 386,63 ton dengan pendapatan Rp.24,22 miliar.

Sementara itu, H. Mahmud, salah seorang nelayan yang ditemui di TPI Alok Maumere mengakui, permintaan ikan memang sangat tinggi namun saat musim ikan layang dan tongkol melimpah, harganya pun anjlok dan pabrik ikan tidak membeli.

Menurutnya, melimpahnya ikan layang dan tongkol saat bulan Desember hingga Maret membuat harga ikannya sangat murah, dan nelayan pun terpaksa menjual karena tidak bisa dibekukan.

“Kalau ikan melimpah terpaksa kami jual dengan harga murah karena pabrik juga tidak mau menampungnya. Pabrik hanya menampung ikan tongkol, cakalang dan tuna yang berukuran besar saja sementara ikan selar, layang dan anak tongkol tidak dibeli,” tuturnya.

Lihat juga...