Bengkel Misi Maumere, Kembangkan Kebun Didik Petani Muda

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Sektor pertanian di kabupaten Sikka, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), selama ini belum digarap secara maksimal agar bisa memberikan nilai tambah dan kesejahteraan bagi para petani.

Selain itu, belum banyak anak muda yang terjun ke sektor pertanian dan menjadi petani karena masih menganggap menjadi petani tidak memberikan jaminan kesejahteraan sehingga lebih memilih bekerja di kantor pemerintahan usai menamatkan kuliah.

“Sektor pertanian di Flores termasuk di kabupaten Sikka sangat menjanjikan dan bisa memberikan kesejahteraan. Kami ingin mendidik anak-anak muda menjadi petani sukses,” kata A. Dian Setiati, pengelola Bengkel Misi Keuskupan Maumere, kabupaten Sikka, NTT, Senin (6/4/2020).

Kepala Bengkel Misi sekaligus GM PT Langit Laut Biru Keuskupan Maumere Kabupaten Sikka, NTT, A. Dian Setiati saat ditemui di tempat kerjanya, Senin (6/4/2020). Foto: Ebed de Rosary

Dian sapaannya, mengatakan, tanah kosong di belakang bengkel misi seluas kurang lebih seperempat hektar yang tidak dipergunakan olehya, dibersihkan lalu dijadikan sebagai kebun contoh.

General Manager PT. Langit Laut Biru ini pun ingin mendidik anak-anak muda agar mencintai sektor pertanian mengingat kebutuhan pangan saat ini sangat besar, apalagi di tengah mewabahnya virus Corona seperti sekarang.

“Saya berpikir bagaimana agar lahan yang tersisa di belakang bengkel misi ini bisa diberdayakan. Selain itu lahan ini juga untuk dijadikan kebun contoh supaya bisa mengedukasi anak muda agar jangan meninggalkan pertanian,” tuturnya.

Bengkel Misi di bawah pengelolaan Dian juga diarahkan mengerjakan holtikultura agar seimbang selain usaha perbengkelan, baik bengkel kayu dan bengkel mesin yang telah lama ada.

Dedauanan dari pepohonan yang ada di sekeliling areal Bengkel Misi ini pun dikumpulkan dan dijadikan pupuk organik karena di kebun contoh ini, sebut perempuan asal Jawa Tengah ini, semuanya serba organik.

“Ada pisang, pepaya, talas, buah naga, ubi, lombok, terong, nanas, melon, semangka dan lainnya. Kami juga menanam bunga agar menarik serangga untuk penyerbukan atau pembuahan,” jelasnya.

Di tengah wabah virus Corona, kata Dian, ketahanan pangan sangat diperlukan sehingga bila masyarakat bisa menanam sendiri memanfaatkan lahan yang dimiliki, maka tidak akan kelaparan.

Semua tanaman sayuran buah-buahan organik tersebut terangnya, dijual kepada masyarakat dan terkadang juga ada wisatawan asing yang sering datang membeli.

“Kami usahakan mengajarkan petani untuk menanam hasil pertanian yang bernilai tinggi sehingga bisa memberikan nilai tambah bagi petani. Kami mengajarkan menanam sayuran dan buah-buahan secara organik,” jelasnya.

Stefanus Yofrando dan Petrus Roi Bahesi, dua anak muda yang sedang menyiram tanaman saat ditanyai mengaku senang, bisa belajar pertanian di kebun contoh milik Bengkel Misi Keuskupan Maumere karena mendapatkan ilmu pertaian organik.

Keduanya mengaku akan mengembangkan ilmu yang diperoleh setelah mahir. Mengingat banyak sekali lahan pertanian di kabupaten Sikka yang masih bisa diolah dan ditanami produk pertanian yang bernilai jual tinggi.

“Selain belajar pertanian organik, kami juga diajari cara mengolah daun kelor menjadi teh yang bernilai jual tinggi. Ternyata daun kelor yang selama ini tumbuh dan hanya bermanfaat untuk dikonsumsi sendiri bisa dijual dengan harga tinggi,” ungkap Stefanus.

Petrus juga mengaku senang bisa belajar pertanian organik sehingga membuatnya bisa mendapatkan ilmu dan ingin mengajarkan kepada para petani lain di wilayahnya.

“Banyak petani di Sikka yang masih hidup pas-pasan. Padahal bila dikelola dengan baik maka sektor pertanian bisa membuat hidup petani menjadi lebih sejahtera,” tuturnya.

Lihat juga...