Beralih Produksi APD, Butik Reena Kebanjiran Order

Editor: Makmun Hidayat

PURWOKERTO — Pandemi COVID-19 membuat banyak usaha yang terseok-seok, salah satunya adalah usaha butik. Mendekati bulan Ramadhan, biasanya butik sedang ‘panen’, namun sekarang kondisinya justru sangat sepi.

Tak mau terpaku dalam usaha butik yang lesu, Meyreni, pemilik Butik Reena yang berlokasi di Kompleks Kebondalem Purwokerto ini, berinisiatif untuk beralih memproduksi Alat Pelindung Diri (APD) berupa baju. Baru tiga minggu berjalan, ia sudah kebanjiran pesanan, termasuk dari luar kota.

“Awalnya, saya membuat APD hanya untuk kerabat, kebetulan beberapa saudara ada yang menjadi dokter. Mereka mengeluh minim APD, sehingga saya buatkan, toh butik juga sedang sepi,” tutur Meyreni, Selasa (7/4/2020).

Pemilik Butik Reena, Meyreni, Selasa (7/4/2020) di butik. -Foto: Hermiana E. Effendi

Melihat perkembangan penyebaran COVID-19 yang semakin masif dan minimnya APD untuk para tenaga medis, Meyreni akhirnya berpikir untuk memproduksi APD dalam jumlah besar.

Ia membuat tiga jenis APD berdasarkan ketebalan kain yang digunakan, yaitu kain jenis suspon bound dengan ketebalan 60 gsm (gram senti meter), 75 gsm dan 100 gsm. Harganya pun bervariasi, untuk APD yang 60 gsm harganya Rp65.000 per buah, untuk APD 75 gsm, harganya Rp95.000 dan yang 100 gsm harganya kisaran Rp100.000 hingga Rp120.000 per buah.

“Pada awal produksi, bahan baku masih murah dan mudah diperoleh, sekarang sudah bertambah mahal dan pembelian juga dibatasi, sementara pemesanan APD bertambah banyak,” katanya.

Dalam satu hari, Meyreni bersama karyawannya bisa memproduksi APD hingga 100 buah lebih. Pesanan APD sebanyak besar dari para donatur yang ingin menyumbang APD, kemudian dari beberapa dinas untuk pelindung diri bagi pekerja di lapangan, serta da juga pemesanan dari luar kota.

“Kemarin kita sempat kirim APD ke Yogyakarta, tetapi sekarang tidak bisa kirim lagi, karena untuk pengiriman saya pakai bus dan sekarang bus yang beroperasi sudah semakin sedikit. Selain itu, pembelian bahan baku juga dibatasi, jadi untuk sementara hanya bisa memenuhi pesanan dari sekitar Banyumas saja,” jelasnya.

Terkait harga bahan baku yang mengalami kenaikan tiga kali lipat tersebut, Meyreni mengaku, akan melakukan penyesuaian harga, tetapi kenaikannya tidak sampai tiga kali lipat. Kelebihan lain dari APD produksi Meyreni yaitu sudah dilengkapi dengan sarung kaki.

“Produksi APD ini tidak semata-mata untuk bisnis, tetapi kita juga ingin membantu memenuhhi kebutuhan APD. Sehingga kalau toh harganya naik, juga tidak sampai tiga kali lipat, seperti harga bahan bakunya, tetapi kita juga mengurangi keuntungan, sehingga harga tetap terjangkau,” kata Meyreni.

Salah satu karyawan yang menjahit APD, Sarwo (50) mengaku, meskipun ia sudah lama berprofesi sebagai tukang jahit, namun untuk membuat APD dibutuhkan ketelitian lebih. Karena semua bagian harus dipastikan tidak ada yang bolong atau terlewat jahitan.

Setelah selesai dijahit, kemudian dilakukan pengecekan beberapa kali untuk memastikan jahitan sempurna. Setelah itu disetrika menggunakan setrika uap untuk membunuh bakteri-bakteri yang menempel.

Lihat juga...