Bertus Manfaatkan Daun Kelapa jadi Aneka Kerajinan Tangan

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

MAUMERE — Kelapa, mudah sekali dijumpai di kabupaten Sikka provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan selama ini orang lebih banyak memanfaatkan daunnya untuk membuat janur. Ternyata daunnya juga bisa dianyam menjadi aneka kerajinan tangan yang memikat seperti topi, kap lampu, aneka wadah meletakkan makanann atau semacam piring.

“Kebetulan saya pernah tinggal dan bersekolah di Bali jadi melihat masyarakatnya menganyam lalu belajar,” kata Bertus Konsili, seorang pengrajin seni rupa di Maumere, kabupaten Sikka, NTT, Rabu (29/4/2020).

Bertus pun diminta oleh dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM kabupaten Sikka untuk menganyam berbagai aksesoris dari daun kelapa untuk dipajang dan dipergunakan di cafe Nimba milik kantor mereka.

Daun kelapa dipotong dan dengan pisau, disayat untuk memisahkan batangnya agar daunnya bisa dipergunakan untuk dibentuk.

“Kebetulan saya pernah sekolah Bali dan melihat orang menganyam jadi belajar dan sudah terbiasa. Pernah ada yang tawar untuk menganyam dari daun lontar tapi belum coba,” ungkapnya.

Bertus mengaku menganyam untuk hiasan atau dipergunakan sendiri saja dan hal ini sudah lama dilakukan termasuk dirinya mengajarkannya juga kepada 2 kelompok home schooling di kabupaten Sikka.

Dia mengaku sekolah di Gianyar Bali dan sempat menjadi guru di sekolah tersebut tetapi setelah sakit dan ijin berlibur ke Maumere tahun 2005 dirinya tidak kembali lagi.

“Saya seni ukir tetapi di sentra Jata Kapa membuat gambar motif sarung maka saya dipanggil membuat motif sarung. Kebetulan ada buat cafe jadi saya membantu menggarap pembuatannya,” jelasnya.

Bertus mengaku pernah membuat tugu ikan tuna di perempatan jalan di kota Maumere bersama teman-temannya. Dia memiliki kelompok seni beranggotakan 5 orang dengan spesialis lukis, membuat patung serta ukir.

Dia sudah terbiasa dan tergolong spesialis mengukir kayu dan pintu termasuk salib di kuburan.Juga mengukir tiang rumah termasuk rumah adat dengan motif sesuai pesanan.

“Saya pernah mengukir tiang rumah adat di Hewokloang dan di Ende. Saya di sentra tenun ikat Jata Kapa disuruh melukis motif tenun ikat agar bisa ditenun kembali,” ujarnya.

Bertus mengakui, untuk seni pasaran di kabupaten Sikka dan NTT belum terlalu baik dan masih jauh dibandingkan dengan Bali.Di NTT orang masih sebatas mengagumi belum sampai taraf membeli apalagi dengan harga mahal.

Kepala dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM kabupaten Sikka Yoseph Benyamin mengakui, dirinya sengaja merekrut Bertus agar bisa menganyam dan membuat aneka wadah untuk perlengkapan cafe Nimba.

Piring makan dari anyaman daun kelapa kata Yoseph yang nantinya akan dilapisi dengan daun pisang sementara gelasnya akan dibuat dari bambu sehingga semuanya menggunakan bahan alam.

“Kami rencanakan kafe ini nanti semuanya berbahan alam karena sesuai dengan bangunannya beratap daun kelapa dan dindingnya dari bambu.Kursi juga dari potongan kayu kelapa dan bambu,” terangnya.

Lihat juga...