Bulog NTT Akan Tambah Stok Beras dari Luar 17.000 Ton

KUPANG – Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Kantor Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) segera menambah stok sebanyak 17.000 ton beras dari luar daerah, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di provinsi berbasiskan kepulauan itu.

“Kami akan datangkan lagi sekitar 17.000 ton beras, sehingga persediaan beras kita lebih memadai untuk kebutuhan masyarakat di NTT,” kata Kepala Perum Bulog Kantor Wilayah NTT, Taufan Akib, di Kupang, Rabu (1/4/2020).

Ia menjelaskan, penambahan stok beras yang didatangkan dari luar daerah seperti dari Provinsi Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat ini untuk memastikan kebutuhan beras bagi masyarakat NTT memadai, di tengah merebaknya serangan virus Corona di berbagai daerah.

Ia menjelaskan, saat ini persediaan beras yang dimiliki Bulog NTT juga mencapai sekitar 21.000 ton, atau masih cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat hingga selama sekitar lima bulan.

“Selanjutnya dengan penambahan, stok beras kita sangat aman untuk kebutuhan selama sembilan bulan ke depan,” katanya.

Ia menjelaskan, penambahan pasokan beras tersebut akan disalurkan untuk memperkuat persediaan beras di masing-masing kantor cabang Bulog NTT, yang menyebar di 22 kabupaten/kota se-NTT.

Taufan menjelaskan, bahwa penyaluran beras untuk masyarakat dilakukan secara langsung ke pasar-pasar, pertokoan, maupun mitra Rumah Pangan Kita (RPK) yang sudah terbentuk sebanyak 2.600 unit.

Untuk saat ini, lanjut dia, pemasaran beras maupun bahan kebutuhan pokok lainnya melalui kegiatan operasi pasar murah ditiadakan untuk sementara, guna menghindari kerumunan warga karena dapat memicu penyebaran Covid-19.

“Sudah ada imbauan dari pemerintah terkait jaga jarak atau “social distancing”, karena itu kami lakukan upaya pencegahan dengan menghentikan sementara kegiatan operasi pasar murah,” katanya.

Ia menambahkan, dengan persediaan beras yang memadai ini, masyarakat NTT tidak perlu khawatir akan adanya ancaman kerawanan pangan dan jangan terpengaruh dengan fenomena “panic buying”. (Ant)

Lihat juga...