‘Covid Track’ Diharapkan Jadi Awal Perbaikan Industri Kesehatan Indonesia

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Diresmikannya aplikasi Covid Track yang merupakan hasil kolaborasi antara Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE), Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), diharapkan dapat menjadi titik awal bagi Indonesia untuk mengejar ketertinggalan di bidang pengobatan dan alat kesehatan.

Ketua Umum IDI, Dr. Daeng M. Faqih, menyatakan, bahwa industri obat dan alat kesehatan Indonesia jauh tertinggal dibandingkan negara lainnya.

“Sebagai contoh dalam industri obat, Indonesia tidak pernah punya teknologi untuk bahan baku obat. Begitu pula, untuk industri kimia intermediate pembuatan obat. Kita tidak punya,” kata Daeng Faqih saat zoom konpers, Kamis (9/4/2020).

Ia juga menyampaikan, dalam bidang alat kesehatan, dapat dilihat bahwa Indonesia tidak memiliki alat kesehatan canggih.

“Yang kita hasilkan itu hanya alat kesehatan sederhana. Untuk alat kesehatan, misalnya digital imaging, seluruhnya masih impor,” tandasnya.

Karena itu, dengan hadirnya kolaborasi yang melibatkan berbagai sektor untuk melakukan riset dan penelitian, diharapkan akan mampu memperkecil ‘gap’ yang ada saat ini.

“Bahkan kalau perlu, Indonesia harus bisa melampaui. Yang penting diingat, bahwa dalam proses ini membutuhkan kolaborasi. Tidak bisa dokter saja,” ujar Daeng Faqih lebih lanjut.

Hadirnya Covid Track, menurut Daeng Faqih, merupakan peningkatan dalam hal manajemen penanganan kasus, yang selama ini belum pernah diperkuat oleh teknologi aplikasi.

“Diharapkan ini akan jadi pemutus mata rantai penyebaran COVID 19 dengan mengfungsikan agregasi data pasien,” ucapnya.

Ia menjelaskan, dari agregasi data pasien ini akan ada tiga hal yang bisa didapatkan. Yaitu memungkinkan adanya sistem tracing yang lebih baik, perencanaan kebutuhan alat pelayanan kesehatan dan evaluasi tata laksana optimal pada pasien.

“Kalau sistem tracing baik, maka pencegahan berikutnya baik. Dan keamanan dokter juga baik. Dengan adanya data, maka perencanaan APD, ventilator maupun ruang isolasi dapat dilakukan dengan baik,” paparnya.

Daeng Faqih menyatakan bahwa dirinya sangat optimis akan hadirnya teknologi dalam membuat penanganan dan pencegahan penyebaran COVID 19 menjadi lebih baik.

Ketua BPPT, Hammam Riza, menyampaikan agar aplikasi ini dapat memberikan manfaat optimal, dibutuhkan data yang banyak.

“Karena itu, walaupun aplikasi ini sebenarnya ditujukan bagi para dokter dan pelayanan kesehatan, tapi kami membuka juga untuk pengguna umum,” ujarnya.

Ia meminta pihak IDI bisa mengimbau kepada rekan sejawat, agar mau mengajak para pasien, terutama yang dalam pengawasan, untuk mengunduh aplikasi ini.

“Sehingga, bisa termonitor. Kalaupun nanti positif, kita sudah tahu pergerakannya ke mana berdasarkan data yang terekam dalam sistem,” pungkasnya.

Lihat juga...