Jelang Ramadan, Petani Blewah di Bekasi Siap Panen

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BEKASI – Mayoritas petani asal Indramayu, Jawa Barat, beralih tanaman dari padi ke buah-buahan segar, seperti melon dan blewah, diprediksi panen sekitar Ramadan, akhir April.

Waski, petani asal Desa Temple, Kecamatan Lelean, Kabupaten Indramayu, sengaja memilih menyewa lahan di wilayah kawasan Villa Permata, Sumberjaya, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi untuk ditanami blewah sebagai persiapan menyambut bulan suci Ramadan 1441 H.

“Saya asli Indramayu, sengaja menyewa lahan di sini. Karena untuk transportasi lebih murah. Jika di Indramayu, harga lebih murah karena dipotong biaya transportasi biasanya,” ujar Waski (60) kepada Cendana News, Senin (6/4/2020).

Dikatakan, persiapan menanam buah blewah dibutuhkan waktu tiga bulanan dari awal garap hingga panen. Sehingga masa tanamnya disesuaikan dengan waktu jadwal memasuki bulan suci Ramadan. Namun sebelumnya, lahan tersebut ditanami sayuran seperti oyong, terong atau cabai.

“Tanaman buah blewah, diperkirakan memasuki bulan suci Ramadan nanti sudah panen. Tinggal menghitung hari lagi. Waktu tanamnya pun sudah dijadwalkan,” paparnya ditemui saat menjaga kebun.

Menurutnya, blewah tidak mengenal musim apa pun, baik hujan atau pun tidak. Sudah dipastikan panen akan dilakukan saat memasuki bulan Ramadan nanti. Saat ini, hanya tinggal menjaga agar buah tidak dimakan tikus.

Namun demikian Waski mengaku khawatir, akibat wabah Corona yang masih menyebar, memberikan dampak negatif bagi kalangan masyarakat. Terutama bagi yang berada di tingkat sosial menengah ke bawah.

Terlebih lagi sejak diberlakukannya kebijakan social distancing atau pembatasan sosial, tentunya menjadi pembatas ruang gerak masyarakat untuk melakukan aktivitas rutin mereka sehari-hari.

“Petani ada rasa resah, khawatir penjualan menurun drastis akibat penyebaran virus Covid-19 yang masih meluas. Hingga berdampak pada penjualan,” tandasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, untuk harga biasanya harga buah blewah dijual seharga Rp 7.000 per kilogram.

Sedangkan modal tanam di lahan lebih dari satu hektare tersebut mencapai Rp 40 juta. Modal itu pun bukanlah merupakan hasil tabungannya, melainkan hasil pinjaman dengan menggadaikan surat kendaraan bermotor miliknya.

Waski menggarap blewah bersama istri dan anaknya dengan sistem pinjaman dia mengaku khawatir tidak akan mampu mengembalikan jika kondisi saat ini tidak berubah. Apalagi jika akan mempengaruhi harga blewah.

Waski mengakui bahwa buah blewah tidak tahan lama dan cepat membusuk. Kondisinya berbeda dengan padi yang bisa tahan lama.

Kini, Waski hanya bisa berdoa dan berharap wabah Corona bisa segera ditanggulangi karena tahun lalu harga normal blewah dibeli pengepul Rp7000/Kg. Setelah blewah Waski dan anaknya akan terus menggarap lahan dengan ditanami cabai dan terong.

“Kami hanya berharap wabah Corona cepat berlalu dan hasil panen kami nanti bisa untuk menutupi kebutuhan keluarga kami,” pungkasnya.

Lihat juga...