Konsumsi Rutin Jamu Tradisional Berdayakan Ekonomi Kerakyatan

MENTOK – Pejabat Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengatakan konsumsi jamu atau ramuan tradisional selain mampu menjaga stamina tubuh juga akan berdampak pada pemberdayaan ekonomi kerakyatan.

“Di tengah berjangkitnya wabah virus corona yang terjadi saat ini, tubuh kita juga butuh stamina yang bugar, minum ramuan tradisional bisa menjadi alternatif, selain tetap mengutamakan pola hidup bersih dan sehat sesuai anjuran yang berlaku,” kata Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangka Barat, Bambang Haryo Suseno, di Mentok, Minggu.

Menurut dia, daerah itu memiliki banyak potensi alam berupa tumbuh-tumbuhan yang sejak dahulu sudah ada dan dipercaya mampu menyembuhkan banyak penyakit maupun menjaga stamina tetap bugar.

Ia mengatakan, beberapa macam rempah-rempah sudah sejak lama dimanfaatkan warga untuk dikonsumsi sehari-hari, seperti temulawak, jahe merah, lada putih, serai, pandan, sirih dan lainnya.

Menurut dia, dilihat dari jejak keluhuran budaya Nusantara, bangsa Indonesia memiliki tradisi turun menurun terkait dengan menjaga stamina kebugaran tubuh sebagai bagian dari cara meningkatkan imunitas jasmani.

Banyak minuman tradisional berkhasiat berbahan baku temulawak, jahe, serai, kencur, dan jenis rempah-rempah lain yang memiliki khasiat tinggi bahkan saat ini sudah banyak diadopsi menjadi obat dan ramuan penjaga stamina di negara lain.

“Masyarakat bisa kembali menggali informasi itu dan mulai membudayakan kembali warisan budaya yang sudah ada sejak lama di daerah negeri ini,” katanya.

Ia memberikan apresiasi kepada kelompok warga di Kecamatan Tempilang yang sudah berhasil mengembangkan produk minuman kemasan berbahan dasar rempah lokal.

Beberapa waktu lalu dirinya berkunjung ke UPPKS Rompi Sumbi Desa Buyankelumbi yang saat ini telah memproduksi dua produk khas daerah berupa temulawak dan jahe merah kemasan siap saji.

“Kami menilai potensi ini perlu terus dikembangkan, dua produk itu merupakan industri rumah tangga yang berada di bawah binaan Balai Penyuluhan KB Kecamatan Tempilang yang perlu mendapatkan apresiasi bersama karena telah memulai produksi hasil pengembangan tradisi dan budaya masyarakat lokal,” katanya.

Selain mampu mengolah menjadi minuman siap saji, kelompok tersebut juga telah mengikuti prosedur perizinan untuk produk makanan dan minuman, bermerk terdaftar dan memiliki label halal dari MUI.

Menurut Bambang, kehadiran produk khas lokal tersebut tepat untuk dikonsumsi pada musim penghujan, dimana tubuh membutuhkan stamina yang kuat.

Selain mendapatkan khasiat dari kekayaan rempah Nusantara, membudayakan minum ramuan tradisional warisan leluhur juga akan mendukung ekonomi kerakyatan sekaligus melestarikan tradisi hidup sehat berbasis kearifan lokal. (Ant)

Lihat juga...