Larangan Berkumpul Berdampak pada Sektor Usaha Kuliner

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Pencegahan penyebaran wabah Corona Virus Disease (Covid-19) dengan larangan berkumpul berimbas pada sektor usaha kuliner.

Eko Aeron, pemilik usaha jagung bakar di Jalan Sriwijaya, Enggal, Tanjung Karang, Bandar Lampung menyebut omzet penjualan menurun. Sebab jumlah warga yang datang berkurang dibanding kondisi normal.

Usai larangan berkumpul oleh kepolisian, Eko Aeron menyebut tetap berjualan. Buka sejak sore hingga malam selain jagung bakar ia juga menjual nasi goreng.

Berbeda dengan sebelum adanya larangan, ia mengaku menerima pesanan pelanggan yang memesan untuk dibawa pulang. Cara tersebut diakuinya mengurangi pelanggan yang akan nongkrong.

Imbas larangan berkumpul cegah virus Covid-19, Eko Aeron menyebut dalam semalam hanya menjual 30 jagung bakar. Jumlah tersebut lebih sedikit dibanding sebelumnya mencapai lebih dari 100 jagung bakar.

Sempat diimbau untuk tidak berjualan ia menyebut tetap berjualan dengan tidak menyediakan kursi untuk duduk. Cara tersebut dilakukan agar pembeli tidak duduk dalam waktu lama.

“Sistem penjualan yang saya lakukan dengan cara dibungkus sehingga tidak ada konsumen yang duduk dalam waktu yang lama, mereka yang duduk hanya menunggu pesanan lalu pulang ke rumah,” terang Eko Aeron saat ditemui Cendana News, Sabtu malam (4/4/2020).

Sistem penjualan dengan cara pemesanan lalu dibawa pulang menurutnya untuk mematuhi imbauan. Sejumlah pemilik usaha kuliner yang kerap berjualan di Jalan Sriwijaya bahkan memilih tutup. Sebab usaha yang berkonsep kafe tidak memungkinkan mendapatkan pelanggan jika tidak duduk dalam waktu lama di lokasi tersebut.

Eko Aeron yang tidak menyiapkan tempat duduk bahkan hanya melayani pembeli untuk pesanan dibawa pulang. Bagi sejumlah pelanggan yang sudah memiliki nomor teleponnya pesanan kerap dilakukan beberapa jam sebelum jagung bakar, nasi goreng diambil.

Ia beralasan masih tetap membuka usaha karena sumber penghasilan hanya berasal dari usaha jagung bakar dan nasi goreng.

“Pedagang yang tetap berjualan terutama makanan dengan catatan tidak menyediakan kesempatan untuk berkumpul,” cetusnya.

Munculnya jasa pengiriman makanan melalui aplikasi menurut Eko Aeron dimanfaatkan secara maksimal. Sebagian pelanggan nasi goreng, jagung bakar bisa memesan secara online.

Cara tersebut diakuinya lebih efisien sehingga pelanggan tetap bisa menikmati kuliner tanpa harus bepergian. Jika terpaksa pergi mengatur jarak tetap dilakukan.

Pedagang minuman sekuteng bernama Sumarni mengaku tetap berjualan. Pedagang minuman berbahan jahe, kacang tanah di Jalan Raden Intan itu mengaku lokasi berjualan bukan tempat berkumpul.

Sumarni, pedagang minunan sekuteng di Jalan Raden Intan Bandar Lampung tetap berjualan dengan alasan minuman yang dijual merupakan minuman penambah daya tahan tubuh, Sabtu malam (4/4/2020) – Foto: Henk Widi

Selain itu ia menyebut minuman sekuteng merupakan jenis herbal penambah daya tahan tubuh. Pembeli dominan memesan dengan cara dibungkus dan dibawa pulang.

“Semenjak larangan berkumpul dan agar menjaga jarak orang yang bepergian berimbas suasana lebih sepi,” cetusnya.

Minuman sekuteng menurutnya justru banyak dicari orang saat muncul virus Covid. Sebab dengan khasiat menghangatkan tubuh pesanan justru meningkat. Meski demikian ia mengaku tetap mengalami penurunan omzet sebab ia hanya berjualan hingga pukul 20.00 WIB malam.

Semula beromzet sekitar Rp800 ribu per hari ia menyebut kini hanya Rp500 ribu. Berkurangnya warga yang keluar saat akhir pekan terutama Sabtu malam ikut menurunkan omzetnya.

Lihat juga...