Makanan bagi Penumpang yang Dikarantina di Sikka Harus Lewat Posko

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Warga Kabupaten Sikka maupun anggota keluaraga dari penumpang KM. Lambelu sebanyak 173 orang yang sedang menjalani karantina terpusat di gedung Sikka Convention Center (SCC) dan aula Rumah Jabatan (Rujab) bupati Sikka dilarang membawa makanan dan lainnya ke lokasi tersebut.

Segala bantuan atau apa pun yang akan diberikan harus diserahkan ke Posko Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 kabupaten Sikka, provinsi NTT di lokasi kantor Dinas Kesehatan terlebih dahulu agar dicek dan akan diantar petugas Posko.

“Banyak yang mau memberikan bantuan makanan tetapi seharusnya disalurkan lewat Posko Covid-19 Kabupaten Sikka,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Sikka, NTT, Petrus Herlemus, Jumat (10/4/2020).

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Sikka, NTT, Petrus Herlemus saat konferensi pers di Posko Covid, Jumat (10/4/2020). Foto: Ebed de Rosary

Dalam konferensi pers di Posko Covid-19, Petrus mengatakan, segala makan minum para penumpang yang dikarantina dikoordinasi langsung oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sikka.

Makanan dari luar yang masuk ke lokasi karantina tegasnya, harus melalui Posko Covid-19 agar jangan sampai niat baik keluarga atau penyumbang membawa hal yang kurang baik.

“Kita akan melakukan cek terlebih dahulu agar jangan sampai makanan yang dibawa tidak cocok dengan kondisi mereka. Semua penumpang tersebut terus dalam pengawasan dan pemeriksaan kesehatan,” ungkapnya.

Untuk mencegah anggota keluarga atau warga berinteraksi dan masuk ke lokasi karantina kata Petrus, jalur jalan negara di depan gedung SCC sejak Kamis (9/4/2020) ditutup termasuk di rujab bupati juga pintu masuk dijaga ketat aparat keamanan.

Kemarin Kamis (9/4/2020) sempat ada beberapa orang laki-laki yang hendak keluar dari lokasi karantina di gedung SCC melalui pintu belakang namun dicegah sehingga pintu belakang juga ditutup dan dibangun pos penjagaan.

“Di bagian belakang SCC juga sudah ditempatkan posko kecil untuk penjagaan dan pelaku perjalanan yang mau keluar kemarin katanya mau membeli rokok. Dengan adanya karantina juga bisa membuat mereka tidak merokok,” ujarnya.

Posko Covid-19 Kabupaten Sikka kata Kepala Dinas Kesehatan Sikka ini, masih menunggu ABK KM. Lambelu menjalani pemeriksaan swab dan diketahui hasilnya, karena saat ini semua penumpang yang sedang dikarantina masuk dalam klaster pelaku perjalanan.

Dan apabila hasil swab ABK positif maka tegas Petrus, para penumpang akan dimasukkan ke dalam klaster Orang Tanpa Gejala (OTG) karena mereka kontak erat dengan para ABK tersebut.

“Pelaku perjalanan selama ini yang masuk ke kabupaten Sikka belum dilakukan rapid test. Tetapi mereka semua tetap dalam pemantauan Posko Covid-19,” ungkapnya.

Posko Covid-19 sebut Petrus, ingin melakukan satu kegiatan untuk mengalihkan kejenuhan penumpang yang dikarantina termasuk memasang sebuah televisi agar mereka bisa menonton berbagai acara hiburan dan lainnya.

Terkait Alat Pelindung Diri (APD) dirinya mengatakan, APD lengkap sekali pakai dibuang. Sementara APD sederhana yang dipakai seperti jas hujan setelah pakai disemprot disinfektan dan dijemur sehingga bisa dipakai lagi.

“Seperti petugas di bandara dan lainnya mereka juga tidak kontak langsung dengan pelaku perjalanan. Kita juga sedang membuat dua boks swab sehingga menghemat APD,” ungkapnya.

Petugas medis terangnya, akan berada di dalam boks dan hanya tangannya keluar untuk melakukan swab sehingga petugasnya di dalam dan pasiennya berada di luar maka APD bisa dipakai lagi.

Dokter Asep Purnama yang menangani pasien termasuk ODP dan PDP di RS TC Hillers Maumere mengatakan, melihat data kejadian di berbagai tempat lain, 80 persen kasus Covid-19 status ringan, 15 persen berat dan 5 persennya fatal.

Jadi, sebagian besar kasus sebenarnya ringan kata Asep dan diharapkan masih bisa ditangani di NTT namun demikian, Covid-19 ringan ini akan menjadi masalah jika menular dengan cepat.

“Ini akibat upaya pencegahan yang tidak dilakukan dengan benar dan konsisten. Dan inilah yang menjadi biang keladi permasalahan peningkatan kasus kematian karena lonjakan kasus yang mendadak dalam jumlah besar akan melumpuhkan layanan kesehatan kita di NTT,” tegasnya.

Asep meminta agar fokus melakukan upaya pencegahan, itu bisa dilakukan siapa saja sehingga harus terlibat dalam melakukan upaya ini, dan menjadikan momentum kasus positif pertama Covid-19 di NTT sebagai pemacu untuk semakin serius melakukan upaya pencegahan.

Lihat juga...