Manfaatkan Limbah Lewat Kreasi Tulang Daun

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Selain untuk pupuk kompos, daun ternyata juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan tangan. Melalui kreativitas dan keuletan, limbah tersebut mampu disulap menjadi karya yang cantik dan bernilai jual tinggi.

Kriya tulang daun ini, bisa diaplikasikan untuk berbagai jenis kerajinan mulai sebagai kanvas lukisan, gantungan kunci, hingga bunga unik nan cantik.

Guru besar Unnes, Prof Amin Retnoningsih yang menjadi penggagas berdirinya Rasendriya Kriya Tulang Daun Unnes. Lewat idenya, limbah daun tersebut bisa diolah menjadi karya yang unik, cantik dan menarik.

“Selama ini limbah dauh hanya dimanfaatkan untuk pupuk kompos atau dibakar, sementara daun yang masih hijau untuk pakan ternak. Melalui kriya tulang daun ini, kita bisa memanfaatkan daun, menjadi karya seni bernilai jual,” terangnya di kampus Unnes Sekaran Gunungpati Semarang, Rabu (8/4/2020).

Penggagas kreasi tulang daun, Prof Amin Retnoningsih , menjelaskan melalui kriya tulang daun bisa memanfaatkan daun, menjadi karya seni yang menarik dan bernilai jual tinggi di kampus Unnes Sekaran Gunungpati Semarang, Rabu (8/4/2020). -Foto Arixc Ardana

Dipaparkan, untuk membuat kriya tulang daun, bahan utama yang dibutuhkan tentu saja daun, dengan persyaratan memiliki tulang daun. “Tidak semua jenis daun bisa digunakan, namun harus dipilih yang mempunyai tulang atau kerangka daun yang keras. Hampir semua pohon berkayu keras bisa dipakai daunnya, misalnya daun sirsak,” jelasnya.

Dalam proses pembuatannya, daun tersebut direndam dengan kalium hidroksida (KOH) dan air. “Proses pembuatannya pun relatif mudah, modalnya hanya kesabaran dan ketelitian.Langkah awal, air dicampar bahan KOH dengan perbandingan 5 liter air ditambah KOH 3 sendok. Seluruhnya dimasukan kedalam panci. Selanjutnya daun yang telah dikumpulkan, dimasukkan dan direbus menggunakan api kecil,” paparnya mendetail.

Perebusan dengan KOH tersebut bertujuaan untuk meluluhkan selulosa dinding sel pada daun. Waktu yang diperlukan untuk merebus ini, tergantung dengan jenis daun yang digunakan. Semakin keras daun, dibutuhkan waktu lebih lama.

“Daun mahoni adalah jenis daun yang paling cepat waktu perebusannya, sekitar 15 menit. Kalau yang paling lama, daun durian. Itu bisa sampai satu setengah jam. Langkah selanjutnya, setelah daun melunak, sikat daun secara perlahan menggunakan kuas yang lembut, sehingga hanya tulang daunnya yang tersisa,” ungkapnya lebih lanjut.

Selanjutnya,proses pemutihan tulang daun. Caranya dengan merendam dalam campuran air dan kaporit, dengan perbandingan 1 banding 4 selama 15 menit.

“Setelah itu dijemur dengan cara diangin-anginkan. Setelah kering, selanjutnya tulang daun bisa dikreasikan sesuai keinginan,” tandasnya.

Prof Amin menuturkan, kerajinan kriya daun ini telah dipesan sebagai oleh-oleh dari berbagai negara. “Sudah dipesan dari negara seperti Thailand dan Singapura. Bahkan sudah ada di seluruh benua sebagai suvenir. Media promosi kita hanya melalui pameran,” ujarnya.

Pihaknya juga menggandeng para mahasiswa yang tertarik untuk ikut bergabung, selain sudah ada karyawan yang membantu.

“Saat ini produksi tulang daun kita mencapai 8 ribu per bulan. Kita buat untuk berbagai kreasi, yang paling diminati tentu lukisan kriya tulang daun.Kita berharap kerajinan tangan tulang daun ini akan terus berkembang dan semakin dikenal,” pungkasnya.

Sementara, salah seorang mahasiswa Felia Wahono mengaku tertarik belajar tentang pembuatan tulang daun. Terlebih bahan utama yang digunakan berupa daun, yang selama ini tidak memiliki nilai jual tinggi.

“Sejauh ini, belum banyak yang memanfaatkan daun sebagai karya seni. Seringkali daun-daun tersebut hanya dipandang sebagai sampah atau limbah, yang tidak dimanfaatkan lebih lanjut, namun melalui kriya tulang daun dapat disulap mennjadi karya yang menarik,” tuturnya.

Lihat juga...