Menjelang Festival Thingyan, Myanmar Lakukan Lockdown

Seorang pria berjalan melewati spanduk yang menutupi sisi gedung dengan tulisan imbauan untuk tetap berada di rumah menjelang penguncian (lockdown) 21 hari untuk menekan penularan virus corona (COVID-19), di Cape Town, Afrika Selatan, Kamis (26/3/2020). -Foto: ANTARA

JAKARTA – Pemerintah Myanmar, menerapkan kebijakan karantina wilayah atau lockdown pada 10 hingga 19 April. Hal tersebut menjadi upaya mencegah penyebaran COVID-19 menjadi lebih luas.

“Pemilihan durasi tersebut adalah karena liburan Thingyan terjadwal selama tanggal yang dimaksud,” kata Pelaksana Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Yangon, Sylvia Masri, Rabu (8/4/2020).

Festival Thingyan, disebut juga sebagai peringatan Tahun Baru Myanmar. Festival dirayakan selama empat hari setiap 13 sampai 16 April. Perayaan dilakukan dengan tradisi saling menyiram air. Dan jalan dan tempat umum, biasanya dipenuhi oleh masyarakat yang merayakannya. “Perintah lockdown pada masa liburan Thingyan dikeluarkan demi memastikan tidak ada masyarakat yang berkumpul, agar dapat memperkecil risiko penyebaran COVID-19,” jelas Sylvia.

Dia menyebut, sekolah di Myanmar ditutup hingga akhir April. Tempat-tempat umum juga ditutup atau dibatasi jam operasionalnya. “Arahan itu secara umum dipatuhi oleh masyarakat,” tambahnya.

Sementara di Mandalay, salah satu kota terbesar di Myanmar, kebijakan karantina wilayah telah diberlakukan mulai Selasa (7/4/2020), hingga waktu yang ditentukan kemudian. Myanmar melaporkan dua kasus infeksi virus corona pertama pada 23 Maret, dengan kedua pasien adalah warga negara Myanmar yang masing-masing baru kembali dari Amerika Serikat dan Inggris. Hingga 7 April, terkonfirmasi sebanyak 22 kasus dengan tiga kematian.

Pemerintah negara itu mulai mengambil sejumlah langkah pencegahan lebih lanjut, di antaranya pada 25 Maret mengharuskan warga negaranya yang kembali dari perjalanan luar negeri untuk menjalani karantina di fasilitas kesehatan yang telah ditentukan. Kemudian per 31 Maret hingga 14 April, penerbangan komersial internasional dari dan menuju Myanmar dihentikan, demi mencegah kasus COVID-19 impor yang penularannya terjadi di luar negeri.

Selain itu, pada 2 April lalu, tiga kelompok etnis bersenjata di Myanmar juga berkontribusi dalam penanggulangan wabah COVID-19, dengan bersepakat untuk melakukan gencatan senjata selama satu bulan. “Ketiga kelompok itu adalah Ta’ang National Liberation Army (TNLA), Myanmar Democratic Alliance Army serta Arakan Army (AA), yang baru-baru ini dinyatakan oleh pemerintah sebagai organisasi teroris,” pungkas Sylvia. (Ant)

Lihat juga...