Mudik Bisa Picu Akhir Pandemi Covid-19 Berbeda Tiap Daerah

Ilustrasi -Dok: CDN

YOGYAKARTA – Guru Besar Statistika Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dedi Rosadi, menyebutkan fenomena pulang kampung atau mudik yang berlangsung secara masif dapat memicu akhir pandemi Covid-19 mundur dari perkiraan awal.

“Menyebabkan perkiraan laju tambahan jumlah kasus di setiap wilayah akan berbeda-beda, yang akan mempengaruhi time line dan nilai akhir total prediksi nasional,” kata Dedi Rosadi, melalui keterangan tertulis di Yogyakarta, Sabtu (25/4/2020).

Menurut Dedi, fenomena mudik pada Mei 2020 secara masif atau bentuk migrasi lain dari daerah pusat penyebaran, khususnya daerah zona merah sangat berpotensi ditunggangi virus.

Sebab itu, pemerintah sejak 24 April 2020 telah mengeluarkan larangan kegiatan mudik.

Larangan itu, kata dia, sejalan dengan upaya pengendalian risiko wabah yang bila ditaati akan menghambat tumbuhnya klaster-klaster penyebaran baru di seluruh Indonesia.

“Tumbuhnya klaster-klaster baru perlu dicegah agar wabah tidak mundur lebih lama ke belakang, yang berakibat akhir wabah di setiap wilayah akan berbeda-beda,” kata Dedi.

Sebelumnya, berdasarkan data pemerintah sampai 26 Maret 2020, pada akhir Maret 2020, Dedi dan tim telah merilis prediksi sementara akhir pandemi terjadi pada akhir Mei 2020, dengan total penderita positif Covid-19 mencapai 6.174 kasus.

Namun, mengacu dengan data publikasi terbaru pemerintah hingga 23 April 2020, persebaran Covid-19 di Indonesia diprediksi mencapai puncaknya pada Mei 2020, dan kemudian mereda pada akhir Juli 2020 dengan perkiraan proyeksi total penderita positif Covid-19 di angka 31 ribuan kasus.

Prediksi itu menggunakan pemodelan probabilistik dengan dasar data nyata atau probabilistik data-driven model (PDDM), dengan asumsi waktu puncak tunggal.

Lihat juga...