Pakar: Waspadai Komposisi Disinfektan

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

JAKARTA —- Penggunaan disinfektan sebagai cairan untuk mencegah penularan COVID 19, dinilai tidak tepat, bahkan, lebih berpotensi menyebabkan iritasi dan penyakit lainnya. Sebagai penggantinya, para pakar lebih menyarankan untuk menggunakan antiseptik. Tentunya, dengan komposisi yang tepat.

Ketua Crisis Center Cegah Tangkal Corona (CCCTC) Dompet Dhuafa, dr. Yeni Purnamasari, MKM menyatakan, penggunaan disinfection chamber merupakan salah satu upaya mengurangi kontaminasi virus dan bakteri yang menempel di permukaan pakaian atau benda, dengan cairan antiseptic yang aman dan konsentrasi yang sesuai dengan anjuran produk masing-masing.

“Upaya ini tidak meninggalkan metode pencegahan transmisi penularan virus yang dapat melalui droplets dan menempel di pemukaan benda dengan upaya cuci tangan dengan air mengalir dan sabun atau hand sanitizer di setiap waktu yang dianjurkan,” kata dr. Yeni saat dihubungi, Selasa (31/3/2020).

Ia memaparkan komposisi bahan cairan antiseptic yang dipergunakan adalah chloroxylenol (4,8 %) dengan pengenceran 25 ml per 1 liter air atau benzalkonium klorida (1,1856 %) dengan pengenceran 45 ml per 1 liter air.

“Selain memastikan komposisi cairan yang akan dipergunakan, juga harus dilakukan edukasi untuk memastikan tidak masuknya cairan ini ke mata maupun tertekan,” ujarnya.

Pemerhati Mikrobiologi, Hidayat Fathoni Amrullah memaparkan, disinfektan memiliki paparan yang berbahaya, apalagi jika dicampur dengan bahan lainnya.

“Disinfektan yang mengandung asam jika bercampur dengan pemutih akan menyebabkan pelepasan gas klorin yang akan menimbulkan iritasi membran mukosa, batuk dan masalah pernapasan, mata perih berair dan hidung meler pada tingkat paparan rendah,” ujarnya.

Pada tingkat paparan tinggi, bisa menimbulkan sakit pada bagian dada, susah bernafas, muntah, pneumonia dan timbul cairan di paru-paru. Pada tingkat yang lebih tinggi lagi, mampu menimbulkan kematian.

“Sementara disinfektan dengan kandungan amonium, jika digabungkan dengan pemutih, akan mengeluarkan uap kloramin toksik yang menyebabkan batuk, mual, sesak nafas, mata berair, sakit dada, iritasi dan wheezing,” paparnya lebih lanjut.

Ia menegaskan, setiap orang harus mengerti tentang campuran disinfektan yang dipergunakannya.

“Ini dengan tegas saya nyatakan, karena berkaitan dengan keselamatan orang lain. Yang harus diketahui juga, jika ada iritasi pada membran mukosa saluran pernapasan, maka akan membuat COVID 19 akan lebih mudah menginfeksi. Membran mukosa saluran pernapasan itu merupakan proteksi pada kontaminan, termasuk mikroba,” pungkasnya.

Lihat juga...