Pandemi Covid-19, Pemerintah Harus Cukup Cadangan Beras

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Institut for Development of Economics and Finance (INDEF) meminta pemerintah memperhatikan kecukupan cadangan beras di tengah wabah pandemi Corona atau Covid-19. Meskipun neraca beras bulan April ini akan surplus 0,9 juta ton.

Ekonom Senior INDEF, Bustanul Arifin, mengatakan, petani sangat berperan penting untuk mencukupi kebutuhan pangan di tengah penyebaran wabah Covid-19, yang sangat genting.

“Di tengah wabah pandemi Covid-19, petani adalah jantung bangsa dan jantung planet bumi kita. Jika tidak ada petani, maka seluruh ketersediaan pangan tak akan ada atau tercukupi,” kata Bustanul dalam diskusi online INDEF bertajuk ‘Pandemi Vs Pangan: Urgensi Menjaga Akses dan Stok Pangan’ di Jakarta, Rabu (8/4/2020).

Dia menjelaskan, saat ini Nilai Tukar Petani (NTP) di semua sektor pada bulan Maret 2020 menurun hingga 1,22 persen dibandingkan bulan Februari 2020.

“Produksi beras turun 7,76 persen, tidak banyak yang peduli,” ujarnya.

Penurunan tersebut memang menurutnya, juga disebabkan karena adanya biaya input usaha tani padi, jagung, kedelai dan sebagainya memang mahal.

Agar persediaan pangan tercukupi dan kehidupan para petani di Indonesia lebih sejahtera, dalam suasana pandemi Covid-19, maka kata dia, pemerintah harus memperhatikan cadangan beras yang disediakan.

“Ya meski bulan Maret 2020 beras masih dalam proses panen, dan bulan April 2020 bisa panen bagus. Tapi pemerintah tetap perlu perhatiin cadangan beras untuk mencukupi di masa pandemi ini,” ujarnya.

Saat ini cadangan beras yang berada di Bulog ada 1,4 juta ton. Sedangkan cadangan beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) tercatat sekitar 2,8 juta ton. Sehingga keseluruhan stok beras ada 4,2 juta ton.

“Bulog tentunya harus beli gabah petani. Ya bayangkan kalau tidak ada yang beli, saya khawatir juga NTP akan menurun di bulan April ini,” tukasnya.

Selain itu, tambah dia, Bulog juga harus melakukan skema pengadaan beras dalam negeri, dengan insentif harga.

Dikatakan dia, pada bulan Maret 2020, harga beras memang tidak berkontribusi pada laju inflasi. Karena harga eceran telah terlanjur tinggi pada Rp 11.800/kg.

“Saya perkirakan neraca beras di bulan April 2020 ini akan surplus sekitar 0,9 juta ton,” ujarnya.

Dalam upaya penyelamatan petani di masa pandemi, menurutnya, pemerintah juga harus memanfaatkan dana desa untuk padat karya di perdesaan, tetap dengan protokol keamanan dan keselamatan Covid-19.

Juga penyaluran insentif khusus untuk petani hortikultura dan produk bernilai tambah tinggi atau andalan ekspor 3 kali.

Begitu juga dunia usaha bisnis rintisan (start-up) dan agregator bisnis boleh juga melakukan pembelian langsung dari petani

“Di hilir, antisipasi titik kritis ketersediaan pangan. Dampak kenaikan harga pangan berdimensi sosial-ekonomi politik,” pungkasnya.

Lihat juga...