Pendidikan Kesehatan di Sikka Dinilai Belum Maksimal

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Pemerintah Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), dinilai belum maksimal dalam memberikan pendidikan kesehatan bagi masyarakat terutama soal penyakit HIV dan AIDS serta corona.

Hal ini terlihat dari minimnya pemahaman masyarakat mengenai penyakit tersebut sehingga berbuntut terhadap penolakan warga terhadap Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) yang sedang dititipkan di rumah singgah di Kelurahan Waioti Kecamatan Alok Timur.

“Masyarakat belum memahami dengan baik mengenai kesehatan termasuk penyakit corona, HIV dan AIDS. Ini yang membuat masyarakat beranggapan bahwa ODHA merupakan orang yang terdampak penyakit corona dan harus dijauhkan karena bisa menular,” ungkap Yani Making, warga kota Maumere, Kamis (2/4/2020).

Yani menyesalkan adanya penolakan terhadap seorang ODHA di Pulau Palue dan juga di rumah singgah di kota Maumere dengan mengganggap orang yang datang dari Batam tersebut sudah tertular virus corona.

Bahkan ada postingan di media sosial, kata dia, yang memvonis orang tersebut sudah positif corona sehingga menimbulkan keresahan di masyarakat yang juga ikut berdampak terhadap penolakan tersebut.

“Harusnya pemerintah memberikan sosialisasi dan pemahaman kepada masyarakat mengenai penyakit tersebut. Harusnya petugas kesehatan dan pegawai kelurahan dan desa berkewajiban memberikan pendidikan kesehatan terutama penyakit corona di masyarakat agar paham,” pesannya.

Yani takutkan, minimnya pemahaman masyarakat mengenai penyakit corona menyebabkan terjadinya penolakan di masyarakat bukan saja di kedua wilayah Kabupaten Sikka tersebut.

Apalagi kata mantan anggota DPRD Sikka ini, seharusnya warga di Kelurahan Waioti yang berada di kota Maumere seharusnya sudah mengetahui terkait penyakit corona sehingga tidak timbul aksi penolakan.

“Sangat disayangkan aksi penolakan ini sebagai akibat minimnya pendidikan kesehatan terhadap masyarakat. Harusnya pemerintah lebih gencar memberikan sosialisasi melalui poster, pamflet, brosur atau pun sarana pendidikan lainnya agar paham,” harapnya.

Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Sikka,Yohanes Siga saat ditemui, Kamis (2/4/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Sikka, Yohanes Siga menyesalkan adanya aksi penolakan terhadap ZL seorang ODHA dan keluarganya yang sedang dititipkan di rumah singgah.

Menurut Yan sapaannya, pasien tersebut berasal dari Batam Kepulauan Riau yang sedang pulang kampung namun ditolak masyarakat di Pulau Palue sehingga untuk sementara waktu dititipkan di rumah singgah.

“Dirinya bersama orang tua dan saudarinya untuk sementara kami titipkan di rumah singgah agar mudah diawasi dan mendapatkan pengobatan. Apalagi dirinya baru dari luar Kabupaten Sikka sehingga sesuai standar harus karantina mandiri,” jelasnya.

Yan mengatakan, akibat penolakan di masyarakat maka pasien tersebut pun akhirnya harus dipindahkan dari rumah singgah dan ditempatkan di rumah salah seorang saudaranya di kota Maumere.

Dia menyayangkan adanya penolakan di masyarakat dan tentunya hal ini akan memberikan beban mental bagi pasien yang seharusnya dilindungi dan mendapatkan pertolongan.

“Kasihan dirinya harus mengalami perlakuan yang tidak sepantasnya diterima karena masyarakat belum memahami secara baik apa itu ODHA dan penyakit corona dimana orang harus melakukan karantina mandiri di rumah,” ujarya.

Menurut Yan, pasien dititipkan di rumah singgah karena berstatus Orang Dalam Pemantauan (ODP) karena baru kembali dari wilayah yang terjangkit virus corona sehingga harus dilakukan karantina mandiri.

Untuk diketahui, seorang perempuan warga asal Pulau Palue yang selama ini merantau di Batam saat kembali ke daerahnya, masyarakat desa di Pulau Palue menolaknya.

Pemerintah Kabupaten Sikka melalui Dinas Kesehatan pun membawa orang tersebut ke Maumere dan menitipkan di rumah singgah di Kelurahan Waioti namun masyarakat di sekitar rumah singgah menolaknya.

Sempat terjadi ketegangan hingga perempuan tersebut pun akhirnya dipindahkan ke rumah salah seorang kerabatnya, Kamis (2/4/2020) karena warga di Kelurahan Waioti menolak dirinya tinggal di lingkungan mereka.

Lihat juga...