Penilaian Desa Wisata Tahap 2 di Banyumas Terhambat Covid-19

Editor: Makmun Hidayat

PURWOKERTO — Berbagai macam rencana pengembangan wisata di Kabupaten Banyumas terhambat dengan merebaknya COVID-19. Termasuk proses penilaian desa wisata yang terpaksa dihentikan untuk sementara waktu.

Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda, Olah Raga, Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas, Wakhyono mengatakan, penilaian desa wisata tahap 1 sudah selesai dilakukan pada awal bulan Maret 2020. Dan ada 14 desa yang lolos serta ditetapkan sebagai desa wisata. Namun untuk penilaian tahap 2, terpaksa dihentikan karena situasi yang tidak memungkinkan.

“Sudah ada lagi beberapa desa yang mengajukan untuk menjadi desa wisata, namun proses penilaian baik secara teknis maupun administrasi belum bisa dilakukan,” jelasnya, Minggu (5/4/2020).

Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda, Olah Raga, Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Wakhyono, Minggu (5/4/2020) di Purwokerto. -Foto Hermiana E .Effendi

Lebih lanjut Wakhyono menjelaskan, banyak keuntungan yang diperoleh jika sebuah desa sudah menyandang status sebagai desa wisata. Antara lain, desa akan mendapatkan bantuan keuangan dari propinsi untuk pengembangan wisata, kemudian Surat Keputusan (SK) desa wisata, juga bisa dipergunakan untuk pengajuan bantuan ke pemerintah pusat maupun pihak lainnya.

“Karena banyak keuntungan dari status desa wisata, maka desa-desa di Kabupaten Banyumas berlomba-lomba mengajukan sebagai desa wisata, sayangnya proses penilaian harus berhenti dulu,” tuturnya.

Sementara itu, 14 desa yang sudah ditetapkan sebagai desa wisata, terdiri dari dari 1 desa wisata dengan klasifikasi maju, 7 desa dengan klasifikasi berkembang dan 6 desa dengan klasifikasi rintisan. Desa wisata dengan klasifikasi maju yaitu Desa Cikakak Kecamatan Wangon. Kemudian 7 desa wisata dengan klasifikasi berkembang yaitu, Desa Melung Kecamatan Kedungbanteng, Desa Karangsalam Kecamatan Baturraden, Desa Gerduren Kecamatan Purwojati, Desa Karangkemiri Kecamatan Karanglewas, Desa Petahunan Kecamatan Pekuncen, Desa Kalisalak Kecamatan Kebasen dan Desa Cirahab Kecamatan Lumbir.

Untuk 6 desa wisata dengan klasifikasi rintisan, terdiri dari Desa Banjarpanepen Kecamatan Sumpiuh, Desa Karangtengah Kecamatan Cilongok, Desa Darmakradenan Kecamatan Ajibarang, Desa Karanggintung Kecamatan Kemranjen, Desa Kalibagor Kecamatan Kalibagor, dan Desa Samudra Kecamatan Gumelar.

“Ada penilaian teknis yang terdiri dari beberapa indikator, antara lain tentang objek wisata yang dimiliki desa, kesesuaian tata ruang, mitigasi bencana, mempunyai kekhasan adat atau tidak, produk cindera mata dan lainnya. Dan ada juga penilaian dari sisi adminstrasi, dimana desa mengajukan permohonan untuk dinilai,” terangnya.

Kepala Dinporabudpar Kabupaten Banyumas, Asis Kusumandani menambahkan, 14 desa tersebut ditetapkan menjadi desa wisata dengan Surat Keputusan Bupati Banyumas. Hal tersebut sesuai dengan

Perda Provinsi Jawa Tengah nomor 2 Tahun 2019 tentang Pemberdayaan Desa Wisata dan Peraturan Gubenur Jawa Tengah nomro 53 Tahun 2019 tentang Petunjuk Teknis Perda 2 Provinsi Jawa Tengah tahun 2019, dimana telah dilaksanakan penilaian penetapan desa wisata oleh tim penilai dan hasilnya adalah penetapan klasifikasi desa wisata dengan SK bupati.

Salah satu desa yang lolos menjadi desa wisata pada penilaian tahap 1 yaitu Desa Melung Kecamatan Kedungbanteng. Desa tersebut memiliki wisata andalan berupa kolam renang di tengah sawah yang sangat ramai dikunjungi, sebelum corona merebak.

Kolam renang tersebut berukuran besar dan berbatasan langsung dengan sawah, sehingga sekaligus menyuguhkan pemandangan aktivitas para petani di sawah.

Lihat juga...