Penyakit Imbas Cuaca, Kendala Petambak Udang Vaname

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Perubahan cuaca tidak menentu di wilayah Lampung Selatan (Lamsel) ikut mempengaruhi sektor budidaya tambak udang.

Hendra, salah satu pembudidaya udang vaname di Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi menyebut faktor cuaca ikut mempengaruhi kualitas dan kuantitas hasil budidaya. Terlebih pembudidaya udang vaname di Lamsel tinggal di pesisir timur Lamsel.

Udang vaname ukuran atau size 50 milik warga Desa Bandar Agung Kecamatan Sragi Lampung Selatan yang sudah panen siap dibawa ke pengepul, Minggu (19/4/2020) – Foto: Henk Widi

Perubahan cuaca yang kerap terjadi menurutnya dipengaruhi pasang surut air laut, kemarau dan banjir. Wilayah Kecamatan Sragi yang berada di dekat aliran sungai Way Sekampung juga berpotensi mengalami banjir.

Luapan sungai saat hujan seperti pada bulan April ini dominan berasal dari wilayah hulu di Kabupaten Lampung Tengah, Pringsewu dan Pesawaran.

Imbas hujan di bagian hulu akan mempengaruhi kualitas air bagi budidaya udang. Kondisi irigasi air yang kurang lancar, perubahan cuaca mengakibatkan udang yang dibudidayakan terserang penyakit.

Petambak menurut Hasan melakukan budidaya udang dengan cara tradisional, semi intensif menyesuaikan modal yang dimililiki.

“Petambak yang memiliki modal besar bisa mengatur kondisi air irigasi, pengontrolan kualitas air tambak hingga bisa mengondisikan air pada tambak menjadi media budidaya yang baik, sebaliknya pembudidaya tradisional menyesuaikan kondisi cuaca,” terang Hasan saat ditemui Cendana News, Minggu (19/4/2020)/

Imbas cuaca mengakibatkan kondisi air tambak kurang stabil sejumlah penyakit udang dialami petambak. Jenis penyakit udang yang menyerang diantaranya white spot syndrome virus (WSSV), infectious myonecrosis virus (IMNV), mencret atau berak putih oleh petambak dikenal dengan white feces disease (WFD). Kondisi air yang tidak bersih berimbas parasit diantaranya enterocytozoon hepatopenaei (EHP).

Berbagai jenis penyakit udang tersebut menurut Hasan berimbas udang kerdil, udang memiliki bintik putih, bercak merah. Kematian parsial hingga massal menurutnya mengakibatkan kerugian bagi petambak jika tidak segera diatasi.

Bermodalkan sekitar Rp30 juta hingga Rp40 juta pada budidaya skala kecil, Hasan menyebut imbas penyakit oleh cuaca akan mengakibatkan kerugian besar.

“Budidaya udang bisa menguntungkan namun jika muncul penyakit petambak bisa mengalami kerugian banyak,” terangnya.

Komunikasi antar petambak, penyuluh dan produsen pakan, obat sangat diperlukan. Sebab dalam masa perubahan cuaca faktor alam sangat mempengaruhi kesuksesan budidaya.

Sejumlah saluran keluar (outlet) dan saluran masuk (inlet) yang digunakan secara komunal harus tetap terjaga agar kualitas air yang baik bisa digunakan. Saat ada tambak udang terkena virus WSSV maka petambak lain harus diberitahu agar tidak mengambil air di saluran berimbas penularan.

Hendra yang mengalami serangan WSSV menyebut, virus muncul terbawa oleh alat tangkap jaring. Ia lupa membersihkan dengan zat kapur sehingga tetesan air masuk ke tambak.

Imbasnya udang vaname miliknya harus dipanen dini secara parsial. Tingkat kematian udang saat memasuki usia hampir empat bulan mencapai 20 persen. Udang yang terserang virus mengalami bintik putih dan segera dipanen hindari kerugian.

“Sebelum semua udang mati oleh virus pemanenan segera dilakukan dan tambak harus dikeringkan lalu ditaburi kapur atau dolomit,” cetusnya.

Normal bisa memanen sekitar 700 kilogram untuk satu petak tambak. Ia menyebut hanya bisa memanen sekitar 500 kilogram.

Tambak skala rumah tangga miliknya rencananya akan dipanen saat bulan Ramadan. Namun pemanenan lebih awal dilakukan menghindari kerugian akibat penyakit. Selain dikonsumsi sendiri udang dijual ke pengepul.

Petambak lain bernama Lukman menyebut, ia memilih menggunakan saluran air terpisah. Selain itu satu petak lahan tambak dikhususkan bagi sumber pengairan empat petak tambak miliknya.

Lukman, salah satu petambak udang di Desa Bandaragung, Kecamatan Sragi memasang saluran air untuk mendapatkan air bersih yang tidak terkontaminasi air yang sudah tercemar dari tambak yang terkena white spot syndrome virus, Minggu (19/4/2020) – Foto: Henk Widi

Petak tambak sumber air tersebut digunakan untuk menetralisir air yang diperoleh dari sungai Way Sekampung. Sebab air payau yang berasal dari sungai tidak langsung dimasukkan dalam tambak.

“Kolam penetralisir saya tanami dengan tumbuhan air yang berfungsi menjernihkan air lalu disalurkan ke tambak,” tegasnya.

Pada masa cuaca tidak menentu penanganan lahan tambak harus lebih intensif. Sebagian tambak semi tradisional menggunakan kincir air sistem bagongan.

Kincir air menjadi cara untuk pengaturan sirkulasi. Meski sejumlah petambak mengalami penyakit akibat perubahan cuaca tambak miliknya aman. Diisi per petak 2000 benur ia menargetkan bisa panen udang sebelum hari raya Idul Fitri mendatang.

Lihat juga...