Permintaan Anjlok Pengaruhi Harga Udang Vaname di Lamsel

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

LAMPUNG — Dampak tidak langsung Coronavirus Disease (Covid-19) pengaruhi sektor usaha perikanan budidaya di Lampung Selatan (Lamsel). Penundaan penjualan udang putih atau vaname untuk pasar ekspor berimbas pada penurunan harga.

Sahrul, pengepul udang di Desa Sidoasih, Kecamatan Ketapang menyebutkan, hingga akhir Maret harga udang vaname ukuran (size) 38 hingga 40 pada level petambak anjlok pada angka Rp55.000 perkilogram. Sebelumnya berada di harga Rp90.000 perkilogram.

“Udang vaname size 50 semula dijual seharga Rp120.000 turun menjadi Rp75.000 per kilogram,” terang Sahrul saat dikonfirmasi Cendana News, Kamis (2/3/2020).

Sahrul juga menyebut selain penurunan pasar ekspor, imbas terhentinya operasional sejumlah rumah makan pengaruhi permintaan. Selama ini ia menyebut permintaan banyak didominasi dari sejumlah restoran, rumah makan boga bahari (seafood).

“Permintaan yang masih stabil berasal dari pasar kota Bandar Lampung dan wilayah Banten,” terangnya.

Hasil pengiriman dari sejumlah petambak juga mulai tidak menentu. Pada kondisi permintaan ekspor stabil dalam satu kali panen petambak bisa mengirimkan satu ton udang vaname.

“Proses pengepulan dari petambak tetap berjalan karena jika tidak ada penampung, petambak sulit menjual hasil,” cetus Sahrul.

Bekti,salah satu penyedia jasa ojek udang menyebutkan, penurunan permintaan udang vaname juga disebabkan faktor serangan penyakit akibat virus Myo dan bintik putih. Hama pada udang vaname tersebut mengakibatkan produksi alami penurunan.

“Kini hasil produksi satu petak tambak alami penurunan sekaligus harga yang anjlok merugikan bagi petambak,” bebernya.

Bagi jasa ojek seperti dirinya, Bekti menyebut berdampak pada omzet. Dalam sekali pengangkutan dari tambak ke lokasi pengepulan ia mendapat hasil Rp150.000 per hari. Namun semenjak berkurangnya hasil panen ia maksimal hanya mendapat Rp70.000 per hari.

Dampak tidak langsung virus Corona menurut Bekti sebagian petambak usai panen sementara mengistirahatkan lahan. Biaya operasional proses budidaya udang vaname yang besar tidak sebanding dengan hasil penjualan menjadi alasan petambak melakukan penundaan budidaya hingga pandemi Covid-19 berakhir.

“Harapannya virus Corona segera berakhir dan permintaan ekspor bisa kembali normal agar petambak kembali bergairah,” cetusnya.

Penutupan atau karantina wilayah yang ikut mempengaruhi budidaya udang diakui Hamdan. Petambak di Desa Berundung, Ketapang menyebut berkurangnya pangsa pasar mengakibatkan harga ikut anjlok. Sebab jika semua petambak tetap berproduksi sementara permintaan (demand) rendah maka akan merugikan petambak udang vaname.

“Biaya operasional satu petak tambak bisa mencapai puluhan juta jika hasilnya tidak maksimal kami bisa bangkrut,” tegas Hamdan.

Lihat juga...