Pesanan Masker Meningkat, Berkah Para Penjahit di Ketapang

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Wabah Coronavirus Disease (Covid-19) berimbas pada peningkatan permintaan masker. Linawati, warga Desa Way Sidomukti, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan (Lamsel) ikut terpanggil dalam penyediaan masker kain.

Sulitnya memperoleh masker N95 dan jenis masker pabrikan yang dijual pada sejumlah apotek membuat ia memaksimalkan masker kain.

Bekerjasama dengan sejumlah relawan, donatur ia memilih menyediakan masker kain untuk membantu masyarakat. Kepedulian pada pandemi Covid-19 bahkan telah menggerakan sikap dermawan rekannya yang menjadi buruh migran di Hongkong. Donasi yang diberikan menurut Linawati selanjutnya dibelanjakan masker jenis kain yang diproduksi penjahit yang ada di Kecamatan Ketapang.

Linawati mengaku mendapatkan pesanan sebanyak 590 masker yang akan didistribusikan ke Desa Kemukus. Rasa solidaritas buruh migran di luar negeri tersebut diakuinya ikut memberdayakan penjahit yang ada di Desa Way Sidomukti dan Desa Sidodadi. Adanya pesanan masker menjadi cara membantu masyarakat untuk mendapatkan masker.

“Kami memproduksi masker empat jenis untuk anak anak, untuk laki laki dan wanita yang memakai hijab dan tidak sehingga ukuran dan tali yang digunakan akan menyesuaikan pemakai,” terang Linawati saat ditemui Cendana News tengah melakukan proses pemesanan masker, Kamis (2/4/2020).

Linawati, warga Desa Way Sidomukti Kecamatan Ketapang Lampung Selatan menunggu penyelesaian masker yang dibuat untuk didistribusikan ke warga dalam upaya pencegahan corona, Kamis (2/4/2020). -Foto Henk Widi

Donasi yang diberikan Rumi, salah satu tenaga kerja wanita di Hongkong diakui Linawati sangat membantu. Sebab selain berguna untuk masyarakat yang mulai kesulitan mencari masker, ia bisa memberdayakan penjahit. Tercatat ada empat orang penjahit yang melakukan penyelesaian masker pesanannya. Beberapa penjahit yang sehari hari menerima pesanan pakaian seragam sekolah sementara beralih membuat masker.

Memberdayakan penjahit untuk menyelesaikan pesanan masker diakuinya menjadi cara membantu sumber pemasukan. Sebab sepinya permintaan pembuatan seragam sekolah dan pakaian membuat omzet penjahit menurun. Pesanan pembuatan masker kain jenis katun,tessa menjadi sumber penghasilan tambahan saat pesanan pakaian kosong. Langkah tersebut sekaligus memberdayakan penjahit di pedesaan.

“Memanfaatkan bahan kain dan keahlian menjahit produksi masker yang dihasilkan memiliki nilai jual dan membantu masyarakat yang sulit mencari masker,” cetus Linawati.

Linawati yang dibantu oleh rekannya bernama Hermasrianti menyebut penjahit rata rata bisa membuat 100 masker dalam sehari. Selain pesanan untuk memenuhi kebutuhan donatur luar negeri, masker juga sebagian dijual untuk kebutuhan masyarakat. Sebab bagi warga di pedesaan,masker memiliki fungsi untuk mencegah debu ketika masa panen padi dan jagung.

Setiap masker kain yang telah jadi dikemas dalam satu kemasan berisi satu lusin masker kain. Masker kain diakuinya cukup diminati masyarakat yang sulit memperolehnya di apotek. Ia menjual masker dengan harga satuan Rp8.000. Bagi penjahit ia membeli masker dengan perhitungan bahan baku dan ongkos produksi sehingga masih memberi keuntungan.

Iis Sartika, salah satu penjahit di Desa Sidodadi,Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan yang ikut menyelesaikan pesanan masker dari jenis kain tessa untuk pencegahan virus corona, Kamis (2/4/2020). -Foto Henk Widi

Iis Kartika, salah satu penjahit di Desa Sidodadi, Kecamatan Ketapang menyebut diajak oleh Linawati membuat masker. Sehari wanita yang belasan tahun menekuni usaha menjahit itu bisa menyelesaikan sebanyak 100 masker kain. Dua pekan membuat masker, ia menyebut kendala yang dihadapi berupa sulitnya memperoleh karet. Jenis karet elastis ukuran 3 milimeter dipakai untuk mengaitkan masker dengan telinga.

“Sejumlah distributor sedang kehabisan stok karena pembuat masker dominan memakai karet tersebut,” bebernya.

Iis Kartika menyebut terus membuat masker untuk kebutuhan masyarakat. Sebab selain memenuhi pesanan dari Linawati ia juga melayani pembelian masker satuan ke tempat usaha jahitnya. Dibeli dengan harga Rp5.000 permasker untuk dijual kembali oleh pengecer ia memastikan bisa mendapat omzet Rp500.000 untuk 100 masker. Hasil akan semakin meningkat menyesuaikan pesanan.

Penjahit lain yang diberdayakan Linawati diantaranya Ahmad Fauzi dan Atun sang istri di Desa Way Sidomukti. Suami istri yang memiliki usaha pembuatan seragam sekolah itu mengaku sementara memenuhi pesanan pembuatan masker. Sejumlah sekolah yang sedang libur dengan kegiatan belajar jarak jauh membuat permintaan seragam sekolah menurun.

“Sementara beralih membuat masker dengan tujuan ikut membantu masyarakat sekaligus bentuk donasi penjahit,” bebernya.

Ahmad Fauzi menyebut jenis kain katun memiliki tingkat ketebalan yang bagus untuk menyaring debu. Ia menyebut meski masker kain kerap belum memenuhi standar kesehatan, bagi warga di pedesaan masker tersebut sangat berguna. Penggunaan masker kain menurutnya menjadi cara pencegahan Covid-19.

Lihat juga...