Sajian Lezat Iwak Malond Rendah Kolesterol

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Sudah pernah mendengar kuliner iwak (daging-red) manuk londo (malond)? Jika belum, harus segera mencobanya. Perpaduan antara tekstur daging yang lembut, dengan beragam bumbu olahan, menjadikan malond berada di daftar tertinggi untuk daging unggas.

Malond merupakan hasil persilangan antara puyuh lokal, yang merupakan puyuh petelur dengan puyuh Perancis yang bertipe pedaging. Tujuannya, untuk menghasilkan burung puyuh yang tinggi produktivitasnya, sekaligus memiliki ketahanan terhadap daerah tropis.

Tidak hanya itu, daging malond juga dipercaya memiliki kandungan kolesterol yang lebih rendah dibandingkan dengan bebek, sementara kandungan proteinnya lebih tinggi dibandingkan dengan daging bebek.

“Dari segi tekstur daging, iwak malond juga lebih empuk, tidak alot. Sementara dari segi rasa, sudah pasti enak. Tidak kalah dibandingkan daging ayam, bebek atau puyuh lokal,” papar pengusaha kuliner iwak malond Uun Eko Yuniarti, saat ditemui di tempat usaha, Jalan Payung Prasetya II No 7 Perum Korpri Pudak Payung Semarang, Sabtu (4/4/2020).

Mbak Uun, demikian dirinya sering dipanggil, merupakan salah satu perintis kuliner iwak malond di Semarang. Ada dua olahan yang ditawarkan yakni bumbu kuning dan bacem.

“Pengolahannya menggunakan bumbu rempah-rempah asli, bukan bumbu instan, jadi dari segi rasa dan kualitas sudah jadi jaminan. Semuanya sudah dimasak matang, nanti konsumen yang beli tinggal kita kirim ke alamat masing-masing,” terangnya.

Harga yang ditawarkan pun tidak mahal, untuk setiap kemasan berisi empat ekor malond dibanderol dengan harga Rp 60 ribu rupiah.

“Kalau mau digoreng atau dibakar lagi juga bisa, mau dimakan langsung juga bisa. Jadi tergantung selera dari pembeli,” ungkapnya lagi.

Dijelaskan, di tengah pandemi corona yang saat ini terjadi, usaha iwak malond yang dirintisnya tersebut seakan malah tidak terpengaruh. Kebijakan work from home (WFH) hingga libur sekolah, menjadikan pesanan yang datang justru meningkat.

“Permintaan justru meningkat, mungkin karena masyarakat banyak berdiam diri di rumah, tidak ke mana-mana, mereka mau makan butuh lauk yang cepat dan praktis. Dalam seminggu, pesanan bisa sekitar 200 ekor malond,” terangnya lagi.

Mbak Uun mengaku tidak membuka warung untuk makan di tempat, namun lebih mengirimkan pesanan ke masing-masing pembeli. “Selain lebih mudah, ini juga untuk menghindari kerumunan. Konsumen juga bisa mengakses lewat akun instagram @malond_mba_uun,” terangnya lagi.

Sementara, salah seorang pembeli, Titi Widiyanti, mengaku baru pertama kali mengonsumsi daging malond dan menjadi ketagihan.

“Awalnya saya tidak tahu, apa itu daging malond, kemudian ada teman yang memberi, setelah dicoba ternyata enak, lembut dan gurih,” papar pekerja swasta di Semarang tersebut.

Kini hampir setiap minggu dirinya memberi iwak malond, untuk lauk makan bersama keluarga. “Apalagi ini sudah dikemas, jadi lebih awet atau tahan lama. Bisa saya simpan di lemari pendingin, nanti jika ingin dimakan, tinggal digoreng. Mudah dan praktis,” pungkasnya.

Lihat juga...