Sebanyak 10 Pasien Positif Covid-19 Sembuh di Sulsel

Kadis Kesehatan Sulsel dr Ichsan Mustari

MAKASSAR – Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan menyatakan, 10 pasien positif COVID-19 dinyatakan sembuh, Minggu (5/4/2020). Dengan demikian, total pasien sembuh dari corona di Sulsel sudah ada 19 orang.

Berdasarkan update data pasien terkait COVID-19 di Sulsel, Minggu (5/4/2020) pukul 20.00 wita, terdapat 2.166 ODP (Orang Dalam Pemantauan), 263 PDP (Pasien Dalam Pengawasan) dan positif COVID-19 bertambah dua orang sehingga totalnya menjadi  82 orang. “Mereka itu, 17 dari Makassar dan dua orang lainnya dari Kota Parepare,” ungkap Kepala Dinas Keaehatan Sulsel, dr Ichsan Mustari, Minggu (5/4/2020).

Dari jumlah tersebut, tercatat 13 orang meninggal dengan status PDP dan tujuh lainnya berstatus positif COVID-19. “Angka sembuh ini pelan-pelan akan bertambah sesuai dengan waktu isolasi. Karena setelah isolasi 14 hari, dia akan mengikuti lab control dua kali sampai dinyatakan sembuh,” katanya.

Ichsan mengemukakan, terdapat prinsip baru mengenai virus corona baru ini. Dalam proses pencegahan penyebaran perlu masyarakat tahu, bahwa virus tidak dapat bergerak tetapi manusia yang bergerak. Dan pergerakan  manusia sangat berpeluang menyebarkan virus tersebut. “Makanya kita imbau tidak banyak gerakan dan kontak agar tidak ada penyebaran lebih luas. Menjaga jarak fisik dan tidak berkerumun,” katanya.

Dan untuk mencegah penularan, masyarakat perlu membiasakan penggunaan masker saat keluar rumah. Terkait ini juga telah diumumkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), penggunaan masker kain bisa membantu mencegah penularan. Masker berbahan kain bisa menghindari percikan air liur dari setiap orang yang bisa saja teridentifikasi COVID-19 tanpa diketahui.

Dan masyarakat diminta untuk tidak menggunakan masker N95 dan masker standar pelayanan penyakit menular. Sebab sampai saat ini Sulsel bahkan dunia masih sangat kekurangan APD. “Sebaiknya masker seperti N95 biarlah dipakai oleh tim gugus dan tim medis yang kontak langsung dengan pasien. Saya kira masyarakat tidak usah pakai. Sampai saat ini, di Indonesia bahkan dunia masih sangat terbatas Alat Pelindung Diri (APD). Supaya kita bisa menjamin mereka yang berada di garis depan,” kata dr Ichsan. (Ant)

Lihat juga...