Teknologi Sinar Gamma Dapat Dimanfaatkan untuk Pembuatan Vaksin

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

JAKARTA — Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) menyatakan siap untuk membantu pemerintah terkait pembuatan vaksin COVID-19 dengan memanfaatkan teknologi sinar gamma.

Peneliti Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi (PTKMR) BATAN, Mukh. Syaifudin menyatakan teknologi nuklir dapat dimanfaatkan untuk membuat vaksin dengan memanfaatkan radiasi sinar gamma.

“Secara teknis fasilitas radiasi gamma dapat dimanfaatkan untuk membuat vaksin,” kata Syaifudin saat dihubungi, Kamis (9/4/2020).

Syaifudin menjelaskan, vaksin merupakan zat yang mengandung bakteri atau virus yang mati atau dilemahkan yang dapat dijadikan pemicu untuk meningkatkan ketahanan tubuh terhadap penyakit tertentu. Pemberian vaksin dianggap sebagai cara yang efektif untuk menghindari sebuah penyakit, di antaranya tetanus, tifus, polio dan lainnya.

“Ketika vaksin dimasukkan ke dalam tubuh, sistem keamanan tubuh yang bernama sel limfosit, merespon dengan memproduksi antibodi. Antibodi inilah akhirnya melawan virus dan memproteksi tubuh agar tidak mengalami infeksi,” ujarnya.

Termasuk virus covid-19 ini, menurutnya, kedepan dapat dibuatkan vaksinnya dengan memanfaatkan radiasi sinar gamma.

“Namun, mengingat tingkat penyebaran virus covid-19 sangat cepat dan membahayakan, maka dalam pembuatan vaksin diperlukan fasilitas pendukung seperti laboratorium bio safety level 3 (BSL 3) dan alat pelindung diri (APD) yang memadai selama preparasi,” tuturnya.

Pada prinsipnya, untuk membuat vaksin, ujar Syaifudin, dapat dilakukan dengan beberapa metode, yakni dengan pemberian bahan kimia seperti formalin, pemanasan, atau dengan radiasi sinar gamma. Adapun tahapan pembuatan vaksin dengan memanfaatkan radiasi sinar gamma dimulai dari penyiapan sumber virus, melakukan radiasi, hingga pengujian efektivitas.

“Tahapan ini dapat dikatakan pra klinis dan membutuhkan waktu 6 bulan hingga 1 tahun. Yang harus dipersiapkan tentunya tersedia vaccine seed atau virus itu sendiri yang ada di dalam inangnya yang pas, lalu dilakukan proses iradiasi, dan kemudian dilakukan pemurnian yang diikuti dengan uji efektivitas baik pada kultur sel atau hewan coba atau sukarelawan,” paparnya lebih lanjut.

Menurutnya, radiasi sinar gamma dengan daya tembus yang besar dapat mengarah langsung ke asam nukleat tanpa merusak epitop di permukaan sel, digunakan untuk melemahkan virus sehingga diharapkan dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangannya. Karena ukurannya sangat kecil maka diperlukan intensitas radiasi hingga 50 kilogray untuk merusak asam nukleat agar virus tidak bisa memperbanyak diri.

“Ketika virus yang lemah dan tidak mampu bereplikasi atau memperbanyak diri serta tidak menimbulkan infeksi ini diberikan, maka akan memicu respon kekebalan tubuh dengan membentuk antibodi untuk menghadapi virus tersebut,” urainya.

Dalam melakukan penelitian pembuatan vaksin malaria yang pernah dilakukan, BATAN telah menggandeng beberapa stakeholder, di antaranya veteriner Institut Pertanian Bogor, Naval Medical Reseacrh Unit (Namru – USA), Balitbang Kementerian Kesehatan, dan Lembaga Eijkman. Dengan memanfaatkan radiasi sinar Gamma, maka proses pembuatan vaksin menjadi lebih praktis.

“Bahan vaksin dalam kemasan tertutup rapatpun dapat langsung diradiasi. Radiasi inipun tidak merusak komponen imun vital di permukaan dari mikroorganisme sehingga masih bisa memicu respon imun atau kekebalan tubuh,” ucapnya.

Menristek BRIN, Bambang Brodjonegoro menyatakan, pembuatan vaksin merupakan program jangka menengah dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID 19.

“Bagaimana obat dan vaksin? Ini jangka menengah panjang. Untuk vaksin, misalkan kira-kira dibutuhkan paling tidak satu tahun minimal. Kecuali apabila sudah ada vaksin yang telah dikembangkan di luar negeri sebelumnya, sehingga kemudian bisa diproduksi di Indonesia,” ucap Bambang.

Selain vaksin, Tim Konsorsium COVID-19 juga sedang fokus mengembangkan suplemen untuk menjaga imunitas tubuh yang dibuat dari berbagai bahan baku di Indonesia.

Kemudian, tim juga mengembangkan pengkajian obat COVID-19, salah satunya pil kina yang memiliki kesamaan dengan Chloroquine, obat malaria.

“Mudah-mudahan dengan pengujian ini ada sesuatu barangkali berkontribusi pada pengobatan COVID-19,” pungkasnya.

Lihat juga...