Tradisi ‘Munggahan’, Budaya Betawi Sambut Ramadan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BEKASI – Tak terasa 20 hari lagi umat muslim tanah air, memasuki awal Ramadan. Selalu ada yang unik, ada kekhasan menjadi tradisi bagi sebagian besar masyarakat Betawi yang tinggal di Jabodetabek. Termasuk orang Bekasi.

Budayawan Bekasi, akrab disapa Aki Maja, mengisahkan bahwa menyambut bulan suci Ramadan ada kebiasaan unik yang dilakukan orang Betawi. Salah satunya, semua orang mulai disibukkan untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan dengan berbagai aktivitas.

Bahkan tuturnya, sebagian kaum ibu disibukkan untuk pergi belanja ke pasar tradisional, membeli berbagai keperluan makan sahur puasa hari pertama. Hampir dipastikan pasar tradisional juga ditumpahi orang yang belanja keperluan menyambut munggahan.

Munggahan  adalah salah satu tradisi menyambut bulan suci Ramadan yang dilakukan dengan cara sedekah atau mandi bersih diri.

Hal itu menurutnya, entah sejak kapan terjadi, namun telah menjadi tradisi yang melekat dan tak lekang dimakan waktu serta peradaban meskipun kadang dibilang “norak” atau “kampungan”.

“Melestarikan budaya warisan leluhur sah saja sebagai bukti nyata bahwa nenek moyang kita begitu sederhana dan bersahaja. Namun penuh dengan kepatuhan dan disiplin yang tinggi, dalam bahasa masyarakat modern mungkin disebut integritas,” jelasnya, Minggu (5/4/2020).

Namun dia bertanya akankah hal tersebut terjadi di tengah pandemi Covid-19. Dia berharap segera berlalu, agar umat muslim tanah air bisa menjalankan ibadah puasa, tarawih dan lainnya.

Orang Betawi pada umumnya menyambut bulan suci Ramadan sudah sibuk, menjelang Asar biasanya kaum perempuan sibuk mengolah makanan dan lauk pauk untuk disantap pada malam harinya.

Bahkan imbuhnya tak jarang menjelang malam hari, biasanya dilakukan setelah usai salat Maghrib ataupun usai salat Isya, masyarakat melaksanakan tradisi rowahan, pengajian dan tahlilan yang dipimpin oleh seorang ustaz untuk mengirimkan doa kepada para ahli kubur.

“Semalaman biasanya para ustaz maupun amil kebanjiran order untuk memimpin doa atau tahlilan. Bahkan pagi harinya banyak pula orang yang melakukan ziarah kubur dan nyekar di makam,” tandasnya.

Saat itulah tukang kembang dan air mawar ikutan panen rejeki. Budaya dan tradisi semacam ini tentu saja memberikan nilai positif bagi yang melakukannya.

Demikian pula tradisi munggahan  juga terus bergulir, terus berakrobat di tengah hiruk pikuk peradaban modern yang justru kurang jelas arahnya. Menurut Aki Maja pula, sebagian anak serta remaja sekarang tidak mampu lagi memahami budaya para orangtuanya.

“Tidak sedikit yang memandang bahwa itu merupakan budaya norak dan malu-maluin. Mungkin mereka juga berpikir, budaya munggahan bikin repot,” tukasnya.

Namun bagi  yang masih memiliki kepedulian akan besarnya makna, seyogyanya tetap menjaga silaturahmi agar budaya munggahan juga masih tetap dipertahankan. Bisa saja dengan sentuhan yang lebih modern.

Lihat juga...