Tradisi Tuguran, Umat Katolik Berdoa di Rumah

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Tradisi tuguran atau malam berjaga bagi umat Katolik dijalankan usai melakukan Ekaristi Malam Kamis Putih.

Tradisi Gerejani pada Pekan Suci jelang Paskah tersebut dilakukan sejak Minggu Palma hanya dengan live streaming. Masa tanggap darurat Coronavirus Disease (Covid-19) membuat Keuskupan Tanjungkarang meniadakan perayaan di gereja hingga 30 April mendatang.

Tradisi tuguran dijalankan oleh keluarga dengan tetap menerapkan physical distancing atau jaga jarak. Aloysius Rukun Haryoto, tokoh gereja di Stasi Santo Petrus dan Paulus menyebut tuguran merupakan malam berjaga di depan Sakramen Maha Kudus.

Selama puluhan tahun ia menyebut tuguran dilakukan tepat di depan altar dimana sakramen Maha Kudus ditahtakan.

Meski demikian tradisi tersebut baru pertama kali ditiadakan tanpa sakramen Maha Kudus. Setiap keluarga diakuinya tetap bisa melakukan tuguran dengan ibadah singkat.

Rangkaian prosesi yang tidak dilakukan meliputi penghormatan pada sakramen Maha Kudus. Sebagai gantinya keluarga yang melakukan tuguran diajak merenungkan malam sengsara Yesus Kristus.

“Makna tuguran yang selalu dijadikan malam berjaga merupakan masa sebelum Yesus Kristus diserahkan ke imam kepala lalu disiksa dan menjalani hukuman di kayu salib dan selanjutnya wafat pada Jumat Agung dan bangkit pada hari Paskah yang menjadi puncak iman Kristiani,” terang Aloysius Rukun Haryoto, saat memberikan renungan dalam tuguran keluarga, Kamis malam (9/4/2020).

Tradisi tuguran yang tahun ini tidak digelar pada gedung gereja menjadi refleksi bagi umat. Sebab selama puluhan tahun imbas Covid-19 umat dilarang berkumpul dan melakukan kegiatan berskala besar.

Permenungan akan Pekan Suci oleh umat Katolik sekaligus mengingatkan ketidakberdayaan manusia di hadapan Allah.

Kegiatan berdoa di rumah tanpa ke gereja menurut Aloysius Rukun Haryoto tidak mengurangi makna tuguran. Dalam suasana keprihatinan umat Katolik menurutnya tetap bisa berdoa di rumah masing-masing.

Melalui penggunaan teknologi umat juga tetap bisa mengikuti perayaan Ekaristi meski harus menyambut secara rohani.

“Tuguran secara fisik saat Kamis Putih dengan menerima Sakramen Maha Kudus tidak bisa dilakukan namun diterima di dalam hati,” cetusnya.

Tuguran di depan Sakramen Maha Kudus menurut Aloysius Rukun Haryoto kerap dilakukan hingga tengah malam. Umat akan berdoa di depan Sakramen Maha Kudus untuk mengenangkan malam perjamuan hingga Yesus ditangkap.

Melalui tuguran umat diajak berjaga, berdoa bersama Yesus. Sebab malam tuguran menjadi malam yang disucikan. Dalam keprihatinan doa dilakukan tanpa lilin dan alat liturgi lengkap.

Sebelum malam tuguran, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, uskup Keuskupan Tanjungkarang menyebut berdoa di rumah menjadi masa refleksi.

Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Uskup Keuskupan Tanjungkarang memimpin Ekaristi malam Kamis Putih secara live streaming dari kapel keuskupan, Kamis malam (9/4/2020) – Foto: Henk Widi

Pada kisah Alkitab diakuinya masa berdoa di rumah menjadi sejarah awal Kekristenan. Sebab saat Yesus mengajak sebanyak 12 murid mempersembahkan roti tanpa ragi bukan dilakukan pada Sinagoga tempat ibadah orang Yahudi.

“Pada masa pandemi Covid-19 ini berdoa di rumah, tuguran di rumah tanpa Ekaristi menjadi kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga,” cetusnya.

Selama Pekan Suci yang salah satunya dirayakan Kamis Putih (9/4) malam, umat tidak bisa ke gereja. Meski hanya mengikuti Ekaristi melalui live streaming bapa uskup mengajak umat untuk tetap berdoa di rumah.

Meski tetap ada di rumah physical distancing harus dilakukan. Sebab masa pandemi Covid-19 belum bisa dipastikan kapan berakhir.

Seraya mengajak umat berada di rumah, bapa uskup mengajak umat berdoa bagi tenaga medis dan semua pihak yang mengusahakan Covid-19 berakhir.

Kegiatan tuguran yang dilakukan tanpa berada di gereja sekaligus menjadi masa karantina mandiri. Sebab dalam Alkitab contoh lockdown dalam bahtera dilakukan oleh nabi Nuh bersama keluarga dan kini menjadi contoh bagi umat selama Pekan Suci.

Lihat juga...