Wali Kota Surabaya Minta Warga Disiplin Jaga Kebersihan

SURABAYA  – Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, meminta warganya untuk istiqomah berdoa dan disiplin dalam menjaga kebersihan dan kesehatan serta tidak menyerah dalam menghadapi Virus Corona atau COVID-19 di ibu Kota Provinsi Jawa Timur itu.

“Ayo wargaku kita sama-sama berdoa di rumah masing-masing. Kemudian tetap disiplin dalam menggunakan fasilitas yang ada dan tidak keluar rumah. Maka, Tuhan akan memberikan kesembuhan dan keselamatan untuk kita semua,” kata Wali Kota Risma di Surabaya, Minggu.

Tak hanya itu, Wali Kota Risma juga berpesan kepada seluruh warga agar tidak bersedih dan tetap optimistis menghadapi wabah pandemi ini. Ia pun berharap agar warga tidak menyerah dan mengambil hikmah di setiap musibah yang ada.

“Yakinlah Tuhan menyayangi kita. Kita harus berusaha tidak usah sedih, harus tersenyum dan optimis, kita yakin Tuhan bersama kita,” ujarnya.

Wali kota perempuan pertama di Surabaya ini tidak kenal lelah untuk terus mendorong warganya agar turut serta mencegah penyebaran COVID-19.

Sebab, menurut Risma, untuk memutus mata rantai virus ini dibutuhkan keterlibatan semua pihak, baik itu pihak pemerintah, kepolisian, TNI, stakeholder, hingga masyarakat umum.

Jika selama ini upaya preventif yang dilakukan untuk mencegah COVID-19 adalah dengan cara rajin mencuci tangan, muka dan menerapkan physical distancing atau jakar sosial dan fisik, namun kali ini, Risma mengajak semua warga Kota Pahlawan untuk berdoa dan tidak menyerah dalam menghadapi COVID-19 ini.

Selain itu, Risma juga meminta agar warga Surabaya tetap mengisolasi diri secara mandiri di rumah masing-masing dengan cara tidak keluar rumah jika tidak ada keperluan yang sangat mendesak.

Koordinator Protokol Komunikasi, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya, M Fikser, mengatakan, mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2020 Tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam rangka Percepatan Penanganan COVID-19, pemkot bersama instansi terkait melakukan pembatasan pergerakan masyarakat.

Pembatasan pergerakan masyarakat yang dimaksud, lanjut Fikser, tidak menutup akses pintu masuk ke Surabaya, melainkan hanya dibatasi pergerakannya. Ia mencontohkan misalnya ada salah satu wilayah kecamatan yang akses pintu masuk dan keluar jalannya bisa tiga sampai empat, maka dipangkas menjadi satu akses jalan utama.

“Nah, di sinilah yang coba kita batasi dilakukan di pemerintah kota sendiri. Kita di lapangan sekarang sudah ada beberapa OPD (Organisasi Perangkat Daerah) yang kita bersama-sama melakukan sosialisasi kepada masyarakat di setiap titik itu,” katanya. (Ant)

Lihat juga...