Ahli: Fenomena Rob Terjadi Alamiah

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Fenomena rob atau air pasang, merupakan suatu hal yang alami. Pada saat rob mempengaruhi tempat tinggal manusia, menurut para ahli dikarenakan adanya penurunan lapisan tanah akibat buruknya tata kelola pengambilan air tanah. 

Ahli Oseanografi, Dr. Ing, Widodo Setiyo Pranowo, menyatakan istilah rob aslinya dari terminologi bahasa Jawa di Pantura, yang menggambarkan kondisi naiknya air laut pada saat kondisi pasang yang membanjiri atau menggenangi daratan.

“Jadi pada terminologi awal dulu kala, Rob dibangkitkan atau disebabkan oleh air pasang tinggi. Dengan makin perkembangan teknologi, seperti DGPS (Differential Global Positiong Sysitem), maka selain diakibatkan oleh kondisi air laut pasang, faktor penurunan muka tanah pada pesisir pantura juga makin meningkatkan intensitas terjadinya rob,” kata Widodo, saat dihubungi, Jumat (22/5/2020).

Ahli Oseanografi Dr. Ing, Widodo Setiyo Pranowo, saat dihubungi, Jumat (22/5/2020). –Foto: Ranny Supusepa

Ia menjelaskan, bahwa pasang surut adalah fenomena yang terjadinya harmonik, karena merupakan hasil dari gaya gravitasi bulan dan matahari terhadap bumi yang berotasi.

“Kondisi air laut pasang tertinggi umumnya ketika posisi matahari, bulan dan bumi sejajar. Posisinya bisa, bumi diapit oleh bulan dan matahari, atau ketika posisinya bulan berada di antara bumi dan matahari,” urainya.

Ketika posisi bulan berada di antara bumi dan matahari, sering disebut sebagai supermoon. “Sehingga BMKG dan Pushidrosal TNI-AL sering memberikan peringatan kepada masyakarat agar waspada ketika supermoon, karena ditakutkan akan terjadi rob yang lebih parah dan lebih luas,” ucap Widodo.

Widodo menyebutkan, bahwa dampak Rob secara umum adalah adanya genang air laut akibat pasang tinggi atau tertinggi yang masuk ke darat.

Menurutnya, lamanya genangan antara 3-6 jam, tergantung tipe dari pasang surut di tiap daerah. Yang patut diwaspadai adalah ketika rob terjadi pada musim penghujan. Misalkan dengan skenario terburuk, rob terjadi pada puncak musim hujan.

“Kondisi air laut adalah saat pasang tertinggi, sementara terjadi hujan lebat dan berlangsung cukup lama melingkupi wilayah hulu hingga hilir, maka gelontoran air ke muara akan tertahan oleh air pasang di wilayah pesisir. Hal ini akan makin meningkatkan tinggi genangan air dan memperpanjang durasi genangan air,” paparnya.

Sementara, dampak rob yang signifikan dapat mempengaruhi aktivitas manusia di daratan pesisir. “Contohnya budi daya tambak ikan atau udang yang bisa lepas. Terus bila rob menggenangi jalan, maka menghambat arus lalulintas. Bila ada bangunan atau kendaraan yang secara berkala terendam air laut dari rob yang bersifat korosif, tentunya akan cepat rusak. Ketika air rob yang menggenangi wilayah pemukiman atau industri sekaligus menggenangi got-got, air kotor got akan bercampur dengan genangan air dan mencemari pemukiman,” urainya.

Kaitan antara rob dengan air tanah, dijabarkan oleh Ahli Geohidro, Dr. Mohamad Sapari Dwi Hadian, MT., sebagai penurunan lapisan tanah akan membuat pengaruh rob lebih dirasakan.  “Penurunan lapisan tanah sebagai akibat pengambilan air tanah secara berlebihan mengakibatkan rob makin masuk ke daratan,” ujarnya saat dihubungi terpisah.

Bukan hanya masuknya air yang menyebabkan banjir, Sapari juga menyebutkan pengambilan air tanah ini bisa mempengaruhi kondisi struktur bangunan.

“Karena adanya kekosongan pada struktur batuan atau akifer, maka akan ada potensi penurunan pada struktur bangunan,” pungkasnya.

Lihat juga...