Antisipasi Rob dengan Mangrove

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Masuknya rob hingga jauh ke wilayah pemukiman, dinyatakan para ahli sebagai bentuk kesalahan manusia atas tidak mempertimbangkan sains dalam mengembangkan tata ruang pembangunan. Untuk antisipasi, salah satu yang diajukan adalah penanaman mangrove. 

Ahli Oseanografi Widodo Setiyo Pranowo menyatakan bahwa rob adalah fenomena alamiah. Secara sains, hal itu bisa dipelajari.

“Rob itu normal. Yang salah manusia yang keliru menata dan memanfaatkan ruang. Bencana rob dapat ditangani secara adaptif dan/atau mitigatif, tergantung dari kondisi karakteristik lingkungan, sosial dan budaya dari wilayah yang terkena rob,” kata Widodo saat dihubungi, Rabu (27/5/2020).

Ahli Oseanografi Widodo Setiyo Pranowo saat dihubungi, Rabu (27/5/2020). -Foto Ranny Supusepa

Contoh yang adaptif, urainya, bila karakteristik pesisirnya landai dan jenis tanahnya berupa sedimen, mungkin bisa ditanami dengan mangrove, sehingga akan dapat menangkap sedimen yang lebih banyak sehingga secara natural akan membentuk seperti tanggul pantai yang menahan rob.

Sea level rise bisa juga meningkatkan intensitas dari rob namun itu kalau jangka pendek susah dilihat. Jadi harus dilihat dengan data perubahan muka laut dan pasang surut dalam jangka waktu yang cukup panjang misal lebih dari 30 tahun,” ucapnya.

Ia mengungkapkan saat melakukan pengamatan pada rob yang menggenangi Fasilitas Riset KKP di Muara Baru yakni Gedung Balai Riset Perikanan Laut, ternyata tinggi genang rob hasil terukur sama dengan ketinggian pasang surut pada umumnya di Teluk Jakarta.

“Sehingga rob yang terjadi adalah lebih dikarenakan land subsidence atau penurunan muka tanah pesisir di Muara Baru tersebut,” tandasnya.

Manager Spatial Planning The Nature Conservancy (TNC) Yusuf Fajariyanto menyatakan mangrove bisa digunakan untuk menghambat Rob.

“Semakin rapat dan semakin luas mangrove-nya akan semakin tinggi tingkat pengurangan dampak rob-nya,” kata Yusuf saat dihubungi terpisah.

Manager Spatial Planning The Nature Conservancy (TNC) Yusuf Fajariyanto saat dihubungi, Rabu (27/5/2020). -Foto Ranny Supusepa

Ia menyatakan bahwa keberadaan mangrove sebagai suatu ekosistem yang kompleks memiliki peran penting untuk lingkungan sekitarnya.

“Peran ekologis mangrove adalah melindungi dan melestarikan kawasan pesisir. Salah satunya melindungi garis pantai dan kehidupan dibelakangnya dari gempuran tsunami dan angin, karena kondisi tajuknya yang relatif rapat. Dan kondisi peraturannya yang kuat dan rapat mampu mencengkeram dan menstabilkan tanah habitat tumbuhnya. Sekaligus mencegah terjadinya salinisasi pada wilayah-wilayah di belakangnya,” urainya.

Selain itu, mangrove juga mampu melindungi padang lamun dan terumbu karang, karena sistem perakarannya mampu menahan lumpur sungai dan menyerap berbagai bahan pollutant. 

“Jadi secara ekologis pada akhirnya akan dapat melindungi kehidupan berbagai jenis flora dan fauna yang berasosiasi dengan padang lamun dan terumbu karang,” urainya lebih lanjut.

Secara fisik, vegetasi hutan mangrove juga berperan dalam melindungi wilayah daratan dari abrasi dan tsunami.

“Berarti, pembangunan hutan mangrove juga akan sekaligus dapat mengurangi ancaman tsunami bagi berbagai kota besar dan wilayah pesisir dari rob,” ujar Yusuf.

Berdasarkan pengalaman di lapangan, akibat gelombang tsunami 26 Desember 2004, menunjukkan bahwa wilayah pesisir NAD dan Nias yang mengalami kerusakan berat adalah pada wilayah pesisir yang tidak ada penyangga mangrove atau pun hutan pantai lainnya.

Lihat juga...