Beternak Kelinci Pedaging, Mudah dan Menguntungkan

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Budi daya kelinci pedaging memiliki prospek yang menjanjikan. Permintaan pasar yang tinggi, ditambah cara pengembangbiakannya yang relatif mudah, menjadikan ternak kelinci pedaging ini menjadi bisnis menggiurkan.

“Kelinci termasuk hewan yang perkembangbiakannya cepat dan banyak. Budi dayanya pun relatif cepat, hanya membutuhkan waktu tiga bulan untuk dapat dipanen. Selain itu, perawatan kelinci juga relatif mudah, termasuk soal pakan,” papar Prahayuda Febrianto, salah seorang peternak kelinci di Semarang, Senin (4/5/2020).

Pria 32 tahun tersebut menuturkan, untuk beternak kelinci tidak membutuhkan biaya dan lahan yang besar. Dengan ketekunan, usaha ini dapat cepat menjadi besar karena didukung produktivitas kelinci yang sangat tinggi. Dalam setahun, kelinci dapat beranak 4-8 kali, sehingga sebagai peluang bisnis sangat tepat karena cepat berkembang.

Budi daya kelinci pedaging memiliki prospek yang menjanjikan. Permintaan pasar yang tinggi, ditambah cara pengembangbiakannya yang relatif mudah, menjadikan ternak kelinci menjadi bisnis menggiurkan. –Foto: Arixc Ardana

“Kebutuhan paling mendasar dalam beterrnak kelinci tentu saja kandang. Tidak membutuhkan persyaratan khusus, namun yang pasti kandang tersebut kering dan memiliki sirkulasi udara yang baik. Kandang bisa menggunakan bambu atau kawat besi, disesuaikan modal yang dimiliki,” terangnya.

Selain itu, perawatan kelinci juga tidak membutuhkan banyak tenaga kerja. Bahkan, bisa dilakukan sebagai usaha sambilan di sela kesibukan utama.

“Pakan bisa diberikan dua kali sehari, pagi dan sore hari, sehingga kesibukan utama kita pada sela-sela waktu itu juga bisa kita kerjakan. Jadi, ternak kelinci ini bisa jadi sambilan, namun menguntungkan,” papar karyawan perusahaan swasta di Semarang tersebut.

Untuk pakan, ada banyak sayuran yang bisa dipilih, mulai dari kol, kubis, kangkung, hingga wortel. Selain itu, dikombinasikan dengan konsentrat atau pellet buatan pabrik, yang telah mengandung nilai gizi sesuai kebutuhan kelinci.

“Perbandingannya 60: 40, artinya 60 pakan sayur hijau, sementara sisanya konsentrat atau pelet. Khusus untuk sayuran, sebelum diberikan sebagai pakan, sebaiknya diangin-anginkan terlebih dahulu. Tujuannya untuk mengurangi zat toksik yang terdapat pada tanaman serta menurunkan kadar air, untuk mencegah kelinci tidak diare,” terangnya.

Terlebih untuk kangkung dan kubis yang memiliki kandungan gas, jika masih segar diberikan sebagai pakan, justru bisa mengakibatkan kembung pada kelinci hingga diare.

“Sebelum diberikan, sayuran dipotong-potong untuk memudahkan kelinci, baru kemudian dicampur pelet, ” ungkap peternak yang sudah memulai usaha sejak tiga tahun lalu tersebut.

Pemberian air minum juga penting, meskipun kelinci sudah mendapat asupan air dari pakan hijauan. Namun agar kebersihan dan kelembaban kandang tetap terjaga, ada baiknya air minum tersebut diletakkan di wadah khusus, sehingga tidak tumpah bila terkena gerakan kelinci.

“Saya gunakan wadah minum dengan tutup, jadi bila tidak diminum, tutup air otomatis akan menutup, sehingga tidak membasahi kadang. Saya bikin sendiri dari botol kemasan air minum. Jika mau praktis, bisa juga beli yang sudah jadi di pet shop, atau toko pakan ternak,” lanjutnya.

Sanitasi kandang juga harus dijaga untuk mencegah bau kotoran kelinci. Ada baiknya, pembersihan kandang dilalukan sebelum memberikan makan pada pagi hari. Hal ini dilakukan agar kelinci merasa lebih tenang. Pembersihan kadang secara rutin juga untuk mencegah adanya penyakit.

Selain dari dagingnya, keuntungan juga bisa diperoleh dengan menjual kotoran kelinci sebagai pupuk kandang, atau pun menjual bulunya. Anakan kelinci pun banyak yang mencari, hingga bisa kita jual untuk menambah penghasilan.

Yuda, panggilan akrabnya, menuturkan untuk jenis kelici yang dipeliharanya cukup beragam, mulai dari Rex atau kelinci bulu karpet, New Zealand hingga kelinci lokal. Mengenai harga jual, tergantung dari berat dan kondisi kelinci.

“Kalau secara umum, harga kelinci pedaging di pasaran per kilonya berkisar Rp50ribu-60 ribu. Harga dari daging kelinci relatif stabil dan tidak sering mengalami penurunan atau kenaikan. Namun saat pandemi Covid-19 ini memang cukup terimbas,” jelasnya.

Hal tersebut karena minimnya permintaan daging kelinci, sehingga peternak kesulitan untuk menjual hasil produksinya.

“Daging kelinci ini kan umumnya sering dijual di tempat wisata dan rumah makan, namun seiring dengan adanya Covid-19, banyak rumah makan tutup. Tempat wisata juga tutup, jadinya permintaan menurun,” urainya lebih jauh.

Persoalan serupa juga dipaparkan Mulyadi, yang juga kawan peternak Yuda. “Jika pada kondisi biasa, minimal 5-10 kilogram daging kelinci yang bisa kita jual per hari, terutama saat weekend. Namun dengan kondisi sekarang ini, permintaan itu turun lebih dari separuhnya,” terangnya.

Untuk mensiasatinya, pihaknya berupaya menawakan daging kelinci tersebut dari mulut ke mulut antarteman dan relasi, hingga online.

“Mudah-mudahan pandemi Covid-19 ini segera berakhir. Kita juga bisa kembali berproduksi seperti semula,” pungkasnya.

Lihat juga...