Cina Dorong Rakyat Taiwan Majukan Reunifikasi

BEIJING – Cina akan mendorong rakyat Taiwan untuk bergabung dalam menentang kemerdekaan pulau itu dan mempromosikan “reunifikasi”, kata Perdana Menteri China Li Keqiang pada Jumat. Pernyataannya itu tampaknya akan memperburuk hubungan Beijing  dengan  Taipei.

Cina menggambarkan Taiwan sebagai isu teritorial yang paling sensitif dan penting, dan tidak pernah menihilkan kemungkinan  penggunaan kekuatan untuk membuat provinsi itu patuh di bawah kendalinya.

Pemimpin Taiwan, Tsai Ing-wen, dalam upacara pelantikan untuk periode ke duanya di Taipei, Rabu lalu (20/5), mengatakan Taiwan tidak bisa menerima menjadi bagian dari Cina di bawah tawaran otonomi “satu negara, dua sistem”. Ia sangat menolak klaim kedaulatan Cina atas Taiwan.

Li, dalam laporan kerjanya pada awal pertemuan tahunan parlemen Cina, mengatakan negaranya akan “dengan tegas menentang dan menghalangi segala kegiatan separatis yang mendukung kemerdekaan Taiwan”.

Cina akan meningkatkan kebijakan dan langkah-langkah untuk mendorong pertukaran dan kerja sama di seluruh Selat Taiwan, dan melindungi kesejahteraan rakyat Taiwan, kata Li menambahkan.

“Kami akan mendorong mereka untuk bergabung dengan kami dalam menentang kemerdekaan Taiwan dan mempromosikan reunifikasi Cina. Dengan upaya ini, kami pasti dapat menciptakan masa depan yang indah untuk peremajaan bangsa Cina,” kata Li.

Cina menerjemahkan kata “tong yi” sebagai “reunifikasi”, tetapi juga dapat diterjemahkan sebagai “unifikasi”, sebuah istilah dalam bahasa Inggris yang disukai oleh banyak orang di Taiwan yang menunjukkan, bahwa pemerintah komunis Beijing tidak pernah memerintah Taiwan, sehingga tidak mungkin “disatukan kembali”.

Taiwan yang demokratis tidak menunjukkan minat untuk diperintah oleh Cina, yang otokratis.

Cina telah menawarkan kepada Taiwan model “satu negara, dua sistem”, yang seharusnya menjamin tingkat otonomi yang tinggi. Beijing menggunakan model tersebut untuk menjalankan bekas koloni Inggris, Hong Kong. Namun, semua partai besar Taiwan telah menolaknya.

Menanggapi pidato Li, Dewan Taiwan Urusan Daratan mengatakan rakyat Taiwan dengan tegas menentang proposal “satu negara, dua sistem”, yang “meremehkan Taiwan dan merusak status quo di Selat Taiwan”.

Pada Jumat, Cina mengusulkan undang-undang baru untuk Hong Kong yang mengharuskannya untuk segera memberlakukan peraturan keamanan nasional. Proposal UU itu dianggap sebagai langkah yang bertentangan dengan konsep “satu negara, dua sistem”.

Cina percaya, Tsai adalah separatis yang memperjuangkan kemerdekaan Taiwan. Sementara itu, Tsai mengatakan Taiwan sudah menjadi negara merdeka yang disebut Republik Cina, nama resminya.

Taiwan telah mengeluhkan peningkatan gangguan oleh militer Cina sejak virus corona mulai mewabah, dengan jet tempur dan kapal angkatan laut secara teratur mendekati pulau itu beserta latihan, yang digambarkan oleh Cina sebagai kegiatan rutin. (Ant)

Lihat juga...