Dikira ‘Active Asteroid’ Ternyata Komet Menyamar

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Kehebohan hadirnya 2019 LD2 beberapa waktu lalu, yang dinyatakan sebagai active asteroid dan membangkitkan harapan para astronom, ternyata merupakan komet yang sedang menyamar. Akhirnya, si bintang berekor ini diberi nama P/2019 LD2.

Staf Astronomi Planetarium dan Observatorium Jakarta (POJ), Mohammad Rayhan, menyatakan, bahwa sehari setelah penemuannya, diketahui bahwa asteroid ini sebenarnya adalah sebuah komet yang ‘menyamar’ dan menyelinap di orbit milik gerombolan asteroid trojan.

Staf Astronomi Planetarium dan Observatorium Jakarta (POJ) Mohammad Rayhan saat dihubungi, Kamis (28/5/2020) – Foto: Ranny Supusepa

“Jadi dia bukan asteroid aktif, tapi hanyalah komet periodik yang mengorbit di sekitar planet Jupiter dan punya kala revolusi yang relatif sebentar,” kata Rayhan saat dihubungi, Kamis (28/5/2020).

Rayhan menyatakan bahwa Asteroid aktif sendiri sudah lama ditemukan, sejak tahun 1979, yaitu 7968 Elst–Pizarro. Meskipun keaktifannya, dikarenakan munculnya ekor seperti komet, baru ditemukan pada tahun 1996.

“Jadi Active Asteroid adalah sebuah benda langit kecil tata surya yang memiliki orbit dengan karakteristik asteroid namun memiliki visual fisik seperti komet,” ujarnya.

Tapi khusus 2019 LD2, pada akhirnya lebih mirip komet dibanding asteroid karena karakteristik orbitnya yang mirip asteroid hanya sementara.

“Makanya akhirnya diberi nama P/2019 LD2 sebagai nama kometnya. P artinya tipe komet periodik,” tandasnya.

Kepala UPT OAIL ITERA, Hakim Luthfi Malasan, menjelaskan, Asteroid itu sumbernya dua yakni sabuk asteroid yang berlokasi antara Mars dan Jupiter serta sabuk Trojan.

Kepala UPT OAIL ITERA Hakim Luthfi Malasan saat dihubungi, Kamis (28/5/2020) – Foto: Ranny Supusepa

“Asteroid dari Sabuk Trojan jarang sekali bisa diamati. Tapi saat ini bisa diamati dengan misi ATLAS. Sangat mungkin bahan dasar Asteroid yang berasal dari sabuk Trojan ini es atau materi yang volatile atau mudah tersublimasi. Sedang materi dasar asteroid di sabuk asteroid itu batuan dan besi yang tidak mudah menguap ketika mendekati matahari,” kata Hakim saat dihubungi, Kamis (28/5/2020).

Untuk mempelajari tentang asteroid dari Sabuk Trojan ini, Hakim menyebutkan NASA merencanakan misi Lucy untuk mengobservasi lokasi sabuk Trojan di Jupiter dari dekat.

“Diperlukan teleskop diameter besar untuk mengamati asteroid ini. Kita belum ada itu. Salah satu misi dari teleskop 3,8 meter Observatorium Nasional di Timau adalah untuk mengamati asteroid seperti ini,” pungkasnya.

Lihat juga...