Gapoktan Wa Wua Kembangkan Teh Rosella di Sikka

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

MAUMERE — Tanaman Rosella yang mudah dibudidayakan belum banyak dilirik para petani di Kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk dikembangkan menjadi berbagai produk turunan yang bermanfaat.

Ignatius Iking PPL Swadaya Desa Langir Kecamatan Kangae Kabupaten Sikka, NTT saat ditemui, Selasa (26/5/2020).Foto : Ebed de Rosary

Padahal, tanaman Rosella selama ini juga banyak ditanami masyarakat di pekarangan rumah bahkan di kebun namun belum diolah menjadi produk yang bernilai jual dan mendatangkan keuntungan.

“Saya sejak tahun 2009 mulai menanam Rosella dan mendapatkan bibit dari LSM.  Saya tanam di sekitar rumah untuk benih terlebih dahulu,” kata Ignatius Iking, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Swadaya Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, NTT, Selasa (26/5/2020).

Iking menyebutkan, tahun berikutnya (2010) dirinya menanam dari benih yang sudah tersedia dan daunnya setelah dikeringkan dijual dengan harga Rp.1.500 per kilogramnya. Dirinya pun memberanikan diri menanyakan kepada pengurus LSM Dian Desa untuk apa daun rosella tersebut dan dijawab dikirim ke Bali untuk diolah menjadi teh dan dijual.

“Akhirnya saya mulai tanam untuk konsumsi sendiri dengan membuat teh dan sirup. Selain berpikir ini peluang untuk mendapatkan uang sehingga saya juga mulai menjualnya kepada tetangga dan kenalan,” ungkapnya.

Setelah mulai banyak yang tertarik dan mengkonsumsi produknya, Iking bersama Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Wa Wua yang juga ikut dirintisnya, mulai berpikir untuk memproduksi dalam jumlah besar.

Pihaknya pun mulai berjuang hingga mendapatkan nomor Produk Industri rumah Tangga dan mulai membuat kemasan produk teh rosella ukuran 50 gram yang dijual seharga Rp15 ribu per bungkus.

“Saat ini sudah banyak yang beli dan kami menitipnya di kios di bandara Frans Seda. Kopdit Pintu Air juga bersedia bekerjasama dan kami bisa menitipkan produk kami dijual di swalayan mereka,” tuturnya.

Saat ini tambah Iking, pihaknya sedang berpikir untuk mengembangkan kopi rosella dari biji rosella karena selama ini hanya memanfaatkan daunnya saja untuk membuat teh.

Mantan Kepala Desa Langir ini mengaku berkat mengkonsumsi teh rosella hampir setiap hari, kakinya yang selama ini kesemutan mulai tidak terasa lagi dan badan menjadi lebih segar sehingga dirinya tetap rutin mengkonsumsinya.

“Tahun 2019 lalu kami buat Sekolah Lapang khusus untuk tanam rosella dengan menggunakan dana Desa Langir. Sudah ada banyak petani yang mau menanam di pekarangan rumah dan lahan kebun mereka,” jelasnya.

Salah seorang pegiat wisata dan aktivis peduli lingkungan Wenefrida Efodia Susilowati mengaku selalu mengkonsumsi teh rosella dan dirinya juga sering membelinya dari Gapoktan Wa Wua.

Susi sapaannya katakan dirinya juga menyuguhkan teh rosella kepada wisatawan asing yang selalu ramai menginap di home stay mereka dan mereka juga tertarik untuk mengkonsumsinya.

“Saya selalu rutin mengkonsumsi teh rosella dan sering menawarkan kepada para tamu yang datang maupun wisatawan yang menginap di home stay saya,” ungkapnya.

Lihat juga...