Guru Besar: Penggunaan Obat Keras Harus Lewat Resep Dokter

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

Guru Besar Farmasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (UGM) Prof. Dr. Zullies Ikawati, Apt, saat dihubungi, Rabu (20/5/2020) - Foto Ranny Supusepa

JAKARTA — Beredarnya tulisan di media sosial terkait penggunaan Ventolin dan Metilprednisolon secara bebas untuk meredakan gejala sesak napas, batuk hingga COVID-19 ditanggapi dengan tegas oleh para ahli.

Guru Besar Farmasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (UGM) Prof. Dr. Zullies Ikawati, Apt, menyatakan Ventolin adalah nama merk obat untuk pelonggar saluran nafas (bronkodilator), yang berisi obat salbutamol.

“Ventolin dapat dijumpai dalam bentuk inhalasi, injeksi maupun tablet, tetapi yang paling banyak dipakai untuk pasien asma adalah bentuk inhalasi. Obat ini termasuk obat keras dan harus diperoleh dengan resep dokter. Ia digunakan untuk melonggarkan saluran nafas ketika terjadi serangan sesak nafas,” kata Prof Zullies saat dihubungi, Rabu (27/5/2020).

Sementara, Metilprednisolon adalah obat anti radang, untuk mengurangi peradangan dan digunakan pada banyak penyakit yang bisa dijumpai dalam bentuk tablet maupun injeksi.

“Obat Ventolin efek samping utamanya adalah jantung berdebar, tapi karena penggunaannya secara inhaler atau dihirup, dosis yang digunakan relatif kecil, sehingga secara umum efek sampingnya tidak signifikan,” ujarnya.

Obat Metilprednisolon, lanjutnya, adalah termasuk obat golongan kortikosteroid yang jika digunakan dalam jangka pendek (sampai 10 hari), efek sampingnya relatif tidak terlalu signifikan dibandingkan manfaatnya.

“Efek sampingnya baru akan muncul jika dipakai jangka panjang dengan dosis yang besar, misalnya terjadi moon face (wajah membulat), osteoporosis, kenaikan kadar gula darah,” tandasnya.

Prof Zullies menyebutkan, kedua obat ini bukanlah obat yang terlarang untuk diperjualbelikan. Jika Apoteker dapat memberikan informasi yang jelas tentang cara penggunaan dan lain-lain, masih dimungkinkan konsumen memperolehnya tanpa resep, terutama jika obat tersebut merupakan obat ulangan.

“Namun memang ini bukanlah tindakan bijaksana, sebaiknya pasien disarankan untuk memeriksakan ke dokter untuk memastikan diagnosa penyakitnya dan mendapatkan resep obat tersebut,” ujarnya tegas.

Tetapi sering terjadi konsumen sendiri yang “memaksa” untuk membeli sehingga organisasi profesi selalu mengimbau agar apoteker menjalankan prakteknya secara bertanggung-jawab. Dalam hal ini memang tidak ada sanksi hukum, namun berupa peringatan dan pembinaan, jika ada pelanggaran.

Obat-obat ini berbeda dengan golongan psikotropika atau narkotika yang memang lebih ketat pengawasannya dan memiliki sanksi hukum, karena dapat berkaitan dengan tindakan penyalahgunaan obat.

“Dalam hal penyakit asma di mana Ventolin sering digunakan, penyakitnya adalah penyakit kronis yang memerlukan terapi jangka panjang. Apoteker dapat mengedukasi pasien terkait pengenalan terhadap penyakitnya, apa yang harus dihindari, apa yang harus dilakukan jika kambuh, dan pasien memang disarankan memiliki atau menyediakan obatnya setiap saat untuk berjaga-jaga jika terjadi kekambuhan. Apoteker juga harus mengedukasi cara penggunaannya, karena memerlukan teknik khusus,” ucapnya tegas.

Salah seorang apoteker yang dihubungi, Apt. Nina Kurnia,S.Si menyatakan dalam status yang menyatakan penggunaan Ventolin dan Metilprednisolon terlihat pembuat status bukanlah expert dan tidak memiliki banyak pengetahuan tentang COVID 19.

“Penyakit covid ini masih perlu dipelajari dan tidak bisa disamakan dengan penyakit flu biasa. Apalagi kalau tingkat keparahan penyakitnya tinggi disertai penyakit comorbid lainnya,” ujarnya.

Kalau untuk yang mengalami gejala ringan, menurutnya, bisa saja menggunakan cara yang disebutkan dalam tulisan yang viral tersebut. Atau dengan isolasi diri 14 hari dan SPT diatasi.

“Tapi bagaimana dengan yang gejalanya parah. Siapa yang jamin kalau kita terkena, gejalanya hanya akan ringan saja,” imbuhnya.

Nina menyatakan Metilprednisolon biasa digunakan untuk mengurangi radangnya, tapi untuk penggunaan pada virus harus memperhitungkan baik-buruknya, karena Metilprednisolon ini adalah golongan kortikosteroid yang menekan sistem imunitas tubuh.

“Ventolin mungkin bisa membantu untuk yang sesak dengan mengurangi kontraksi otot saluran napas. Tapi keduanya merupakan obat keras yang membutuhkan konsultasi dokter ataupun apoteker. Memiliki efek samping sehingga tidak boleh swamedikasi,” ujarnya.

Nina menjelaskan di apotek itu dikenal obat OWA yaitu obat wajib apotek, yang penyerahan pada pasien bisa dilakukan tanpa resep dokter.

“Tapi tentunya setelah adanya pertimbangan tertentu dari apoteker terkait. Salbutamol atau Ventolin merupakan OWA. Jadi jika ada pasien datang untuk membeli salbutamol, bisa saja apoteker setelah melalui wawancara dan pertimbangan tertentu bisa menyerahkan salbutamol tanpa resep maximal 20 tab atau 1 pieces untuk inhaler. Kalau saat assesment kita ketahui untuk COVID, ya tidak akan diserahkan,” pungkasnya.

Lihat juga...