Hingga Lebaran Hari Kedua, 135 Napi Asimilasi Ditangkap Polisi

Kepala Bagian Penerangan Umum Polri, Kombes Pol Ahmad Ramadhan – Foto Ant

JAKARTA – Mabes Polri mencatat, hingga hari kedua Lebaran, Senin (25/5/2020) sudah ada 135 Narapidana (Napi) asimilasi yang kembali ditangkap jajaran Polri karena kembali berulah.

Sebelumnya, hingga Selasa (19/5/2020), Polri telah menangkap 125 narapidana ‎asimilasi, karena mereka kembali melakukan kejahatan. Sepekan kemudian napi asimilasi yang ditangkap bertambah 10 orang. “Sampai hari kedua Lebaran, jumlah narapidana yang kembali ditangkap polisi karena melakukan pidana ada 135 orang,” kata Kepala Bagian Penerangan Umum Polri, Kombes Pol Ahmad Ramadhan, di Jakarta, Senin (25/5/2020) malam.

Kombes Ramadhan menyebut, ke-135 narapidana tersebut‎ ditangani di 23 Polda. Polda yang paling banyak menangani Napi asimilasi adalah Jawa Tengah dan Sumatera Utara. Masing-masing menangkap 17 orang. Selanjutnya Polda ‎Riau menangani 12 narapidana asimilasi. Kemudian Polda Jawa Barat menangani 11 napi, dan Polda Kalbar menangani 10 napi.

Polda Sumbar dan Polda Jatim masing-masing menangani tujuh narapidana‎, Polda Metro Jaya, Polda Lampung, Polda Sumsel menangani masing-masing enam narapidana dan Polda Sulteng, Polda DIY menangani masing-masing lima narapidana.

Kemudian Polda Kaltim, Polda Kalsel menangani masing-masing empat narapidana. Polda Banten, Polda Kaltara, Polda Kalteng, Polda Sulsel menangani masing-masing tiga narapidana. Polda Sulut menangani dua narapidana. Polda NTB, NTT, Papua Barat dan Bali masing-masing menangani satu narapidana.

Jenis kejahatan yang dominan dilakukan para napi asimilasi tersebut adalah kejahatan pencurian dengan pemberatan, pencurian kendaraan bermotor, pencurian dengan kekerasan, narkoba, penganiayaan dan pengeroyokan, pemerkosaan dan pencabulan. “Ada juga kasus penipuan dan penggelapan, perjudian dan pembunuhan,” tuturnya.

Motif napi asimilasi kembali melakukan kejahatan, umumnya karena faktor ekonomi. Terutama pada tindak kejahatan terhadap properti seperti curat, curas dan curanmor. Selain itu, motif lainnya, ada yang didorong karena rasa sakit hati dan dendam, sehingga melakukan tindakan pengeroyokan dan penganiayaan bahkan sampai pembunuhan. (Ant)

Lihat juga...