Hingga Mei 2020, BI Longgarkan Likuiditas Rp583,5 Triliun

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (26/3/2020) – Foto Ant

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) telah melakukan kebijakan pelonggaran likuiditas atau quantitative easing (QE), untuk memulihkan kinerja ekonomi. Hingga pertengahan Mei 2020, nilai yang diberikan mencapai Rp583,5 triliun.

“BI menambah lagi quantitative easing, dengan injeksi likuiditas ke perbankan dalam jumlah besar, sehingga secara total mencapai sekitar Rp583,5 triliun,” kata Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam keterangan pers virtual di Jakarta, Kamis (28/5/2020).

Perry mengatakan, pelaksanaan kebijakan tersebut mencakup realisasi QE selama periode Januari-April 2020 sebesar Rp415,8 triliun. Realisasi itu berasal pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dari pasar sekunder Rp166,2 triliun, lelang Term Repo perbankan Rp160 triliun, Forex Swap Rp36,6 triliun dan penurunan GWM rupiah Rp53 triliun.

Kemudian, realisasi tambahan QE khusus pada Mei mencapai Rp167,7 triliun. Antara lain berasal dari, penurunan GWM rupiah Rp102 triliun, tidak mewajibkan tambahan Giro bagi yang tidak memenuhi RIM Rp15,8 triliun, dan lelang Term Repo perbankan maupun Forex Swap Rp49,9 triliun.

Perry memastikan, melalui upaya tersebut perbankan mempunyai likuiditas rupiah yang mencukupi, untuk menjalankan kebijakan restrukturisasi kredit, maupun untuk manajemen arus kas. Selain itu, kebijakan moneter ini juga bersinergi dengan stimulus fiskal, yang sudah dirumuskan pemerintah dalam bentuk bantuan sosial, insentif industri, dan pemulihan ekonomi untuk mendorong konsumsi masyarakat, produksi dan investasi dunia usaha, baik UMKM maupun koperasi.

Menurutnya, bank sentral akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan OJK, untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran COVID-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu. “Termasuk merumuskan langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh, untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan,” tandasnya.

Sementara itu untuk aliran modal asing atau inflow, melalui instrumen Surat Berharga Negara (SBN), selama periode Mei 2020 disebut BI mencapai Rp9,12 triliun. “Hal ini membuktikan, meredanya kepanikan global dan langkah-langkah penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia,” kata Perry lebih lanjut.

Perry menyebut, aliran modal itu mencakup inflow pada minggu pertama Mei sebesar Rp2,97 triliun, dan minggu kedua Mei sebesar Rp6,15 triliun. Masuknya aliran modal karena kepercayaan investor itu disebut Perry, memicu terjadinya penurunan imbal hasil (yield) SBN di pasar sekunder. Sebelum pandemi COVID-19, yield SBN tercatat sebesar 8,0 persen, dan pada Jumat (15/5/2020) turun menjadi 7,76 persen. Kemudian pada Selasa (26/5/2020) kembali turun menjadi 7,22 persen.

BI menilai, perbedaan suku bunga yang tinggi sebesar 6,7 persen, antara yield SBN 10 tahun dengan obligasi pemerintah AS selama 10 tahun, telah menarik para investor. Ia memastikan, masuknya aliran modal juga menjadi penyebab terjadinya penguatan rupiah yang saat ini telah berada pada kisaran Rp14.700 per dolar AS. “Kondisi rupiah yang stabil, memberikan keyakinan bahwa nilai tukar rupiah akan terus menguat menuju ke arah tingkat fundamental,” tandas Perry.

Meski demikian, pergerakan serupa tidak dialami oleh instrumen saham yang masih mencatatkan adanya aliran modal keluar atau outflow selama periode Mei sebesar Rp2,72 triliun. (Ant)

Lihat juga...