Ini Alasan Beberapa Daerah Tetap Terkena Banjir Rob

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Terpaparnya sebagian wilayah Indonesia oleh banjir rob, seperti pesisir pantau utara Jawa, menurut para ahli seharusnya tidak terjadi. Karena beberapa wilayah tersebut termasuk kategori pantai tumbuh.

Guru Besar Teknik Geologi Universitas Padjajaran Bandung, Prof. Dr. Ir. Adjat Sudrajat, M.Sc menyatakan, rob merupakan banjir pasang yang memiliki siklus harian siang malam dan siklus bulanan karena daya tarik bulan.

Guru Besar Teknik Geologi Universitas Padjajaran Bandung, Prof. Dr. Ir. Adjat Sudrajat, M.Sc, saat dihubungi, Kamis (28/5/2020) – Foto: Ranny Supusepa

“Umumnya pada pantai tumbuh, Rob tidak akan pernah terjadi. Tapi dengan adanya faktor tertentu, suatu daerah jadi terkena Rob,” kata Prof. Adjat saat dihubungi, Kamis (28/5/2020).

Ia menyebutkan land subsidence menyebabkan suatu daerah terkena rob. Dan hal yang mempengaruhinya ada empat faktor.

Land subsidence adalah penurunan muka tanah karena empat sebab utama yang bisa berjalan bersamaan, yaitu pemadatan sedimen lumpur, tekanan bangunan, penyedotan air tanah yang berlebihan dan tektonik,” kata Prof. Adjat lebih lanjut.

Menurutnya, wilayah Pantai Utara Jawa hanya sebagian kecil saja yang mengalami tektonik, penekanan dan penyedotan air tanah.

“Pada umumnya, justru Pantai Utara Jawa itu tumbuh 4 meter hingga 10 meter per tahun. Sebagai contoh, saat zaman Portugis, Gunung Muria itu sebenarnya terpisah sebagai pulau sendiri. Kini sudah menyatu dengan wilayah daratan di Pantai Utara Jawa,” paparnya.

Hal yang sama, juga terjadi pada Jakarta. Yang menurut Prof. Adjat juga termasuk kategori pantai tumbuh.

“Teluk Jakarta secara alamiah tumbuh dan terus mendangkal, cuma gangguan manusia lebih cepat. Pantai Jakarta, satu juta tahun yang lalu itu ada di Depok dan ribuan tahun lalu adanya di Senayan. Terus tumbuh 4 meter per tahun,” ujarnya.

Tapi, lanjutnya, pantai tumbuh ini membutuhkan proses untuk dapat ditempati.

“Ada prosesnya, dari rawa, menjadi kolam air payau, sawah, nanti baru bisa dihuni setelah puluhan tahun. Jadi rob, adalah risiko yang diambil karena tidak sabar menunggu alam berproses,” tandasnya.

Ahli Geohidro, Muhammad Sapari Dwi Hadian, MT menjelaskan, yang dimaksud dengan pantai tumbuh adalah pantai yang menjadi daratan.

Ahli Geohidro, Muhammad Sapari Dwi Hadian, MT, saat dihubungi, Kamis (28/5/2020) – Foto: Ranny Supusepa

“Salah satu penyebabnya adalah sedimentasi. Atau bisa juga, sedimentasi yang bersamaan dengan uplift (pengangkatan). Atau uplift saja,” kata Sapari saat dihubungi terpisah.

Prosesnya sendiri, ujar Sapari memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

“Dari mulai proses sedimentasi, lalu litifikasi atau pengerasan untuk menjadi batu. Dan saat menjadi batu ini pun belum bisa ditempati, karena air tanahnya masih asin. Jadi memang prosesnya lama,” pungkasnya.

Lihat juga...