Jelang Idulfitri Ziarah Kubur Tetap Dipertahankan Warga Lamsel

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Tradisi ziarah kubur tetap dipertahankan oleh sebagian warga di Lampung Selatan (Lamsel). Jepri, salah satu warga di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan menyebut, ziarah kubur tetap dilakukan olehnya meski masa pandemi Coronavirus Disease (Covid-19). Ziarah kubur menurutnya tetap dilakukan oleh sebagian warga yang dominan hanya berasal dari desa setempat.

Jepri menyebut meski ada larangan berkerumun, sebagian peziarah memilih menjaga jarak. Selain itu sebagian warga tetap menjalankan protokol kesehatan dengan mengenakan masker. Tradisi ziarah kubur sehari jelang Idul Fitri dilakukan oleh Jepri pada dua tempat pemakaman umum (TPU) di desa setempat. Sebab anggota keluarga yang telah meninggal dimakamkan di dua TPU berbeda.

Proses ziarah kubur menurut Jepri dilakukan dengan membersihkan makam, menabur bunga dan berdoa. Bunga yang telah diletakkan dalam wadah berisi air dan minyak wangi menurutnya jadi simbol kiriman doa dan wewangian bagi keluarga yang telah meninggal. Mendoakan leluhur dan keluarga yang telah meninggal menurutnya rutin dilakukan jelang Ramadan dan lebaran.

“Sebagian anggota keluarga asal Jakarta, Bandung pada tahun ini tidak bisa pulang kampung sehingga hanya menelpon dan menitip doa saat ziarah kubur sehingga jadi amanat untuk tetap mendoakan keluarga yang telah meninggal,” terang Jepri saat ditemui Cendana News, Sabtu (23/5/2020).

Jepri mengungkapkan tradisi ziarah kubur kerap dilakukan pada seusai salat Zuhur hingga jelang Maghrib. Pada tahun ini imbas larangan mudik jumlah warga yang melakukan tradisi ziarah makam mengalami penurunan. Penurunan jumlah peziarah mencapai 50 persen karena hanya warga dari desa setempat yang melakukan tradisi ziarah kubur.

Jumani, peziarah lainnya menyebut melakukan ziarah kubur sejak siang usai Zuhur. Sebab sebagai keluarga besar ia memiliki keluarga yang dimakamkan pada tiga TPU berbeda. TPU pertama berada di Desa Kelaten dan di Desa Pasuruan. Sebagian peziarah dominan berasal dari satu hingga dua desa bahkan jarang warga yang berasal dari luar daerah.

“Tahun sebelumnya ramai peziarah namun tahun ini imbas Covid-19 hanya keluarga terdekat yang melakukan ziarah,” terang Jumani.

Mahmud Toha, tokoh agama Islam di Desa Pasuruan menyebut tradisi ziarah kubur tidak dilarang selama pandemi Covid-19. Sebab sebagian warga yang melakukan ziarah kubur dominan hanya berasal dari satu desa. Anjuran melakukan protokol kesehatan telah diikuti oleh warga dengan mengenakan masker.

Mahmud Toha, salah satu tokoh agama di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan usai melakukan ziarah kubur di TPU desa setempat jelang Idulfitri 1441 H, Sabtu (23/5/2020) – Foto: Henk Widi

“Peziarah yang kerap bertemu kerabat melakukan salaman kini juga hanya menggunakan tanda tangan untuk salam agar tidak kontak fisik,” cetusnya.

Makna ziarah kubur yang tetap dilestarikan menurut Mahmud Toha erat kaitannya dengan pengingat diri. Secara garis besar warga yang melakukan ziarah kubur diajak untuk mengingat kematian. Selain itu anggota keluarga yang masih hidup tetap mengenang dalam doa. Amalan sunah dianjurkan terutama bagi orang tua yang telah meninggal.

Meski bisa dilakukan kapan saja jelang Idulfitri jadi pilihan untuk berziarah. Penghormatan kepada anggota keluarga yang sudah meninggal selain dianjurkan oleh agama sekaligus juga oleh tradisi suku Jawa. Sebagian warga suku Jawa yang melakukan tradisi nyekar membawa bunga dan wewangian sebagai tanda bakti bagi keluarga yang telah meninggal.

Lihat juga...