Lebaran

CERPEN EDY FIRMANSYAH

MALAM lebaran. Seekor kunang-kunang hinggap di jendela. Sayup terdengar alunan takbir berkumandang. Hujan baru saja reda.

Langit berawan pelan-pelan terurai. Angkasa tersingkap. Samar-samar tampak kerlip bintang-bintang. Kami, aku dan istriku, duduk di beranda. Bercakap-cakap sembari menikmati kuaci dan kurma usai berbuka. Mendadak istriku mengenang pertemuan kami dengan Ladrak.

“Apakah dia masih hidup lebaran ini? Atau sudah mati?” tanya istriku. Tangannya sibuk mengupas kuaci. Guntur menggelegar. Udara dingin sekali.

“Entahah. Tapi…Ah, sudahlah, Bu. Yang lalu biarlah berlalu. Tak usah dikenang-kenang lagi,” kataku sambil mengunyah kurma.

“Siapa yang bisa menghapus ingatan? Apalagi itu pengalaman paling buruk. Aku bisa memaafkannya, tapi tak akan melupakan segala yang terjadi karenanya,” sergah istriku.

Aku bertemu dengan Ladrak persis seperti malam ini. Beberapa tahun lalu. Hujan baru saja reda dan langit dipenuhi kerlip bintang-bintang dan kenikmatan jus kurma melepas dahaga akhir puasa. Kala itu hari terakhir Ramadan.

Aku bertemu dengan Ladrak di sebuah kafe bernama Manifesco, yang letaknya di jalan Jalmak, samping SMPN 8 Pamekasan. Tak ada yang aneh dari perawakannya. Kakinya tidak tiga, tangannya tidak seperti tentakel gurita. Normal saja.

Wajahnya bulat telur. Lusuh. Penuh bekas jerawat. Rambutnya bergelombang. Umurnya dua puluh delapan tahun dan ia seperti lidi, kurus, dan tinggi.

Yang aneh hanya airmukanya. Airmukanya dipenuhi kesedihan. Aku banyak melihat orang putus asa. Tapi belum pernah kulihat orang sesedih dia. Bagaimana tidak? Ia bersikeras hendak bunuh diri tepat di malam lebaran.

Tapi, entah nasib sial atau nasib buruk, takdir berkehendak lain. Rencananya selalu gagal. Nyawanya masih lekat di badan. Mungkin rasanya seperti sembelit. Atau kencing batu.

Pacarku yang kini jadi istriku yang mula-mula memperkenalkannya kepadaku dan memintaku menulis kisah hidupnya yang menurutnya menarik. Entah tragis entah lucu.

“Apa yang menarik?” tanyaku penuh selidik. Banyak orang punya pengalaman tragis. Soalnya, menceritakan ulang tak ubahnya seperti mimpi tanpa bobot. Tak peduli apakah ia mengerikan, indah atau santun, kengerian atau keindahannya sama sekali tak punya makna.

“Dia dulu seorang pembunuh bayaran. Ia telah membunuh banyak orang. Terakhir ia membunuh seorang kiai. Tepat di malam lebaran. Dan jadi titik balik hidupnya. Kiai itu bukannya menghindar atau lari, malah mendatanginya. Seolah tahu hari kematiannya. Dan tanpa perasaan takut memintanya menembaknya tepat di jantungnya. Ia menembaknya. Tapi kemudian ia merasa menyesal. Sangat menyesal dan memutuskan bunuh diri setiap malam lebaran tiba. Untuk menebus dosa-dosanya. Herannya, ia selalu gagal mengakhiri hidupnya. Seolah langit dan bumi menolak jiwa dan jasadnya.”

“Baiklah. Akan kutemui dia,” kataku.

“Semua biaya riset untuk penulisan kisah ini, temanku yang tanggung. Kirim nomor rekeningmu. Jangan sungkan,” kata pacarku memberi semangat. Tapi aku tak mengubrisnya. Tak semua masalah bisa diselesaikan dengan uang, bukan?

Menulis bagiku adalah keriangan. Itu yang membuatku masih hidup meski menderita jantung koroner dan ayan.  Aku menemui orang yang tak kukenal dengan sedikit rasa curiga jangan-jangan pacarku sedang nge-prank aku.

Aku curiga pacarku ingin membalas dendam padaku karena ketika pertama kali bertemu dengannya di tempat pemandian, aku mencemooh payudaranya yang menggelambir dan sempat menyarankan padanya untuk mengencangkan payudaranya lewat operasi plastik, sebab semua perempuan kini melakukannya secara diam-diam.

Aku mencemoohnya di depan banyak orang di kolam renang. Ia tentu saja marah. Dan sempat tak menemuiku. Sampai akhirnya ia menelponku dan memintaku bertemu dengan kenalannya itu. ”Karena hanya kamu satu-satunya teman perempuanku yang bisa menulis,” ujarnya merajuk.

Aku dan Ladrak bertemu pukul setengah lima sore di kafe itu. Beberapa pelayan tengah sibuk menyiapkan menu para pelanggan yang hendak buka bersama di kafe di hari penghabisan Ramadan.

Ketika Ladrak duduk di hadapanku, ia langsung mengeluarkan pistol dari balik jaketnya yang kebesaran dan meletakkannya di meja. Sebuah revolver. Cat besi di gagangnya terkelupas.

“Untuk jaga-jaga. Aku tak ingin mati dibunuh orang, aku juga tak ingin mati sebelum lebaran,” ujarnya.

Aku menarik napas lega meski mulanya was-was ia akan menembakku. Sambil mengunyah ketan spesial rasa ayam bekisar goreng ia bercerita pengalamannya bunuh diri yang entah mengapa selalu ingin ia lakukan tepat saat lebaran.

Apakah ia hendak menebus dosa-dosa masa silamnya dengan menghabisi nyawanya sendiri? Entahlah. Mungkin Lebaran lekat dengan bulan pengampunan.

Percobaan bunuh diri yang pertama ia lakukan dengan listrik. Tepat saat 1 syawal pukul 00.00, ia masuk ke bak mandi penuh air dan menjatuhkan kabel listrik ke air. Berharap terkena setrum dan mampus.

Tapi nyatanya tidak. Saat kabel listrik jatuh ke dalam bath up penuh air, mendadak PLN byar pet. Padam. Ia berteriak histeris. Sambil mengutuk tak habis-habis; PLN sialan! PLN sialan!

Percobaan yang kedua di malam lebaran tahun berikutnya, ia lakukan dengan melompat dari gedung tinggi. Ia menjatuhkan diri dari lantai 9 sebuah apartemen. Saat meluncur dengan kecepatan tinggi ia memejamkan mata dan berkali-kali bertakbir berharap mati sahid.

Ketika pertama kali mendarat, ia merasa telah mati dan jiwanya melayang di udara. Sampai kemudian ia mendengar teriakan histeris dan tangis orang-orang. Ketika membuka mata, ia sadar ia masih bernyawa. Kok bisa? Ternyata gedung sebelah mengalami kebakaran dan petugas pemadam menggelar ski kasur yang lebarnya seperti lapangan futsal.

Ia mendarat tepat di atasnya. Ia menangis. Orang-orang menangis. Yang tak orang ketahui, ia menangis bukan karena selamat dari maut. Tapi karena gagal menyongsong ajalnya sendiri.

Aku menduga ia punya kepribadian impulsif. Itu yang membuatnya memiliki dorongan untuk lepas dari rasa sakit dan keinginan itu tak bisa ia dikendalikan. Semakin impulsif, semakin toleran pada rasa sakit, dan semakin tidak takut akan mati.

Baca Juga

Sesederhana itu. Kata sebuah buku psikologi yang aku lupa judul dan nama pengarangnya. Karena itu percuma menggurui atau menasehatinya soal amal baik atau azab kubur. Itu sama sekali tak ada gunanya. Seperti minum kencing onta sebagai obat kuat di tengah melimpahnya viagra.

“Apakah kau pernah melakukan cara lain selain dua percobaan bunuh diri yang kau ceritakan itu?”

Ia diam. Lantas tangannya kembali meraih pistol di meja. Memutar silindernya secara acak. Meletakkan ujung pistol di keningnya, lantas menarik pelatuknya. Aku berteriak histeris dan berusaha meraih tangannya.

Para pengunjung menoleh dan ikut berteriak. Tapi terlambat. Ia telah menarik pelatuknya. Klik. Sungguh dadaku berguncang hebat. Tubuhku gemetar.

“Kau lihat, kan? Kau lihat? Bahkan bermain Russian roulette pun aku selalu dipenuhi keberuntungan,” ujarnya. Ia kembali memutar silinder pistolnya secara acak, seolah ingin menguji nasibnya sekali lagi.

Tapi aku gegas merampasnya. Kemudian aku membuka pistol itu. Sialan! Ada tiga peluru di dalamnya. Aku meletakkan pistol itu lagi di meja. Dadaku berguncang.

Setelah berbuka puasa bersama dengan dada berdebar, aku pamit pulang dan berjanji untuk ketemu dua hari lagi di tempat yang sama ini. Sepanjang perjalanan pulang aku mencoba membayangkan sebuah adegan cerita yang setidaknya bisa kutulis untuk mengisahkan semua ceritanya, tapi gagal.

Yang ada dalam pikiranku justru bukan cerita, melainkan kengerian-kengerian. Lagi pula apa yang kusaksikan barusan terlalu fiktif dibandingkan apa yang kupikirkan tentang cerita fiksi. Bahkan ditulis sebagai kisah nyata pun juga fiktif. Tapi nyata. Aneh memang. Tapi setiap hidup memang punya keanehannya sendiri.
***
AKU sudah menunggunya lebih dari lima jam di tempat yang sama sebagaimana kesepakatan tempo hari, tapi ia tak datang-datang. Aku mengabarkan hal itu pada pacarku dan pacarku berkali-kali menelponnya tapi tak jua diangkat.

“Mungkin sedang menyiapkan rencana bunuh diri yang lain lagi. Bukankah Lebaran sebentar lagi?” ujar pacarku mengakhiri pembicaraan.

Cukup masuk akal, batinku. Dan entah mengapa aku merasa kehilangan. Tak banyak orang di dunia ini yang ingin bunuh diri tapi selalu gagal. Entah gagal entah beruntung aku tak paham. Justru yang paling banyak orang yang ingin panjang umur.

Sehingga bisa saling memaafkan setiap lebaran. Aneh juga sebenarnya perasaan kehilanganku. Bukankah ia ingin melakukan bunuh diri atas kemauannya sendiri, kok, aku merasa kehilangan?

Bukankah mestinya aku bahagia dan tak terlalu merasa iba, sedangkan ia terbebas dari penderitaannya di bumi yang bagaimanapun menurut pikirannya adalah ladang derita?
***
AKU telah melupakan Ladrak. Aku menikah dengan pacarku. Sejak menikah istriku mulai rajin suntik silikon, memasang kawat gigi, diet karbo, dan ikut yoga. Dan kami punya anak perempuan berusia lima tahun.

Sampai kemudian, tiba-tiba Ladrak mengirim email padaku. Tentang upaya bunuh dirinya yang lagi-lagi, gagal. Percobaan bunuh dirinya yang entah keberapa tepat di hari lebaran adalah dengan menabrakkan diri ke mobil di jalan raya bebas hambatan.

Ia berlari dari gang sempit yang terhubung ke jalan raya yang ramai kendaraan. Kemudian tanpa menoleh, ia menyeberang. Ia tertabrak mobil. Lukanya parah. Sialnya, yang menabraknya mobil ambulan.

Ia mendapat perawatan intensif oleh seorang dokter muda yang cantik. Ia sembuh. Dan jatuh cinta pada dokter muda itu. Sialnya lagi, dokter itu ternyata lesbian.

“Mungkin aku ditakdirkan abadi. Tapi aku memikirkan cara lain kali ini. Aku akan menyerahkan diri ke polisi dan berharap dihukum mati. Apakah kau akan menulis kisahku kalau aku mati?” tulisnya di akhir email.

Sebenarnya aku telah menuliskan kisahnya. Tapi teronggok bisa dalam folder cerita di komputerku. Belum berani aku publikasikan. Karena hal itu aku selalu berpura-pura terutama pada istriku aku tak pernah menuliskan kisahnya.

“Sungguh aku tak tahu cara memulai kisahnya itu. Dia terlalu unik. Ladrak adalah cerita dari segala cerita. Ia tak pernah ada ujungnya,” kataku pada istriku suatu ketika.

Aku tersenyum membaca emailnya. Kemudian aku membalas email-nya. Sambil memangku anakku aku mulai mengetik: “Semoga lebaran kali ini kematianmu diterima langit dan bumi!”

Namun belum sempat menekan tombol kirim, tiba-tiba kudengar suara ledakan dan kepala anakku berlobang dan berdarah. Sebelum jatuh tersungkur ke lantai, kulihat sebuah revolver menggelinding tepat di depanku. Dilemparkan seseorang.

Cat besi di gagang revolver itu terkelupas. Ada bayangan seperti lidi, kurus, dan tinggi, tapi berwarna hitam, keluar dari jendela. Ketika aku hendak mengejarnya aku terpeleset darah anakku dan jatuh membentur ujung meja. Pingsan.

Begitulah awal mula kami bertemu Ladrak menjelang lebaran. Kami selalu memaafkannya. Sebab semua manusia saling memaafkan setiap lebaran. Namun tentu saja aku tak akan pernah melupakan dosa-dosanya.

Aku selalu berdoa agar ia mati lebaran kali ini. Kalau pun tidak, ia telah berhenti melakukan kejahatan lantas masuk pesantren atau bertapa di pinggir kali atau di kuburan tua atau di dahan pohon akasia sambil berharap menjadi wali seperti Raden Sahid. Kembali ke fitri.

Malam lebaran. Seekor kunang-kunang melintas sendirian di atas kuburan. Sayup terdengar alunan takbir berkumandang. Hujan baru saja reda. Langit ditaburi kerlip bintang-bintang.

Kami, aku dan istriku, duduk di beranda. Bercakap-cakap sembari menikmati kuaci dan kurma. Mendadak istriku mengenang pertemuan kami dengan Ladrak.

Tapi itu setahun yang lalu. Tahun ini tak ada lagi kenangan tentang Ladrak. Sebab istriku kawin lari dengan Ladrak dan aku sendiri telah mati. Tepat di malam lebaran seperti ini. ***

Edy Firmansyah asal Pamekasan, Madura. Pengelola Komunitas Gemar Baca (KGB) Manifesco, Pamekasan. Karyanya berupa cerpen, puisi dan artikel tersebar di banyak media cetak maupun online, baik nasional dan lokal.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...