Masyarakat Harus Bijak Gunakan Kartu Pembiayaan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Wakil Ketua Harian Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI), Adiwarman Karim, mengatakan, masyarakat harus terus diedukasi tentang keuangan syariah dan berbagai program unggulannya serta penggunaannya harus bijak, seperti salah satunya kartu pembiayaan syariah.

“Halal saja, tapi makainya nggak bisa jadi repot. Masyarakat khususnya umat muslim harus bijak pakai kartu kredit syariah sekalipun. Kalau bijak dalam pemakaian, insyaallah berkah,” ujar Adiwarman pada webinar zoom dengan media bertajuk ‘Bijak Bertransaksi dengan Kartu Pembiayaan di Kala Pandemi’ yang digelar BNI Syariah, di Jakarta, Rabu (20/5/2020) sore.

Hal terpenting agar masyarakat bijak dalam menggunakan kartu tersebut yakni, kata dia, pihaknya sangat menekankan peningkatan edukasi kepada masyarakat tentang keuangan syariah.

“Karena banyak sekali mindset masyarakat kalau bayar kartu kredit itu cuma 10 persen minimum payment tiap bulan. Sehingga tidak pernah turun outstanding,” imbuhnya.

Dengan cuma bayar minimum payment 10 persen, menurutnya, itu akan menyulitkan nasabah di kemudian hari. Karena kalau sampai limit, kondisinya akan lebih menyulitkan.

“Biasanya kalau sudah 80 persen dari limit, bank mulai ingatin. Maka, masyarakat harus bijak dalam menggunakan kartu pembiayaan, apalagi di masa pandemi Covid-19 ini. Kalau masyarakat nggak bijak, bisa besar pasak dari tiang,” ungkap Adiwarman Karim yang juga merupakan pakar ekonomi syariah.

Dia memperkirakan di masa pandemi Covid-19 ini, kemungkinan akan ada peningkatan transaksi penggunaan kartu pembiayaan syariah. Yakni pada bulan Juni, Juli dan Agustus mendatang.

“Karena kami perkirakan masyarakat akan memerlukan bridging pada bulan tersebut, Juni, Juli, Agustus. Ya mudah-mudahan masyarakatnya bijak, sehingga masa sulit pandemi Covid-19 bisa dilewati dengan baik,” ujarnya.

Adiwarman mengingatkan keadaan krisis wabah pandemi Covid-19 dalam ilmu ekonomi sebetulnya harus kita waspadai. Karena menurutnya, di zaman Umar bin Khattab, apabila kita punya porcessing power yang cukup tapi tidak bisa dibelanjakan bisa menimbulkan panic buying.

“Biasanya kan Ramadan ini bisnis lagi bagus-bagus, orang dapat THR, belanja, mudik. Tapi kali ini beda agak punya duit tapi nggak bisa digunakan. Ini juga harus bijak ya,” tandasnya.

Pimpinan Divisi Kartu Pembiayaan BNI Syariah, Rima Dwi Permatasari, menambahkan, pihaknya cukup selektif memberikan limit karena tidak ingin terjadi moral hazard, sehingga Non Performing Financing (NPF) cukup terjaga di bawah industri di masa Covid-19 ini.

“Dari sisi nasabah total dengan terjadinya pandemi Covid-19 ini, NPF kartu pembiayaan syariah masih di bawah 5 persen. Jadi tetap terjaga, dan diharapkan pengguna juga bijak,” pungkasnya.

Lihat juga...