Menangkap Peluang Industri Halal di Tengah Pandemi Covid-19

Direktur Pengembangan Ekonomi Syariah dan Industri Halal Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Afdhal Aliasar saat diskusi MUI melalui zoom meeting beberapa waktu lalu. -Foto: Sri Sugiarti

JAKARTA — Direktur Pengembangan Ekonomi Syariah dan Industri Halal Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Afdhal Aliasar mengatakan, wabah pandemi corona atau Covid-19 berdampak pada semua sektor, termasuk industri halal. 

“Sektor industri halal terdampak wabah Covid-19, sama dengan sektor ekonomi dan sektor lainnya,” ujar Afdhal saat dihubungi, Rabu (27/5/2020).

Pemasaran produk halal menurun dratis, termasuk makanan halal. Ini menurutnya karena banyaknya pasar ritel yang mengalami penurunan omzet hingga 80 persen akibat terdampak pandemi ini.

Tercatat, industri fashion muslim mengalami penurunan 30-50 persen. Begitu juga dengan wahana pariwisata halal, omzetnya menurun dratis.

Namun demikian menurutnya, atas kondisi ini semua sektor industri halal harus menangkap peluang pasar untuk mengembangkan bisnisnya dengan memanfaatkan teknologi.

“Di tengah pandemi Covid-19 ini, teknologi digital dapat mendorong peningkatan industri halal atau ekonomi syariah,” imbuhnya.

Apalagi menurutnya, makanan halal selalu menjadi pilihan bukan hanya oleh umat muslim tapi juga non muslim. Ini karena gaya hidup halal telah menjadi tren, baik di Indonesia maupun di dunia.

Sehingga dengan adanya pandemi Covid-19 ini, dengan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mengharuskan masyarakat tidak beraktivitas di luar rumah. Ini menjadikan mereka sangat mementingkan makanan higienis, halal dan thoyiban untuk dikonsumsi.

“Di tengah pandemi Covid-19, makanan halal kian disukai. Ini menjadi peluang usaha halal yang harus didukung teknologi digitalisasi dalam pemasarannya,” ungkap Afdhal.

Selain makanan halal, menurutnya, beberapa sektor seperti industri obat dan suplemen tradisional dapat melakukan pengembangan seiring banyaknya permintaan masyarakat ditengah pandemi Covid-19 ini.

“Dalam konsumsi obat herbal dan suplemen herbal, pelaku industri halal juga harus menangkap peluang yang didukung teknologi digital,” ujarnya.

Agar kualitas produk dan distribusi bisa meningkat, maka kata dia, obat tradisional harus mendapatkan perhatian khusus dalam pengembangannya.

Kembali Afdhal mengingatkan kepada pelaku usaha industri halal untuk menjadikan kondisi pandemi Covid-19 ini sebagai momentum dalam pengembangan usahanya dengan dukungan teknologi digitalisasi. Sehingga industri halal tetap berkembang meskipun terdampak.

“Harapan kami, industri halal tetap berkembang di tengah kondisi ini, dan juga setelah wabah ini sirna makin meningkat pertumbuhannya,” tandasnya.

Apalagi jelas dia, berdasarkan data dari laporan State of the Global Islamic Economy Report 2019-2020, Indonesia berada di posisi kelima negara dengan industri halal terbesar sesuai Indikator Ekonomi Islam Global (GIEI).

Posisi Indonesia ini di bawah Malaysia yang berada di urutan pertama, Uni Emirat Arab kedua, Bahrain ketiga, dan Arab Saudi keempat.

“Pada tahun 2018, Indonesia berada di peringkat ke-10. Kini Indonesia di peringat kelima dengan industri halal terbesar sesuai GIEI,” ujarnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, pengeluaran masyarakat muslim untuk makanan halal, salah satu indikator penilaian, menunjukkan peningkatan. Yakni secara global, pada 2018, pengeluaran tersebut mencapai 1,4 triliun dollar Amerika Serikat (AS) atau meningkat 5,1 persen dibandingkan dengan 2017.

“Pertumbuhan makanan halal diproyeksikan akan terus tumbuh hingga 6,3 persen atau mencapai 2 triliun dollar AS pada 2024,” imbuhnya.

Bahkan Indonesia juga akan berinisiatif meluncurkan Distrik Gaya Hidup Halal dengan luas wilayah industri mencapai 21.000 meter persegi dan investasi sebesar 18 juta dollar AS.

Namun menurutnya, peluang ini harus diperkuat dengan kemudahan proses sertifikasi halal dan pengembangan teknologi.

Lihat juga...