‘Ngudokh’ Buah Duku Rekreasi ala Anak-anak Lamsel

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Masa belajar di rumah selama masa pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) dimanfaatkan anak-anak di Lampung Selatan (Lamsel) untuk membantu orangtua. Musim terakhir atau grantingan buah duku dimanfaatkan warga untuk mengumpulkan buah duku. Kegiatan mengumpulkan buah duku dalam proses panen dikenal dengan ngudokh atau cikru.

Abah Paijo, salah satu warga menyebut ngudokh berasal dari bahasa Lampung yang berarti memungut. Ngudokh kerap dilakukan pada masa panen jengkol, cengkih, durian, kakao pala dan duku.

Abah Paijo, mengajak anak-anak untuk ngudokh buah duku di perbukitan Katibung, Lampung Selatan, Minggu (17/5/2020) – Foto: Henk Widi

Kegiatan ngudokh identik dengan cikru dalam bahasa Jawa yang memiliki makna memunguti buah terjatuh dari pohon. Pada musim cengkih, saat matang buah akan berguguran pada bagian bawah pohon dan dipungut.

Tradisi ngudokh atau cikru menurutnya memiliki makna gotong royong dalam dunia pertanian. Kerap dikerjakan oleh orangtua, saat masa libur sekolah anak-anak membantu orangtua melakukan kegiatan ngudokh.

Terlebih kegiatan tersebut sangat menyenangkan dalam dunia anak-anak yang masih memiliki kecenderungan bermain. Sembari bermain anak-anak tetap bisa membantu orangtua.

Ngudokh jadi ajang untuk bermain di kebun namun menghasilkan karena bisa mendapatkan bagian buah sekaligus uang jajan dari sang pemilik kebun setelah proses membantu mengumpulkan buah,” terang abah Paijo saat ditemui Cendana News, Minggu (17/5/2020).

Warga Dusun Way Harong, Desa Rangai Tritunggal,Kecamatan Katibung itu mengungkapkan ngudokh jadi tradisi turun temurun. Berada di gugusan perbukitan Serampok, sebagian petani memilih menanam tanaman produktif penghasil buah. Saat panen raya jengkol, durian, petai, pala dan duku tenaga kerja sangat dibutuhkan. Anak-anak ikut meringankan pekerjaan orangtua sembari bermain.

Proses awal ngudokh menurut abah Paijo dilakukan dengan membersihkan area pohon. Pada musim duku, pembersihan dilakukan di bagian batang pohon dengan diameter sekitar lima meter. Menyesuaikan tajuk pohon yang membentuk kanopi, pembersihan diiringi dengan pemasangan waring atau jaring dan terpal. Tujuannya agar buah yang terjatuh tidak kotor dan masih bisa dikumpulkan.

“Proses pemetikan atau nyogrok dilakukan dengan galah bambu diberi pengait, selain itu ada yang memanjat untuk memetik di pohon dengan karung,” cetusnya.

Anak-anak kerap akan membantu orangtua terlebih dahulu namun usai pekerjaan selesai ngudokh bisa dilakukan pada kebun petani lain. Proses pemanenan buah duku bisa dilakukan hingga lima kali menyesuaikan tingkat kematangan buah.

Saat orangtua memanjat pohon anak-anak melakukan kegiatan ngudokh atau cikru. Buah selanjutnya dikumpulkan pada keranjang serta karung.

Arsiyanto yang memiliki kebun duku mengaku pembagian tugas dilakukan untuk pemetikan. Sebagian pemetik akan memanjat batang pohon duku setinggi sekitar lima meter. Ia membantu pemetikan dengan galah yang diberi pengait kawat dan jaring. Dalam proses pemetikan kerap terjadi buah duku terjatuh di waring dan terpal yang telah dipasang.

“Anak-anak akan berlomba untuk ngudokh buah duku dan dikumpulkan untuk selanjutnya dibawa ke pengepul,” terangnya.

Bagi anak-anak yang membantu ngudokh ia menyebut akan diberi upah buah duku. Rata-rata satu anak bisa membawa pulang 5 hingga 10 kilogram buah duku bagian dari pemilik. Sebagian pemilik yang menghasilkan panen buah duku kerap masih memberi uang masing-masing Rp20.000 bagi anak-anak. Selain bermain anak-anak ikut senang bisa membantu orangtua dan bermain di kebun petani.

Secara filosofis ngudokh menurutnya memiliki makna kerjasama, saling membantu dan edukasi. Bagi anak-anak kegiatan ngudokh merupakan sarana membantu secara bergantian pada orangtua.

Selain itu anak-anak diberi edukasi proses perawatan hingga pemanenan komoditas pertanian. Kegiatan ngudokh juga memudahkan orangtua memantau kegiatan anak-anak selama liburan.

Ngudokh jadi rekreasi ala anak-anak pedesaan namun menghasilkan bisa menambah uang saku,” bebernya.

Gilang, salah satu anak yang duduk di bangku kelas 5 SD mengaku ngudokh jadi kegiatan rekreasi. Membantu orangtua saat libur sekolah atau masa belajar di rumah menjadi hal biasa baginya.

Gilang, salah satu warga Dusun Way Harong, Desa Rangai Tritunggal Kecamatan Katibung Lampung Selatan melakukan kegiatan mengumpulkan buah duku yang dikenal dengan ngudokh atau cikru, Minggu (17/5/2020) – Foto: Henk Widi

Setelah melakukan ngudokh atau cikru ia dan rekan-rekannya bisa bermain di kebun. Kegiatan bermain di kebun sekaligus menjaga agar sejumlah pohon tidak diserang hama tupai.

Kegiatan ngudokh menurutnya dilakukan dengan teliti. Sebab buah duku yang terjatuh dari pohon kerap tersembunyi pada dedaunan dan semak-semak. Melalui ngudokh atau cikru potensi kerugian petani bisa diminimalisir akibat buah terbuang. Usai melakukan proses ngudokh buah bersama kawan-kawannya ia mendapatkan bagian buah dari pemilik kebun.

“Saat kegiatan ngudokh menjadi kegiatan rekreatif namun sekaligus bisa mengumpulkan uang untuk tabungan,” terangnya.

Bagi anak-anak seusianya, Gilang menambahkan kegiatan ngudokh menyesuaikan musim. Saat musim buah cengkih ia bisa mendapatkan hasil sekitar Rp25.000 per hari. Sebab saat ngudokh cengkih ia diupah Rp2.000 per kilogram tanpa diberi cengkih.

Namun saat panen duku ia diberi bagian duku dan masih mendapat upah buah duku untuk dibawa pulang jika membantu petani yang panen.

Lihat juga...