Obat Herbal dalam Perspektif Medis

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

Ahli Biomedis dr. Agus Rahmadi, M.Biomed, MA saat acara online kesehatan, Senin (25/5/2020) - Foto Ranny Supusepa

JAKARTA — Pertentangan antara obat kimia sintetik dengan obat herbal, masih terus terjadi di masyarakat. Padahal baik kimia sintetik maupun herbal, mampu bersinergi dalam pengobatan selama indikasi dan diagnosis dilakukan secara tepat.

Ahli Biomedis dr. Agus Rahmadi, M.Biomed, MA menyatakan dalam kedokteran sebenarnya tidak ada pertentangan antara obat kimia sintetik dengan obat herbal.

“Tidak ada pertentangan. Malah bisa saling melengkapi dan bersinergi. Sebenarnya, obat kimia sintetik juga merupakan modifikasi dari senyawa herbal,” kata Agus saat acara online, Senin (25/5/2020).

Ia mencontohkan, seperti Dikoksin, Kina maupun Morphine sulfat.

“Tapi seringkali, penggunaan herbal ini dilakukan tanpa dukungan diagnosis yang akurat oleh masyarakat. Contohnya, sakit perut. Itu kan penyebabnya bisa bermacam-macam, ada yang karena maag, karena menstruasi ataupun sakit karena ingin BAB. Itu kan semua membutuhkan terapi herbal yang berbeda,” ujarnya.

Dokter Agus memaparkan, kimia sintetik dan herbal memiliki perbedaan yang menjadikan pengaplikasiannya juga akan berbeda.

“Banyak yang tidak mau pakai kimia sintetik, katanya takut efek samping. Herbal juga punya efek samping. Misalnya, mengkonsumsi bawang putih yang terlalu banyak dapat mengakibatkan hypotensi dan iritasi lambung,” ucapnya.

Atau ada yang tidak mau pakai herbal, dengan alasan efeknya lama.

“Ya Itu karena herbal itu multi reseptor dan memiliki lethal dose yang tinggi. Kalau kimia sintetik kan single reseptor dan lethal dose-nya rendah. Kalau single reseptor jelas lebih cepat terasa efeknya, karena kan hanya satu yang dipengaruhi. Kalau multi, dia lebih banyak, jadi lebih lama pengaruhnya bisa terlihat,” urainya.

Sebagai contoh kasus, lanjutnya, dalam penyakit diabetes, penggunaan insulin digunakan untuk menurunkan tingkat gula darah. Sementara, dari herbal bisa menggunakan sambiloto atau kayu manis atau daun salam.

“Karena sifat inilah, biasanya kimia sintetik digunakan untuk terapi akut, dalam artian yang membutuhkan pengaruh seketika. Herbal digunakan sebagai perawatan maupun pencegahan, karena efeknya yang lebih lama,” paparnya.

Sebagai contoh kasus, ujarnya, saat seseorang mengalami luka dalam dan lebar, pertama yang harus diberikan adalah Lydocaine, untuk menutup luka terbuka secara cepat. Untuk proses perawatan dan tahapan penyembuhan bisa menggunakan herbal.

“Kita harus bijak menggunakan kimia sintetis dan herbal. Kita tidak meng-dikotomi. Yang paling penting, masyarakat harus paham bahwa penggunaan kimia sintetik dan herbal harus berdasarkan indikasi, diagnosis dan dosis yang tepat. Jangan sembarangan,” tandasnya.

Guru Besar Farmasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (UGM) Prof. Dr. Zullies Ikawati, Apt, menyatakan bahwa dalam proses herbal menjadi obat herbal terstandar maupun fitofarmaka, sudah ada ketentuan uji klinisnya.

“Sesuai dengan aturan BPOM, obat herbal terstandar itu harus aman sesuai dengan prosedur yang ditentukan, klaim khasiat harus berdasarkan uji pra klinik dan bahan bakunya harus terstandar,” kata Zullies saat dihubungi terpisah.

Hal yang sama juga berlaku untuk fitofarmaka. Yaitu harus aman sesuai dengan ketentuan dan melewati uji pra klinik dan klinik.

“Bahkan bukan hanya bahan baku yang harus terstandarisasi tapi juga mengikuti persyaratan baku mutu yang berlaku. Jadi, herbal pun bisa menjadi obat, selama memang memenuhi persyaratan,” pungkasnya.

Lihat juga...