Pasar di Banyumas Kembali Dibuka, Stok Buah Menumpuk

Editor: Makmun Hidayat

PURWOKERTO — Dua hari selama lebaran, seluruh pasar tradisional di Kabupaten Banyumas ditutup total, termasuk pertokoan dan supermarket. Dan pada hari pertama buka pasca-lebaran ini, pedagang buah mengeluhkan tentang menumpuknya stok dagangan mereka.

“Dua hari tutup, tidak bisa berjualan, stok buah-buahan menumpuk, bahkan sebagian ada yang terpaksa harus dibuang karena busuk,” kata Slamet, salah satu penjual buah di Pasar Wage Purwokerto, Selasa (26/5/2020).

Selama bulan Ramadan lalu, Slamet mengaku penjualan buah-buahan di kiosnya memang mengalami kenaikan, tetapi hanya sedikit dan tidak sebanyak kenaikan penjualan pada Ramadan tahun lalu. Paling banyak buah yang dicari pembeli adalah alpukat, mangga, blewah dan melon. Sedangkan untuk buah lainnya, cenderung stagnan, tidak ada kenaikan penjualan sama sekali.

“Yang paling banyak dicari pembeli, buah-buahan yang untuk dibuat es buah ataupun jus, itu pun peningkatan penjualannya tidak terlalu banyak. Biasanya yang paling banyak beli adalah para penjual es buah, namun pada Ramadan kali ini, penjual es buah juga banyak berkurang,” tuturnya.

Jenis buah yang tidak mengalami kenaikan penjualan, bahkan cenderung tidak laku, yaitu buah pir dan apel. Hingga stok buah tersebut menumpuk di kios buah milik Slamet.

Terkait penutupan saat dua hari lebaran kemarin, Slamet mengaku, tidak mempunyai pemasukan sama sekali. Namun, ia tetap mematuhi aturan tersebut, karena merupakan kebijakan Pemkab Banyumas untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19.

“Makanya hari ini, setelah pasar tradisional diperbolehkan buka, saya langsung buka kios sejak pagi buta, karena sudah tidak ada uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” katanya.

Sementara itu, salah satu pembeli di Pasar Wage Purwokerto, Ratmini mengaku, langsung berbelanja di pasar setelah pasar kembali beroperasi. Sebab, aneka bumbu dapur serta stok bahan masakan, seperti sayuran, tempe, tahu dan lainnya sudah habis.

“Kemarin sebelum lebaran sudang menyetok ayam dan daging, dan bumbu-bumbu dapur sudah habis untuk memasaknya. Sekarang mau membeli tempe mendoan, sayuran dan bumbu-bumbu, seperti bawang merah, bawang putih, cabai dan lainnya,” katanya.

Ratmini dan sebagian besar warga lainnya, sangat merasakan dampak pasar tradisional ditutup selama dua hari. Karena sebagain bahan-bahan yang dijual di pasar tradisional, harus dibeli dalam kondisi segar.

Lihat juga...