Pedagang Bunga di Makam Bergota Mengeluh Sepi Pembeli

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Dengan cekatan, jemari Mariyanti mencampur kelopak bunga mawar yang sudah terurai dalam keranjang bambu ukuran sedang, berdiameter sekitar 20 centimeter. Sekiranya sudah penuh, wanita paruh baya tersebut meletakkan sejumlah kelopak bunga mawar yang masih utuh di atasnya.

Sesekali dirinya menawarkan bunga tabur dagangannya tersebut ke peziarah yang lalu-lalang di Makam Bergota Semarang. Tidak seberapa jauh, dari lapak Mariyanti, hal serupa juga dilakukan Asih, rekan seprofesinya.

“Saya sudah 30 tahun jualan bunga tabur di Makam Bergota Semarang, namun baru kali ini terasa sepi. Hanya ramai kemarin sehari sebelum Lebaran, habis itu blas (sepi-red),” paparnya, saat dijumpai di areal pemakaman terbesar di Kota Semarang tersebut, Sabtu (30/5/2020).

Suasana pemakaman Bergota Semarang terlihat sepi dari peziarah, Sabtu (30/5/2020). –Foto: Arixc Ardana

Disebutkan, harapannya tinggal dua hari, Sabtu (30/5/2020) serta Minggu (31/5/2020), dan berharap seluruh bunga dagangannya laris diborong para peziarah.

“Sekarang sepi, gara-gara Corona mungkin orang jadi takut ziarah. Kalau pun ada, juga tidak sebanyak dulu. Tidak seperti tahun-tahun kemarin. Ramai hanya selama dua hari menjelang Lebaran,” paparnya.

Ingatannya pun kembali ke musim Lebaran 2019, lalu. Waktu itu, bunga tabur dagangannya laris manis, uang jutaan rupiah pun berhasil dikantonginya. Namun sekarang, kondisi tersebut jauh dari kenyataan.

“Sewaktu Lebaran 2020 kemarin saya malah rugi. Beli bungannya mahal, tapi tidak laku terjual habis, karena sudah kering terpaksa dibuang,” imbuhnya lagi.

Bunga tabur tersebut diambil dari kawasan Bandungan, Kabupaten Semarang, yang dikenal sebagai sentra tanaman, buah dan bunga. Untuk satu dunak atau keranjang bambu besar berdiameter sekitar 50 centimeter, dibelinya seharga Rp450.000.

Bunga-bunga tersebut kemudian dipindakan ke wadah bambu yang lebih kecil. “Paling kecil Rp10 ribu, lalu Rp15 ribu, Rp20 ribu dan Rp25 ribu untuk yang paling besar. Satu dunak tidak mesti jadi berapa, soalnya kadang peziarah yang minta tambah bunganya,” jelasnya.

Bagi Yati, panggilan akrabnya, Lebaran harusnya menjadi waktu buat dirinya meraih rezeki sebanyak-banyaknya. Hal ini karena tidak setiap hari dirinya berjualan bunga tabur. Sehari-hari, wanita tiga anak ini berjualan nasi pecel di sekitar kompleks Gubernuran Jateng.

“Saya hanya jualan pas Lebaran seperti sekarang. Kalau sehari-hari jualan nasi pecel. Inginnya dapat rezeki lebih, tapi kalau sepi begini, besok (Minggu-red) paling sudah tidak jualan,” tandasnya.

Ungkapan serupa juga disampaikan sesama penjual bunga tabur, Asih. Dirinya mengaku selama lebih dari seminggu berjualan bunga tabur, sudah menghabiskan sekitar 5 dunak bunga mawar.

“Ini masih sedikit, jika dibanding tahun kemarin, saya bisa habis 10 dunak. Untungnya juga lumayan, kalau sekarang, ada untung tapi tidak banyak. Lebih banyak nunggu pembeli, daripada melayani,” terangnya.

Dirinya menduga, sepinya peziarah karena adanya larangan mudik dari pemerintah, sehingga sanak-saudara yang di perantauan tidak bisa datang atau berkunjung ke keluarga mereka di Semarang.

“Biasanya banyak yang mudik, mereka pasti juga berziarah ke makam orang tua, anak, saudara, teman dan lainnya. Tapi sekarang karena ada  larangan mudik, jadi sepi,” ungkapnya.

Asih pun bukan pedagang tetap bunga tabur, dirinya sehari-hari membantu berjualan di salah satu rumah makan di Semarang.

“Besok (MInggu-red) terakhir jualan, soalnya habis itu sudah tidak ada lagi, karena lebarannya sudah selesai. Mudah-mudahan habis semua, biar tidak rugi,” pungkasnya.

Lihat juga...