Pemudik Gunakan Truk Diamankan Polsek Penengahan Lamsel

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Usaha pemudik untuk pulang ke kampung halaman dilakukan dengan berbagai cara. Sejumlah pemudik yang akan pulang ke kampung halaman di Sumatera Selatan (Sumsel) asal Bandung lolos dari pemeriksaan di pelabuhan Merak, Banten.

Upaya meloloskan dari pemeriksaan petugas, sejumlah pemudik memilih bersembunyi di mobil truk meski mudik dilarang selama pandemi Covid-19.

Pemilik motor asal Bandung tujuan Sumatera Selatan bernomor polisi D 6013 ACL terpaksa diturunkan petugas akibat tidak melengkapi dokumen surat kesehatan, surat jalan, Kamis (21/5/2020) – Foto: Henk Widi

Pemudik berharap namanya tidak dipublikasikan, mengaku menerima tawaran untuk menyeberang dari pelabuhan Merak. Menggunakan kendaraan motor dengan nomor polisi D 6013 ACL tersebut lalu diangkut dengan truk. Pengemudi truk warna hijau bernomor polisi BD 8096 AW tersebut meminta tarif sekitar Rp700 ribu untuk memuat dua kendaraan berikut enam penumpang.

Lolosnya kendaraan truk membawa pemudik dengan motor naik memakai kapal tercium petugas. Bripka Risman, mendampingi Kapolsek Penengahan, Polres Lamsel menyebut mendapat laporan dari masyarakat. Sebab tepat di Kilometer 3 Bakauheni tepat di depan homestay Kedas ada indikasi truk memuat pemudik.

“Ada laporan masyarakat sebuah kendaraan truk warna hijau membawa kendaraan lengkap dengan penumpang, selanjutnya anggota Polsek langsung melakukan pengecekan dan dibawa ke pos cek poin gerbang tol Bakauheni Utara untuk pemeriksaan,” terang Bripka Risman saat ditemui Cendana News, Kamis (21/5/2020).

Saat dilakukan pemeriksaan dua unit kendaraan roda dua ditemukan di atas bak truk. Namun saat proses menurunkan motor, satu unit motor berikut penumpang meminta izin untuk mengisi bahan bakar namun berhasil kabur. Hal yang sama juga terjadi pada pengemudi truk warna hijau yang langsung melanjutkan perjalanan.

Berdasarkan pengakuan pemudik yang akan pulang ke Sumatera ia berangkat dari Bandung melewati jalan alternatif. Penggunaan jalan alternatif dilakukan menghindari pos pemeriksaan (cek poin) selama masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Berhasil tiba di Merak pemudik ditawarkan untuk naik truk yang bersedia menyeberangkan dengan biaya borongan.

Sesampainya di Kilometer 3 Bakauheni niat untuk mudik ke kampung halaman tertunda. Sebab sesuai aturan mudik dilarang tanpa disertai dokumen pelengkap yang telah ditentukan. Sebanyak tiga pemudik yang membawa kendaraan roda dua tersebut selanjutnya diminta untuk melakukan pemeriksaan kesehatan agar bisa mendapat surat kesehatan.

“Para pemudik yang lolos dari Merak kami arahkan meminta surat kesehatan agar bisa melanjutkan perjalanan,” cetusnya.

Selain penumpang asal Jawa tujuan Sumatera, sejumlah modus pemudik untuk lolos dilakukan dengan berbagai cara. Lukman, bukan nama sebenarnya salah satu pengemudi truk ekspedisi asal Sumatera mengaku mendapat penumpang yang akan mudik.

Pengemudi kendaraan pengangkut sapi dari sebuah usaha penggemukan sapi (feedloter) mendapat penumpang dari sejumlah perantara.

“Saya mendapat penumpang dari perantara yang akan menyeberangkan pemudik asal Sumatera ke Jawa,” terangnya.

Sekali naik ke mobil untuk menyeberang ia meminta tarif sekitar Rp500.000. Perantara akan mendapat bagian sekitar Rp250.000. Sebagian penumpang dominan akan naik truk ke sejumlah tujuan di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Penumpang yang akan mudik menurutnya memilih naik ke truk dengan modus sebagai kernet dan sopir cadangan agar bisa lolos.

Bagi sejumlah pemudik rombongan sebagian memilih menyarter bus antar kota antar provinsi (AKAP). Bus AKAP yang memuat penumpang berasal dari wilayah Jambi, Riau, Sumatera Utara.

Sebagian penumpang bus merupakan pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Berbekal surat rekomendasi PHK, surat jalan, surat kesehatan sejumlah penumpang lolos hingga pelabuhan Bakauheni.

Puluhan penumpang bus AKAP asal Sumatera diturunkan oleh pengemudi tepat satu kilometer dari pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan sebelum menyeberang menggunakan kapal dengan dokumen lengkap, Kamis (21/5/2020) – Foto: Henk Widi

Husni, salah satu pekerja asal Jambi mengaku menjadi rombongan kesepuluh. Sebelumnya warga asal Brebes dan sejumlah kota di Jawa Tengah telah menyeberang lebih dahulu. Ia mengaku berdasarkan informasi sejak 19 Mei 2020 silam tidak dilakukan rapid test yang sempat dimintai biaya Rp250.000 hingga Rp300.000.

“Normalnya kami diantar sampai kota tujuan namun berbekal surat PHK, surat jalan dan pemeriksaan suhu tubuh kami bisa membeli tiket,” terangnya.

Lolosnya sejumlah penumpang pejalan kaki dengan clearance dari gugus tugas Covid-19 dilakukan atas dasar kemanusiaan. Meski penjualan tiket pejalan kaki tidak dilayani secara online calon penumpang menyeberang dengan membeli tiket offline.

Pembelian tiket dengan uang elektronik dilakukan untuk pencatatan manifes hingga bisa menyeberang dengan kapal ke Merak, Banten.

Lihat juga...