Pesan Ibu Tien Soeharto TMII Terus Dirawat

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – A. Djoko Budiono mengaku sangat bangga dapat bekerja di Taman Mini Indonesia (TMII), hingga bisa mendampingi Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah atau Ibu Tien Soeharto dalam pembangunan Taman Indonesia Mini. Bahkan pesan Ibu Tien Soeharto selalu diingatnya untuk terus turut melestarikan budaya bangsa.

“Saya ini anak didik Beliau. Bagi saya, ide Ibu Tien Soeharto itu sangat visioner dalam pelestarian budaya bangsa disatukan dalam bingkai Indonesia Mini bernama TMII,” kata Djoko Budiono, mantan Manajer Taman Bunga TMII, saat dihubungi, Jumat (8/5/2020).

Selama bekerja di TMII, dengan berbagai jabatan yang diembannya, Djoko mengaku banyak kesan tak terlupakan dari sosok Ibu Tien Soeharto yang berhati mulia itu.

Menurutnya, dalam bersikap memperlakukan karyawan TMII, Ibu Tien Soeharto selalu dengan jiwa pendekatan seorang ibu kepada anaknya.

“Beliau itu kalau kepada jajaran staf TMII itu bagaikan ibu kepada anak kandungnya. Ya tegur sapanya, cara mengingatkan dan cara mengajak orang berprestasi dan kreativitas,” ungkap Djoko.

Bahkan sosok Ibu Tien Soeharto bagi Djoko sudah dianggapnya seperti ibu kandung yang selalu menyirami hatinya dengan ilmu dan memberi ketenangan jiwa dalam berkarir melestarikan budaya bangsa.

“Setelah ibu yang melahirkan saya, Ibu Tien Soeharto adalah ibu saya kedua. Saya bersyukur dapat kerja di TMII, mendapat jabatan berkat jasa Beliau,” kata Djoko Budiono yang pernah menjabat Kepala Bagian Umum Taman Bunga TMII.

Menurutnya, ide Ibu Tien Soeharto dalam membangun TMII sangat cemerlang. Pemikiran Beliau begitu mulia untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dipadukan dalam miniatur Indonesia.

Dalam pelestarian budaya, Djoko mengaku mendapatkan pesan dari Ibu Tien Soeharto, yang tak mungkin dilupakan.

“Satu kalimat saja ibu Tien Soeharto bilang ke saya ‘Aku titip TMII, ya! Pesan ini maknanya luar biasa banget diterjemahkan satu tahun juga susah,” ucap Djoko mengenang.

Makna menitipkan TMII itu, kata Djoko, misalnya dari kualitas tanaman, kualitas lingkungan, pengawetan bangunan-bangunan. Ini kalau bisa 500 tahun ya, begini terus fungsi manfaat nilainya.

Sehingga kata dia, pada saat  merenovasi bangunan sebetulnya falsafahnya harus restorasi, bukan memugar. Karena restorasi itu bentuknya mengembalikan seperti semula.

“Nah, itu sebenarnya yang dimaui Ibu Tien Soeharto. Jadi kalau ada, kita bangun lain terus, justru mengalahkan yang lama itu sebenarnya bukan pelestarian. Jadi bangunan yang sifatnya bisa dipertahankan sebagai heritage itu. ‘Aku titip TMII ya, lestarikan TMII ya’,” urainya.

Menurutnya, melestarikan itu ada tiga, yakni perlindungan, pemanfaatan dan pengembangan. “Jadi kalau memang perlindungan bangunan itu diuri-uri, dipertahankan ya gitu saja. Tapi kalau hal yang sifatnya pengembangan, tambah wifi, CCTV, komputerisasi, digitalisasi,” ujarnya.

Sebaliknya kalau pengembangan bangunan, tentu dibuat sendiri. “Seperti Borobudur untuk mengembangkan rekreasi kan nggak oprak-oprak Borobudur ya, tapi kan sekitarnya. Ditambah hotel, restoran, dan lainnya,” ujarnya.

Dia menegaskan, alangkah indah jika membuat pedoman dalam pengelolaan dan pengembangan kawasan TMII. Diproduksi oleh seluruh jajaran staf TMII dalam kepemimpinan direksi yang kemudian diajukan kepada pengurus Yayasan Harapan Kita (YHK). Lalu diseminarkan melalui Focus Group Discussion (FGD).

“Kalau semua sudah sepakat, bisa dijadikan SK YHK,” ujar Djoko Budiono yang juga pernah menjabat Manajer Teknik TMII dan Staf Ahli Direktur TMII.

Djoko pun mencontohkan, dalam renovasi anjungan daerah. Salah satunya, saat dia masih bertugas di TMII adalah renovasi anjungan Sulawesi Tenggara, mau dipugar pemerintah Sulawesi Tenggara.

Saat itu, kata Djoko, General Manager TMII, Sampurno, meminta dirinya untuk mencari informasi apakah tokoh adat Sulawesi Tenggara telah menyetujui pemudaran anjungan tersebut.

“Itu Pak Sampurno, bilang jangan mulai dulu kalau itu belum ditandatangani oleh seluruh tokoh adat Sulawesi Tenggara. Saya butuh tanda tangan seluruh tokoh adat itu, sudah teken di bawah gambar anjungan. Terus lihat itu tanda tangan asli semua atau tidak, baru bawa ke saya. Itu saya saksi hidup,” ujar Djoko Budiono yang juga pernah menjabat Manajer Tata Lingkungan TMII.

Djoko berharap dalam pengembangan pembangunan dan pelestarian TMII ke depan, manajemen TMII selalu mengingat  yang disarankan Ibu Tien Soeharto dengan tetap berpikir modern.

Jadi, misalnya kata Djoko, rumah adat Buton. Cari yang paling asli di sana tapi di dalamnya sudah ada CCTV, wifi, toilet duduk. Tapi di sebelahnya ada kamar mandi khas Buton. Kalau di Jawa, biliknya dari bambu potongan tebal, tempat airnya pakai gayung, dan seperti jambangan. Sebelahnya sumur ada timbal sebagai hiasan, tapi air bisa datang pakai pompa.

“Jadi nilai budaya tradisi lokal itu ditampilkan tapi dalamnya ada teknologi. Tapi gayung dan timba batang kayu yang ditarik bandul tetap berfungsi. Jadi kalau ada tamu asing dijelaskan ini di Jawa. Tapi karena ini zaman modern sudah nggak praktis ada pompa. Nah ini contoh modernisasi, tapi wajah busananya tetap lestari,” ungkapnya.

Djoko juga mengungkap pengalaman lain terkait pesan Ibu Tien Soeharto dalam pelestarian TMII. Yakni untuk menjaga pohon Beringin yang ada di area Taman Anggrek TMII, lokasinya di seberang Istana Anak-Anak Indonesia (IAAI).

“Djoko, itu pohon beringin sudah hidup dari sebelum TMII berdiri. Pohon itu sekarang sakit. Kamu kan sekolah landscape, sambil nepuk pundak saya, coba diobati jangan sampai mati itu pohon beringin,” ujar Djoko mengenang ucapan Ibu Tien Soeharto, kala itu.

Setelah Ibu Negara tersebut pulang dari kunjungan ke TMII, dan mendapatkan pesan tersebut Djoko pun memutar otaknya bagaimana cara merawat pohon beringin itu kembali subur.

“Beliau pulang, saya berpikir seribu cara, tiga empat bulan penyakit pohon beringin hilang, batangnya mulai hijau lagi, mulai tunas-tunas. Alhamdulillah,” ujarnya.

Empat bulan kemudian Ibu Tien Soeharto datang lagi ke TMII untuk meninjau keberadaan pohon beringin tersebut, dan berkata.

Piye Djoko? Alhamdulillah Ibu pangestunipun ini sudah mulai tunas-tunas. Terus Beliau nepak pundak saya ‘Gini buktinya kamu bisa, kamu kan sekolah landscape. Siap Ibu nuhun pangestu. Ya wis diopeni titip ya pohon beringin ini,” ucap Djoko menirukan pesan Ibu Tien Soeharto, kala itu, meminta pohon beringin itu terus dirawat dengan baik.

Kembali Djoko berpikir bahwa perkataan titip yang disampaikan oleh Ibu Tien Soeharto itu kalau diterjemahkan dengan zaman sekarang memakai ilmu budaya namanya kata dia adalah pelestarian.

“Bahasa Beliau, kan dulu belum ada Undang-Undang (UU) pelestarian budaya. Ya beliau titip, diopeni atau dirawat. Tapi sekarang ya itu tadi bermakna perlindungan, pemanfaatan dan pengembangan,” tutup sesepuh TMII, ini.

Lihat juga...