Petani dan Nelayan Dua Profesi di Sumbar yang Tak Terdampak Covid-19

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

PADANG — Sekian lama wabah Covid-19 melanda khusus daerah di Sumatera Barat, ternyata tidak turut membuat segala sisi profesi atau pekerjaan merasakan dampaknya. Petani dan nelayan adalah dua profesi yang sampai kini masih tetap jalan.

Seperti yang dikatakan oleh nelayan di Pasie Nan Tigo, Padang, Ikal, sampai saat ini aktifitas nelayan tetap seperti biasa, bahkan tidak ada terlihat adanya perubahan sebelum dan saat ini tengah dilanda virus yang mematikan tersebut. Bukan tanpa alasan, penyebab masih jauhnya dampak Covid-19 terhadap nelayan, karena mobilitas mereka tidak menyinggung orang banyak.

“Kita itu, hari-hari di laut. Pulang sebentar, nanti sore pergi lagi. Begitu seterusnya. Orang-orang di atas kapal, masih-masih itu saja. Artinya mobilitas kita tidak berhadapan dengan orang asing atau orang banyak,” katanya, Senin (25/5/2020).

Bahkan kalau bicara hasil tangkapan, bisa dikatakan mendapatkan hasil tangkapan yang berlimpah. Dulu harga ikan sempat turun, dikarenakan para nelayan mendapatkan tangkapan yang banyak.

Bicara soal sisi pendapatan, selagi para nelayan itu pergi melaut, minimal per harinya itu bisa membawa uang Rp50.000 per orang, hal itu dalam kondisi tangkapan ikan yang sedikit. Kalau lagi mendapatkan tangkapan ikan yang banyak, sehari itu bisa bawa uang pulang Rp300.000.

“Kita bersyukur, mata pencarian kami ini tidak begitu buruk, seperti mata pencarian lainnya seperti usaha rumah makan dan usaha di tempat-tempat wisata itu,” ujarnya.

Selain itu, petani di Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Aldi, mengatakan, sejak awal ada warga yang positif Covid-19 di Sumatera Barat, petani telah mulai turun ke sawah. Hingga sekarang padi-padi di sawah telah panen. Artinya, para petani tetap beraktivitas seperti biasanya.

“Kita di desa ini, orang yang tinggal, ya itu dan itu saja. Tidak ada orang asing yang datang. Jadi masih hidup normal sebenarnya, dan begitu juga soal ke sawah. Alhamdulillah, sekarang sudah panen,” sebutnya.

Menurutnya, menjalani aktivitas dalam suasana wabah Covid-19 dan dulu dalam suasana puasa Ramadan, tidak menyurutkan semangat para petani setempat untuk turun ke sawah. Namun, ada persoalan yang dihadang dalam persoalan panen di periode pertama di tahun 2020 ini.

“Harga gabah turun, biasanya Rp350.000 per karung, sekarang jadi Rp250.000 per karung. Turunnya itu, bukan soal Covid-19, tapi dikarenakan banyak sawah yang lagi panen, jadi terjadi penumpukan padi di tempat penggilingan padi, yang merupakan toke yang membeli padi para petani,” jelasnya.

Anggota Komisi IV DPR RI, Hermanto yang ditemui sela kegiatan di Padang beberapa waktu lalu/Foto: M. Noli Hendra

Dikatakannya, meski ada penurunan harga gabah, para petani tetap bersyukur, karena panen di awal tahun ini, kondisi padinya dalam keadaan baik-baik saja, karena tidak ada hama yang menyerang padi para petani.

“Jikapun ada hama, mungkin sudah biasa. Tinggal di semprot dan dipupuk lagi,” sebutnya.

Sementara itu, Anggota Komisi IV DPR RI, Hermanto menyebutkan, dari hasil pantauan di sejumlah daerah di Indonesia saat ini, nelayan dan petani adalah profesi yang tidak terdampak Covid-19.

“Saya mencermati nelayan tidak ada mobilitas karena statis, nelayan tidak begitu terdampak,” ungkapnya di Padang.

Menurutnya, hal-hal seperti ini yang bisa membuat pemerintah cukup lega, karena masih ada mata pencarian yang cukup stabil dalam kondisi Covid-19 ini. Untuk itu, ia berharap pemerintah tetap memberikan perhatian kepada para nelayan maupun petani itu.

“Soal bantuan alat pertanian dan alat untuk nelayan jangan sampai terhenti. Tetap dorong mereka untuk tetap produktif. Agar ketahanan pangan tetap terwujud,” harapnya.

Lihat juga...