Petani Kangae di Sikka Mulai Lirik Tanaman Rosella

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

MAUMERE — Musim yang tidak menentu dan dampak kekeringan berkepenjangan membuat para petani di kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) banyak yang mengalami gagal panen jagung.

Situasi ini diperparah dengan serangan hama ulat Grayak sehingga para petani jagung di dataran rendah banyak yang mengalami gagal panen jagung, termasuk di Kecamatan Kangae.

” Lahan jagung saya sekitar 3 hektare mengalami gagal panen akibat hama ulat Grayak dan kekeringan. Singkong juga banyak yang mati akibat kekeringan,” sebut Ignatius Iking, Petugas Penyuluh Pertanian (PPL) Swadaya Kecamatan Kangae Kabupaten Sikka, NTT,  Senin (25/5/2020).

Iking mengatakan, petani yang menanam kacang hijau juga mengalami kerugian sebab saat kacang hijau sudah mulai kering turun hujan lebat sehingga banyak yang kulitnya terkelupas dan kacang jatuh ke tanah.

Dirinya pun sejak tahun 2019 lalu meminta pemerintah Desa Habi untuk mengadakan Sekolah Lapang (SL) untuk penanaman Rosella dan ada 50 anggota kelompok yang ikut kegiatan ini.

“Kami sudah selesai Sekolah Lapang dan petani mulai menanam di lahannya. Lumayan harga jualnya Rp1.500 per kilogram sehingga bisa menambah pendapatan petani apalagi dalam situasi gagal panen jagung,” ungkapnya.

Iking pun bersyukur sudah banyak petani yang menanamnya termasuk di Gabungan Kelompok Tani ( Gapoktan) Wa Wua di Kecamatan Kangae yang sudah memproduksi teh Rosella dan dijual dalam kemasan 50 gram.

Dirinya pun membeli Rosella dari petani dengan harga Rp2 ribu per kilogramnya untuk memotivasi petani di Kecamatan Kangae dan Kabupaten Sikka.

“Pangsa pasarnya besar sehingga saya berharap para petani bisa menanam agar bisa menambah pendapatan para petani kita,” sebutnya.

Yuliana Eligita, petani Desa Habi Kecamatan Kangae mengaku menanam kacang hijau akibat tanaman jagungnya mengalami gagal panen akibat kekeringan dan hama Ulat Grayak.

Yuliana menyebutkan, tidak semua areal kebunnya seluas sekitar seperempat hektare ditanami kacang hijau karena stok bibit terpakai untuk dikonsumsi dan dijual untuk membeli beras.

“Tidak semua lahan saya tanami kacang hijau karena stok benih juga terbatas. Akibat jagung gagal panen kebutuhan pangan juga terbatas karena biasanya kami jual untuk membeli beras,” sebutnya.

Yuliana mengaku sebagian besar petani di Kecamatan Kangae selalu menanam jagung setiap musim hujan setahun sekali karena jagung merupakan tanaman pertanian sejak dahulu.

Kangae sebut dia terkenal sebagai sentra produksi jagung di Kabupaten Sikka dan hampir setiap penduduk menanam jagung dan kacang hijau atau kacang tanah setelah panen jagung.

“Tahun 2020 ini yang paling parah karena hampir semua tanaman jagung di Kecamatan Kangae mengalami gagal panen.Tanaman kacang hijau juga tidak maksimal dan banyak petani yang tidak tanam karena curah hujan tidak menentu,” pungkasnya.

Lihat juga...