Petani Lamsel Percepat Masa Tanam Gadu Manfaatkan Pasokan Air

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

LAMPUNG — Petani di Lampung Selatan (Lamsel) mempercepat masa tanam musim kemarau atau gadu dengan tetap mempertahankan kearifan lokal. Sesuai perhitungan mongso (waktu) kalender Jawa, masa tanam semester kedua masuk musim tanam gadu.

Saman, salah satu petani di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan memperlihatkan saluran irigasi yang akan dimanfaatkan untuk kebutuhan pengairan lahan pertanian di wilayah tersebut pada masa tanam gadu, Senin (25/5/2020). Foto: Henk Widi

Saman, salah satu petani di Desa Pasuruan,Kecamatan Penengahan menyebutkan, musim tanam gadu yang didominasi kemarau dengan pasokan air terbatas telah diantisipasi. Hujan yang masih turun di wilayah tersebut sebagian tertampung di embung dan saluran irigasi. 

Pasokan air yang masih melimpah mempermudah proses pengolahan lahan. Memanfaatkan alat dan mesin pertanian (alsintan) jenis traktor olah lahan, pekerjaan dapat selesai selama tiga hari.

“Kami menanam varietas padi IR 64 yang memiliki toleransi tinggi terhadap kondisi pasokan air minim dan persiapan fasilitas sumur bor lengkap dengan saluran irigasi untuk mengantisipasi kebutuhan air ketika kemarau,” terang Saman saat ditemui Cendana News, Senin (25/5/2020).

Lukman, petani lainnya di desa yang sama menyebut mulai melakukan pengolahan lahan. Penyiapan lahan memasuki masa tanam gadu telah diantisipasi dengan sumur bor.

“Saya memilih tetap menanam padi karena memiliki fasilitas sumur bor, sebagian petani lain beralih menanam jagung,” terangnya.

Ia menyebutkan, memperhitungkan kearifan lokal masyarakat Jawa memakai sistem kalender. Sebab saat tahun genap seperti pengalaman empiris tahun sebelumnya, meski musim kemarau pasokan air mencukupi. Berbeda dengan tahun ganjil yang dominan memiliki suhu udara kering dan pasokan terbatas, tahun genap diyakini menjadi waktu tepat untuk menanam padi.

Sejumlah persiapan teknis telah dikonsultasikan dengan penyuluh pertanian. Meski telah memiliki sumur bor namun ia menegaskan pemilihan bibit toleran lahan kering bisa menjadi kunci sukses masa tanam gadu. Sementara untuk menjaga lahan tetap basah disiapkan lahan dengan taburan pupuk kandang kotoran sapi, kerbau.

“Kotoran ternak yang telah berubah menjadi tanah mampu mempertahankan kondisi tanah tetap bagus untuk tanaman padi meski air kurang,” beber Lukman.

Wartinah dan Suyanti buruh tanam atau tandur menyebut semester kedua tahun ini petani dominan mulai memasuki masa tanam. Satu hari proses tanam ia dan rekan rekannya mendapat upah sebesar Rp65.000.

“Saat hari raya Idul Fitri karena tahun ini tidak ada tradisi kunjungan kami memilih bekerja di sawah,” terang Wartinah.

Sistem upahan pada masa tanam gadu kerap dilakukan sebagian wanita untuk mendapatkan penghasilan. Percepatan masa tanam oleh sebagian petani membuat buruh tanam banyak dicari. Satu kali penanaman dibutuhkan sekitar lima orang.

Lihat juga...